Sentuhan-sentuhan moral saya dapatkan setelah pendakian gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, pada 18 Agustus 2019. Apa yang saya tulis pada artikel Jangan Upacara di Gunung benar-benar terjadi. 

Tumpukan sampah tampak terlihat di setiap pemusatan massa. Bagaimana ini bisa terjadi? Euforia perayaan Kemerdekaan RI yang menyisakan polutan. 

Sebagai pendaki gunung, paling tidak memegang konsep dan filsafat gunung sebagai bagian dari kosmos yang berharga. Konsep ini hanya didapat dari upaya penggalian ilmu pengetahuan yang meliputinya. Dengan begitu, rasa memiliki (sense of belonging) terhadap gunung begitu radikal hingga tingkat supranatural.

Seperti halnya filsafat gunung di Yunani Kuno, mereka meyakini bahwa para Titan bermarkas di Gunung Othris yang dipimpin oleh Atlas. Pun, di Gunung Olimpus yang dipimpin oleh Zeus. 

Para Olympians adalah sekelompok dewa yang berkuasa ke atas alam semesta setelah kekuasaan para Titan. Mereka merupakan generasi ketiga para dewa. Para dewa ini dipanggil "Olympians" karena mereka tinggal di istana yang dibangunkan di puncak Gunung Olympus.

Gunung Olympus adalah rumah bagi 12 dewa-dewi utama. Sedangkan bagian utara kaki Gunung Olympus dianggap sebagai rumah para Nine Muses, kesembilan putri Zeus yang ahli dalam segala macam seni.

Dengan pemahaman di atas, maka secara tidak langsung memberikan efek gentar terhadap segala perusakan dan upaya yang mengganggu kelestarian gunung-gunung di wilayah Yunani, alias keramat.

Nilai keramat adalah salah satu teknik menjaga sense of belonging. Bagi saya pribadi, adalah hal bijak untuk mendalami filsafat gunung sesuai dengan keyakinan masing-masing. Semisal filsafat Gunung Putih, sebagaimana filsafat Gunung Olympus dan Gunung Othris.

Sebelum masuk ke hal tersebut, pendaki paling tidak memahami makna gunung itu sendiri. Karena basis saya Alquran, maka saya gali lewat ayat-ayatnya. Semua berhak menggali sesuai dengan keyakinannya. Yang penting menghasilkan sebuah sense of belonging untuk pelestarian.

Lafadz “jibal” (gunung) adalah efek dari sifat bahasa Arab yang inflektif (inflecting language). Artinya, pembentukan kata barunya cukup beragam, dan kata tunggalnya mempunyai sejumlah arti.

Setelah saya hitung manual dengan teknik baca alhadr (dengungan lebah), Alquran menyebut “gunung” dengan tiga perkataan bahasa Arab dengan perincian sebagai berikut:

  1. bentuk jamak jibal mengalami repetisi penyebutan (tikror) sebanyak 32 kali
  2. bentuk tunggal jabal mengalami repetisi penyebutan (tikror) sebanyak 5 kali
  3. bentuk rowasi mengalami repetisi penyebutan (tikror) sebanyak 9 kali


Alquran tidak membedakan arti jabal, jibal, ataupun rowasi secara tajam. Paling pembedaan hanya secara kelas kata saja, seperti Jibal untuk bentuk jamak dan jabal untuk bentuk tunggal.

Perubahan lafaz Jabal (gunung) menjadi Jubail (gunung kecil) melalui proses tashghir sama sekali tidak ditemukan dalam Alquran. Secara bahasa, tashghir berarti mengecilkan.

Jadi kata “gunung” di Alquran tidak membedakan mana “bukit” dan mana “gunung”. Dengan melihat tidak adanya proses tashghir, maka adalah bijak dengan mengartikannya sebagai “gunung” saja daripada “bukit”.

Oleh karena itu, baik gunung ataupun bukit, tanpa adanya diskriminasi dan pembedaan sisi terminologisnya, upaya pelestarian dan penjagaan kebersihan tidak tergantung pada istilah mana gunung dan mana bukit.  

Lafadz “rowasi” mempunyai makna padanan “gunung” atau “peneguh” yang merujuk pada fungsi gunung sebagai pasak. Lafadz “rowasi” mempunyai derivasi akar kata (root word) berjenis triliterasi huruf ra-sin-alif dengan arti  “mirsa” (jangkar) dan “mursa” (berlabuh).

Dengan deskripsi modern bahwa Gunung (rowasi) dengan segala unsur geologis dan vulkanisnya yang menancap bumi sebagai jangkar kokoh penyeimbang geografis. Melihat arti terminologis tersebut, nyatalah bahwa peran penting gunung sebagai peneguh bumi.

Setelah memahami gunung yang menancap di bumi, selanjutnya kita tingkatkan pengetahuan kita dengan gunung yang tidak menancap di bumi sebagai lanjutan sense of belonging. 

Apakah itu? Gunung Qaaf atau Gunung Putih. Ia adalah gunung yang dibangun Allah dari batuan Yakut yang terletak di antara langit dan bumi.

Informasi tentang Gunung Putih ini ada di beberapa penjelasan tafsir-tafsir terkenal. Semisal pada Tafsir Imam Qurtubi, yang beropini bahwa Gunung Putih ada di alam malakut. Dan beberapa mufasir, seperti Imam Ibn Katsir dan Imam Thabari, menafsirkan makna firman Allah lafaz Qaaf ( pada surat Qaaf ) adalah Gunung Putih.

Dari Ibnu Abbas: Allah telah menciptakan sebuah gunung yang disebut Qaaf yang mengelilingi dunia, yang akarnya berasal dari batu di mana bumi berpijak. Setiap kali Allah ingin mengguncang sebuah kota, Dia memerintahkan gunung itu untuk mengguncangkan akarnya yang berada di kota itu. 

Itulah sebabnya gempa bumi dapat terjadi di beberapa tempat terpisah dari yang lain. Sedang Tafsir Maalim al-Tanzil menjelaskan: Qaaf adalah sebuah gunung zamrud hijau yang mengelilingi bumi seperti dinding yang mengelilingi sebuah taman. Sisi langit ditegakkan di atasnya, sehingga ia berwarna biru.

Dengan memahami filsafat Gunung Putih, paling tidak bisa menimbulkan efek gentar yang positif (keramat) terhadap perlakuan gunung-gunung di bumi sebagai akar Gunung Putih yang menancap kokoh.