Bukan hanya kopi yang punya filosofi, tulisan pun demikian. Karena keduanya adalah benda yang filosofis, maka secangkir kopi menjadi teman saat menulis akan terasa istimewa.

Kali ini saya tidak akan mengulik filosofi keduanya. Tetapi hanya filosofi tulisan yang akan diulik. 

Mengapa filosofi kopi tidak turut serta diulik-ulik? Itu karena filosofi kopi sudah sering diulik-ulik banyak orang bahkan sudah difilmkan. Sehingga saya berasumsi bahwa sudah banyak orang yang paham tentangnya.

Sementara itu, pengetahuan orang akan filosofi tulisan relatif lebih terbatas dibanding filosofi kopi. Hal ini karena relatif jarang diulik-ulik dibanding filosofi kopi. Padahal sebagai dua hal yang saling melengkapi, maka akan menjadi istimewa jika pengetahuan akan keduanya setara.

Hal itulah yang menjadi alasan mengapa tulisan ini hanya akan fokus mengulik-ulik filosofi tulisan. Harapannya adalah agar semakin banyak penulis yang mengamalkan filosofi tulisan ketika menulis karya. Sebagaimana mereka mengamalkan filosofi kopi ketika menyeruput secankir kopi saat menulis.

Dalam tulisan tak hanya sebatas kata-kata yang terhubung. Tetapi lebih dari itu, tulisan juga dapat menghubungkan tautan yang terputus dan/atau menjadi penjaga tautan agar tak terputus. 

Setelah menjadi bapak beranak dua, saya baru bisa kembali menemukan nasi kuning masa kecil yang puluhan tahun saya cari,” Kata Rimba yang saat ini menetap di kota ujung timur Indonesia.

Semua itu berawal dari sebuah tulisan yang mereview nasi kuning yang dibacanya di blog temannya. Karena penasaran, Rimba pun mencoba nasi kuning dimaksud. Dan ternyata, nasi kuning itulah yang selama ini dicari-cari. 

Nasi kuning yang menghilang sejak hari dimana pasar tempat bapaknya berjualan dilahap si jago merah. Saat itu, prinsip Rimba kecil adalah pasar beserta lapak bapaknya berjualan boleh hilang tetapi nasi kuning yang dilahapnya setiap pagi tidak boleh demikian. 

Untuk itu, sejak pasar terbakar, Rimba terus mencari-cari di mana Ibu Aji yang menjajakan nasi kuning tersebut pindah berjualan.  Namun hingga dia harus pindah kota atas alasan pendidikan, dia tetap tidak menemukannya.

Barulah setelah dia kembali ke kota ini lagi dan anak sulungnya telah seumuran dengannya saat nasi kuning itu menghilang, dia kembali menemukannya.  Itu pun dipertemukan lewat tulisan. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya.

Di hari-hari sekarang, Rimba kembali terhubung dengan masa lalunya yang sempat hilang. Hampir tiap pagi tak terlewatkan tanpa melahap nasi kuning itu. Bedanya, kalau dulu dia melahap sendiri, sekarang dia melahapnya bersama dua anak dan satu istrinya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dibawah komando Presiden Jokowi yang juga rimbawan, melakukan reformasi paradigma pengelolaan hutan rimba dari konvensional ke perhutanan sosial. Perubahan ini selanjutnya membawa implikasi berupa berubahnya kebijakan di kementerian ini. 

Jika dulunya kementerian ini kebanyakan fokus mengurusi satwa, tumbuhan dan ekosistem hutan, maka sekarang domain urusannya diperluas hingga manusia yang berelasi dengan rimba.

Karena pengelolaan hutan juga mengurusi manusia yang tertaut rimba, maka rimbawan pun harus mencari referensi sejarah tentang perhutanan sosial. Referensi sejarah ini dijadikan penuntun dalam menentukan kebijakan yang akan diputuskan untuk dijadikan kenyataan. 

Meskipun perhutanan sosial telah mengemuka sejak tahun 1960-an, namun referensi sejarah masa lalunya relatif terbatas. Untungnya ada tulisan almarhum Jack C. Westoby, ekonom FAO yang cukup lengkap tentang perhutanan sosial di masa lalu. 

Maka jadilah buku itu sebagai penghubung teoretis antara perhutanan sosial di masa lalu dengan perhutanan sosial yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang.

Tulisan tidak hanya menghubungkan manusia dalam dimensi waktu seperti yang telah dibahas sebelumnya tetapi juga menghubungkan manusia dalam dimensi ruang. Ambil contoh Al-Qur’an yang menjadi penuntun hidup ummat Islam. 

Seperti apa gerangan tautan persaudaraan ummat Islam saat ini, jika seandainya Nabi Muhammad tidak memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk menulis ayat demi ayat Al Qur’an. Bisa jadi ummat Islam di Eropa, Asia, Amerika, dan Afrika saat ini berada pada kondisi terpecah belah karena perbedaan referensi Al Qur’an yang dipegangnya.

Karena perpecahan itulah, bisa jadi ummat Islam di Eropa tidak bisa menunaikan sholat di masjid-mesjid Asia. Bahkan bisa jadi jumlah rakaat sholat ummat Islam pun beda-beda yang kesemuanya berartikulasi membentuk kekacauan beragama. Kekacauan beragama yang selanjutnya menyebabkan tautan persaudaraan ummat Islam antar benua terputus.

Tapi Alhamdulillah semua itu tidak terjadi berkat dituliskannya Al-Qur’an di pelepah kurma, kulit binatang, bebatuan, dan sebagainya oleh para sahabat. Tulisan yang kemudian menjadi referensi ketika penghafal ragu akan hafalan Al-Qur’annya. 

Berkat Al-Qur’an berformat tulisan yang menghubungkan ummat Islam maka kita masih bisa menyaksikan ummat Islam di Eropa masih sholat dengan jumlah rakaat yang sama dengan ummat Islam di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan tempat lainnya. 

Ummat Islam di Asia masih bisa menunaikan sholat di masjid-mesjid ketika berkunjung ke berbagai tempat di belahan dunia yang kesemuanya berartikulasi merajut tali persaudaraan ummat Islam.

Dari ulik-ulikan di atas, akhirnya ditemukan satu benang merah bahwa dibalik kata-kata yang terhubung membentuk sebuah tulisan, ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya yaitu keterhubungan. 

Dengan demikian salah satu filosofi menulis adalah keterhubungan dengan segala makna di dalamnya. Keterhubungan yang menghubungkan manusia dalam dimensi ruang dan waktu. 

Jadi jika anda ingin menjadi penulis filosofis maka jadikan keterhubungan dengan segala makna di dalamnya sebagai latar tulisan anda. Bukan sebaliknya, melatari tulisan dengan keterputusan. Keterputusan dengan segala makna di dalamnya yang memutus relasi manusia baik dalam dimensi ruang maupun waktu.