Kalau Dewi Lestari (Dee) punya ‘Filosofi Kopi’, saya tak mau kalah. Saya punya ‘Filosofi Poker’. Ya, permainan yang menggunakan kartu remi itu loh. Permainan yang diperkirakan telah berevolusi dari berbagai permainan selama lebih sepuluh abad.

Jika dikaji, banyak hal yang dirasa bernilai positif dari permainan yang menggunakan prinsip-prinsip dasar domino, peringkat kartu kombinasi dan penggunaan ‘gertak’ untuk menipu lawan ini. Saya hobi memainkan Poker di laptop, dan tanpa taruhan uang asli. Pastinya tidak seperti sosok Jim Bennett yang diperankan oleh Mark Wahlberg di film The Gambler. Main Poker untuk me-refresh otak saja.

Tanpa memperpanjang mukadimah, saya jabarkan saja satu persatu menurut apa yang telah saya gali dari Poker. Pertama, setiap pemain memiliki peluang untuk menang walau apa pun kartu yang didapatkannya. Mau kartunya 2 sekop dan 4 wajik, harapan menang tetap ada dibanding pemain lain yang memiliki pair As (dua kartu As/Kartu tertinggi).

Semua tetap ditentukan dari kartu yang dikeluarkan oleh bandar. Bisa saja pemain yang memegang 2 sekop dan 4 wajik berhasil mencapai ‘tangan’ two pair (sepasang kartu dengan nilai yang sama, ditambah sepasang kartu dengan nilai yang sama).

Begitu juga straight (lima kartu senilai secara urut), three of kind (tiga kartu dengan nilai yang sama), full house (tiga kartu senilai dan sepasang kartu lain) atau malah four of kind (empat kartu dengan nilai yang sama dan satu kartu lainnya dengan nilai yang berbeda).

Apa pun kartu yang kita miliki, peluang menang tetap terbuka lebar. Jadi buat apa harus takut dengan kelemahan, kekurangan dan keterbatasan diri sendiri. Nasib baik akan didapatkan dari orang yang kuat untuk terus call, call dan call sampai lima kartu dikeluarkan bandar. Jangan menyerah!

Tapi bagaimana jika sudah terus call, call dan call (ikut taruhan) namun ternyata kartu yang dikeluarkan bandar tidak memihak sedikit pun pada kita? Nah, itu adalah ‘Filosofi Poker’ poin kedua.

Permainan Poker ini tidak serta merta langsung habis seperti melahap agar-agar. Di sinilah kecermatan perkiraan atau insting kita sangat dibutuhkan untuk mengukur bayang-bayang. Banyak dari sebagian orang yang melangkah tanpa mengukur bayang-bayang. Gaya begini jangan coba-coba di permainan Poker, sebentar saja kita bisa berstatus buster (kalah) dan meninggalkan meja dengan muka tertunduk.

Poin ketiga adalah keberanian. Poker adalah permainan yang seringkali menggunakan ‘gertak’. Tumpukan chips di atas meja yang dirasa akan jatuh ke tangan kita bisa saja raib dan berpindah tangan kalau kita termakan ‘gertak’.

Misalnya saja tiga kartu yang telah dikeluarkan oleh bandar adalah 8 wajik, 7 sekop dan 6 wajik. Kita yang memegang pair As kemudian digertak oleh pemain yang memegang 5 wajik. Kita mundur karena pemain itu melakukan all in. Ternyata, dua kartu berikut yang dikeluarkan bandar adalah As wajik dan 2 keriting.

Kita harusnya menang dengan mencapai ‘tangan’ three of kind, tapi apa boleh buat, kita telah memilih untuk fold (mundur). Sebaliknya, pemain yang menggertak kita telah berhasil memenangkan permainan dengan keberanian dari perkiraan ‘tangan’ straight yang akan ia dapatkan.

Selanjutnya, poin keempat. Poker adalah permainan taruhan, maka hati-hatilah dalam bertaruh. Jika memang kita memegang pair As, pair King atau dua kartu poin bernilai tinggi dengan jenis yang sama, maka janganlah gegabah.

Jangan karena telah terbayang untuk memenangkan putaran tersebut, kita malah hilang kontrol dalam melakukan raise (tambah taruhan). Di satu sisi kita bisa saja kalah oleh kartu pemain lain (karena semua pemain berpeluang menang), kemudian di sisi lainnya, dengan melakukan raise atau malah all in (pasang semua), maka pemain lain akan memilih mundur dan kesempatan kita untuk mengeruk chips lawan akan sirna.

Poin kelima adalah ketenangan. Jika memang kartu yang kita dapatkan bagus, tetaplah tenang dan begitu sebaliknya. Tetaplah tenang karena pemain lain akan membaca gerak-gerik kita dan mencari celah untuk mengetahui secara tidak langsung apa kelemahan kartu kita.

Kalau misalnya Poker adalah media sosial, janganlah meng-update status kegalauan yang teramat dalam. Tak berguna. Yang ada teman-teman Anda akan tertawa senang. Seperti Poker tadi, mengumbar kegalauan akan membuat orang lain mengetahui kelemahan kita. Tetap selow, karena badai pasti berlalu.

Poin keenam, jangan terjebak dan jangan tertipu. Banyak dari lawan main kita bersikap menipu. Ketika ia memegang kartu yang jelas-jelas akan menang, tetapi ia menampakkan ekspresi yang rapuh dan memelas. Jangan tertipu dengan gaya begitu. Kalau kita terjebak dan tertipu, bahaya.

Kita akan ‘dipaksa’ oleh lawan main untuk terus mengikuti setiap taruhan (walau sebenarnya kartu kita tidak terlalu memiliki peluang menang). Ujung-ujungnya kita tertunduk lesu melihat lawan tertawa meraup chips.

Di zaman sekarang banyak tipe manusia yang begitu. Merayu, menjebak dan kemudian menjadikan kita korban aksi tipu. Intuisi harus tetap didengarkan karena hanya Anda yang tahu siapa diri Anda dan apa yang mesti Anda lakukan untuk menjalani kehidupan ini.

Harap maklum, ini cuma filosofi-filosofian. Saya bukannya mengajarkan bagaimana bermain Poker yang baik dan benar loh. Tetap intinya bagaimana masing-masing kita bisa mencoba untuk menggali ilmu dari sebuah permainan. Be a winner!