Salah satu hal yang membuat saya terkagum-kagum saat membaca suatu buku ataupun artikel ialah bahasa yang digunakannya dilimpahi oleh istilah-istilah ilmiah, sekalipun hal itu jugalah yang membuat saya jadi kebingungan saat membacanya.

Selain itu, saya juga suka penasaran dengan para penulisnya. Kok bisa-bisanya mereka begitu lihainya menyelipkan istilah-istilah yang keren (menurut saya) itu ke dalam berbagai tulisannya. Saya ingin tahu metode apa yang selama ini mereka terapkan. 

Bahkan, saya memimpikan untuk bisa bertatap muka langsung dengan mereka, ingin berguru langsung kepada mereka berharap agar juga bisa menulis sekreatif dan sekeren mungkin seperti mereka.

Suatu waktu, saya kemudian mencoba untuk menulis sebuah artikel. Saya berencana dengan sebisa mungkin akan menyertakan istilah-istilah ilmiah yang banyak di dalamnya. 

Kendatipun yang demikian tidak mudah untuk saya lakukan, namun berbekal adanya keinginan kuat untuk memiliki sebuah tulisan yang sarat akan istilah-istilah ilmiah, membuat saya tetap terdorong untuk melakukannya.

Hingga kemudian jadilah sebuah artikel yang saya tulis. Bahasa yang digunakannya saya selipi dengan istilah-istilah ilmiah yang banyak. Meskipun sebagian besar di antaranya saya tidak ketahui apa arti sebenarnya. 

Benar atau salahnya urusan belakang. Alih-alih mementingkan proses, bagi saya hasil adalah tujuan yang utama. Paling tidak, saya juga bisa menulis dengan menggunakan gaya bahasa yang bermuatan istilah-istilah ilmiah. Itulah yang saya inginkan (jangan dicontoh yak).

Artikel tersebut kemudian saya upload ke akun Facebook saya. Berharap banyak orang yang akan membacanya, menanggapinya, lalu kemudian membagikannya. 

Tak berselang lama, di kolom komentar salah seorang teman muncul mengomentari tulisan yang saya upload tersebut. Dia adalah orang yang cukup dikenal pandai dalam menulis. Beberapa tulisannya sudah dimuat di banyak media, massa maupun cetak.

Menurutnya, artikel yang saya tulis tersebut memiliki banyak sekali kekurangan, utamanya dalam hal pemilihan diksi. Alih-alih memberikan sebuah pujian terkait banyaknya istilah-istilah ilmiah yang saya gunakan, ia justru malah menganjurkan untuk sebisa mungkin tidak menyertakan istilah-istilah ilmiah saat menulis.

Tentu saja saya tidak berkomentar apa-apa. Kedudukan saya dengannya terlampau begitu jauh. Ia adalah seorang penulis yang cukup dikenali oleh banyak orang. Sementara saya, hingga saat ini tidak satupun tulisan saya yang berhasil dimuat oleh media manapun.

Melalui WhatsApp, Ia kemudian mengirimi saya sebuah contoh esai dengan bahasa yang sangat enak untuk dibaca, yang tentu saja tanpa embel-embel istilah-istilah ilmiah. Saya membacanya dan membandingkannya dengan tulisan sendiri yang saya upload tadi. 

Bukan main saya terkejutnya. Saya kemudian tiba-tiba merasa ingin menjelek-jelekan bahkan ingin menghina tulisan saya sendiri. Betapa saya selama ini telah dininabobokan oleh istilah-istilah ilmiah yang (menurut saya) sangat keren itu. 

Tulisan yang dikirimkan oleh teman saya tadi justru malah lebih menarik dan lebih mudah untuk saya pahami ketimbang saat membaca tulisan sendiri. 

Saya dibuat pusing dengan banyaknya istilah-istilah ilmiah yang berseliweran di dalam tulisan saya. Terlebih lagi tidak semuanya saya ketahui artinya. Sehingga tidak heran jika terdapat beberapa kalimat dan paragraf yang tidak sinkron antara satu dengan yang lainnya.

"Saaammpah" begitu kata saya sambil memandangi tulisan milik sendiri.

Hingga suatu ketika salah seorang teman menghadiahi saya sebuah buku. Dia adalah salah satu kakak kelas saya waktu di MTS dulu. Dia termasuk orang yang sangat suka membaca buku. Saya sering melihat foto-fotonya sambil membaca buku, baik itu di Facebook, WhatsApp, maupun Instagram. 

Katanya, dia punya banyak koleksi buku di rumahnya. Banyak teman-temannya yang sering meminjam buku-bukunya. Bahkan sampai-sampai sering ada yang lupa untuk mengembalikannya. 

Tanpa saya minta, bahkan menyinggung pun juga tidak pernah, sebuah buku diberikan secara cuma-cuma kepada saya. Tentu saja saya sangat bersyukur atas hal itu. Terlebih lagi beberapa minggu belakangan ini saya tidak pernah lagi baca buku.

Judul buku itu adalah "Komunikasi Kontekstual". Ditulis oleh Wahyu Wibowo seorang pengajar Filsafat Bahasa asal Jakarta. Buku ini pula yang seolah-olah semakin membenarkan bahwa sebuah tulisan, baik itu yang berupa buku ataupun artikel memang tidak semestinya dilumuri dengan istilah-istilah ilmiah. 

Di dalam buku ini, ada ungkapan menarik dari Ludwig Wittgenstein, seorang guru besar filsafat bahasa Universitas Cambridge Inggris. "Pertanyaan-pertanyaan filosofis serta yang bersifat akademis mesti dibingkai melalui diksi atau pilihan kata yang tepat."

Pikiran saya langsung tertuju kepada tulisan-tulisan yang gaya bahasanya banyak mengandung istilah-istilah ilmiah. Bahkan, saya sering menemukan terdapat beberapa penulis tidak menjelaskan lebih jauh terkait istilah-istilah yang tercantum di dalam tulisannya. 

Tentu saja yang demikian akan membuat banyak pembaca merasa kebingungan saat membacanya. Apa lagi bagi pembaca pemula seperti saya, yang untuk memahami satu paragraf saja butuh waktu yang lama (padahal bahasa yang digunakannya sudah sangat sederhana), apatah lagi saat disertai dengan istilah-istilah ilmiah. 

Ludwig Wittgenstein selain sebagai seorang guru filsafat bahasa, ia juga adalah orang yang mencetuskan aliran Filsafat Bahasa Biasa. Aliran ini merupakan salah satu dari tiga aliran utama penopang aliran Filsafat Bahasa, yang lahir di Inggris pada awal abad ke-20. Kedua aliran lainnya adalah Atomisme Logik dan Positivisme Logik.

 Pokok pembahasan aliran ini tertuju kepada bahasa sehari-hari. Menurut aliran ini, bahasa bukan hanya sekedar alat komunikasi semata. Lebih dari itu, bahasa adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan sehari-hari kita.

Menurut Wittgenstein, sebuah kata bebas penggunaannya dalam berbagai aktivitas kehidupan, asalkan sesuai dengan konteksnya. Sebagai penegasan, Wittgenstein kemudian memperkenalkan sebuah istilah yang ia sebut dengan "tata permainan bahasa".

Tata permainan bahasa adalah berbagai bentuk ungkapan bahasa yang sesuai dengan konteks masyarakat penggunanya. Menurut aliran Filsafat Bahasa Biasa, di dalam kehidupan kita terdapat banyak sekali bentuk-bentuk tata permainan bahasa.

Seperti berpuisi, berpidato, berkampanye, berdiskusi, dan seterusnya semuanya memiliki bentuk bahasa masing-masing, yang tentu saja sesuai dengan konteks masyarakat penggunanya. 

Seorang sastrawan misalnya. Bahasa yang digunakannya saat berpuisi tentu saja berbeda dengan bahasa yang digunakannya saat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Bukan karena tidak konsisten dalam berbahasa ataupun menjadikan bahasa sebagai perantara untuk mencapai tujuan pribadi. Melainkan demikianlah tata permainan bahasa yang berlaku di dalam kehidupan sehari-hari kita.

Di dalam buku ini, Wittgenstein juga mengkritik keruwetan bahasa yang terdapat di dalam filsafat. Menurutnya, hal yang demikian terjadi karena para Filsuf cenderung menggunakan istilah-istilah yang maknanya sulit dipahami.

Misalnya kata-kata yang paling sering dijumpai dalam bahasa filsafat, seperti "kebaikan", "keberadaan", "kebenaran". Makna "kebaikan" dalam bahasa filsafat tentu saja berbeda dengan kebaikan yang umumnya kita pahami selama ini.

Bagi kita kaum awam, salah satu bentuk kebaikan adalah saat kita membantu orang yang kesusahan. Tapi apakah yang demikian dalam filsafat juga seperti itu? Belum tentu.

Sehingga hal inilah yang membuat banyak orang berpendapat bahwa bahasa filsafat sangat sukar untuk dipahami. Maka jangan heran jika sampai saat ini kita masih saja sering mendengar adanya beberapa orang yang enggan untuk mempelajari filsafat.

Oleh karena itulah mengapa kemudian Wittgenstein mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan filosofis dan yang bersifat akademis mesti dibingkai dengan pilihan kata yang tepat. Karena di dalam kehidupan kita terdapat banyak sekali model penggunaan bahasa yang beragam, yakni tata permainan bahasa. 

Lalu, bagaimana dengan tulisan-tulisan yang selama ini saya puja-puji, yang isinya banyak ditaburi dengan istilah-istilah ilmiah? Jika benar tulisan-tulisan itu ditujukan kepada kalangan luas, mengapa lantas harus menggunakan istilah-istilah ilmiah segala yang justru malah membuat banyak pembaca jadi merasa kebingungan?

Misalnya, alasannya karena istilah-istilah ilmiah lebih tepat untuk mewakili maksud yang ingin disampaikan oleh si penulis. Tapi kata teman saya tadi yang pernah menganjurkan saya untuk tidak menyertakan istilah-istilah ilmiah saat menulis, banyak juga kok tulisan-tulisan yang gaya bahasanya sederhana, enak dibaca oleh banyak orang, serta tanpa embel-embel istilah-istilah ilmiah.

Saya menduga, jangan-jangan para penulis pecandu istilah-istilah ilmiah itu hanya sekedar menginginkan kepopularitasan semata. Saya segera membayangkan betapa Wittgenstein akan sangat marah besar saat mengetahui keberadaan "jenis" penulis seperti mereka.

Seorang penulis harusnya bisa menyesuaikan bahasa yang digunakannya dalam sebuah tulisannya dengan konteks bahasa yang berlaku di masyarakat luas. Sebagaimana adanya tata permainan bahasa yang berlaku di dalam kehidupan kita.

Ia harus mampu memahami bentuk bahasa seperti apa yang jika ia tuangkan dalam sebuah tulisan akan diterima dan dipahami dengan baik oleh setiap kalangan. 

Inilah yang dalam aliran Filsafat Bahasa Biasa disebut dengan "Kesadaran Berbahasa". Yakni, kemampuan untuk memahami konteks-konteks bahasa dalam berkomunikasi sehari-hari. 

Tulisan mestinya juga bisa dipahami sebagai media untuk menyalurkan berbagai hal yang positif ke banyak orang. Melalui tulisan orang lain bisa jadi tahu hal-hal yang selama ini mereka tidak ketahui. Sehingga, mereka pun bisa mengambil manfaat dari tulisan yang kita miliki.

Namun, apakah yang demikian bisa terwujud jika isi tulisan kita bermuatan istilah-istilah ilmiah yang banyak, yang bagi banyak orang hanya akan membuat mereka jadi tidak paham-paham.

Alih-alih akan tercerahkan, bisa-bisa mereka justru malah akan tersesatkan. Tulisan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami namun disertai dengan argumentasi yang kuat lah yang justru paling diincar oleh semua pembaca.

Sebab sejatinya semua orang hanya ingin memahami suatu perkara dengan cara yang paling mudah, yang tentu saja dengan melalui bahasa yang mudah untuk dipahami. Bukan dengan bahasa yang bikin nyesek banyak orang saat membacanya.

*****

Suatu pagi saya pergi ke pasar yang tidak jauh dari kampung saya. Di sana, saya mencari-cari tempat penjualan buku. Mana tahu ada buku dengan judul yang cukup menarik untuk saya baca.

Namun ternyata alih-alih, yang saya temukan justru malah buku-buku dengan sampul yang membuat saya hanya bisa bergeleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, mulai dari sampul bagian depan hingga belakang semuanya bermuatan istilah-istilah ilmiah yang cukup banyak. 

"Benar-benar saaammpah." Kata saya saat itu sambil memandangi buku-buku yang dulunya sangat saya kagumi itu.