Saya selalu terpesona saat menyaksikan seseorang bermain piano. Terlebih lagi jika yang dimainkan adalah lagu yang tidak asing bagi saya, rasanya saya akan tahan duduk tenang berjam-jam demi mendengarkan alunan musik tersebut. Ada untaian nada dari dalam kotak resonansi piano keluar beterbangan dan seolah jalin-menjalin di udara sambil menari-nari ceria lalu masuk ke otak saya melalui kedua daun telinga ini.

Di mata saya, seorang pemusik itu jenius. Dari sekian banyak tuts putih dan hitam, mengapa yang ditekan oleh jari jemari sang pianis adalah tuts yang itu dan bukan yang lain; mengapa harmonisasi yang dipilih adalah gabungan ini dan ini dan bukan ini dan itu. Begitu pula dengan seorang gitaris, mengapa chord yang dipetik adalah yang satu itu, dan bukan yang satunya.

Jati diri seorang musisi rasanya ada dalam perpaduan antara kecepatan otak dan tangan, ditambah sensitivitas hati dan kepekaan telinga, dan didukung oleh konsentrasi tinggi dan ketenangan batin.

Saya pikir, musik dapat dinikmati utamanya bukan karena tampilan elegan sang pemain musik, meski betul, penampilan sang pemusik juga akan memberikan signifikansi bagi suatu performa musik. 

Namun, menu utama dari sebuah performa musik tentunya adalah permainan musik itu sendiri. Kita mendapatkan sensasi bahagia bukan saat melihat musik, melainkan saat mendengar musik. Lagi pula, musik memang tidak bisa dilihat, hanya bisa didengar, bukan?

Proses mendengar itu terjadi saat gelombang musik yang dihasilkan oleh suatu instrumen tertangkap oleh reseptor pendengaran kita. Kemudian, jika musik yang ditangkap tersebut sesuai dengan selera dan pengetahuan kita, maka itu akan dipersepsikan sebagai musik yang indah, sebagai sebuah keindahan. 

Tampak ada unsur objektivitas maupun subjektivitas. Objektivitas, yaitu harmonisasi nada-nada dan teknik tinggi pemain musik; subjektivitas, yaitu indera pendengaran yang berfungsi dengan baik serta pilihan selera musik masing-masing pendengar. 

Ketika keduanya berpadu, perasaan kagum, senang, dan puas itu akan muncul. Itulah mengapa saat mendengarkan musik favorit, kita akan merasa bahagia.

Tetapi, musik lebih dari sekadar lambang perasaan. Di dalam musik yang baik juga ada pengetahuan. Bahkan, sebuah masterpiece musik dinilai hebat bukan hanya dari perasaan sang evaluator, melainkan karena pertimbangan unsur lainnya, seperti latar belakang pembuatan karya musik, lambang khusus, dan sebagainya.

Sebut saja beberapa contoh misalnya lagu himne It is Well with My Soul gubahan Horatio Spafford, yang lahir justru setelah keempat anaknya mati dalam sebuah kecelakaan kapal laut; karya Johann Sebastian Bach (meski belum rampung) yand diberi judul The Art of Fugue, ternyata di dalamnya terdapat B-A-C-H motif; dsb.

Musik tentu saja lebih kompleks dari serangkaian nada-nada, karena di dalamnya ada manifestasi perasaan, pemikiran, kreativitas, dan kisah dari sang musikus. Tujuan manifestasi tersebut, selain untuk mengekspresikan diri, juga untuk diketahui, meski wujudnya tersembunyi sehingga seringkali disalahmengerti. 

Jadi, apa filosofi musik? Menurut saya pribadi, musik disebut sebagai musik jika ada yang menciptakan, mendengarkan, dan mengevaluasi. Musik dihasilkan dari sumber musik, lalu ditangkap oleh alat penerima bunyi, dan kemudian dievaluasi sebagai suatu alunan nada yang indah. Dengan kata lain, melodi berbeda dengan sekadar bunyi-bunyian cempreng.

Kreatifitas penting dalam proses mencipta musik; konsentrasi dalam proses mendengar; dan motivasi dalam proses menilai/mengevaluasi. Kurang kreatifitas akan menghasilkan musik yang biasa-biasa saja; kurang konsentrasi akan membuat kita tak bisa menikmati musik; salah motivasi akan membuat musik terdistorsi.

Apa yang musik berikan kepada saya? Bukan cuma kepuasan batin, lebih dari itu ialah suatu kesempatan untuk mendengar dan mengapresiasi karya orang lain. Bukan cuma untuk mengambil kenikmatan, melainkan juga memberi pujian. Di sini bau nilai-nilai moral tercium dari dalam musik.

Mungkin karena pada mulanya, semua diciptakan dengan sungguh amat baik, termasuk bunyi-bunyian, daya pendengaran, dan kreatifitas, sehingga penilaian secara moral, yakni tentang baik dan buruk itu bisa inheren di dalam musik.

Mari kita telisik bagaimana filosofi musik memberikan manusia suatu pemaknaan secara moral. Tidak akan ada penjelasan rumus atau formulasi khusus tentang hal ini, saya hanya akan mengulas secara singkat sebuah film yang berjudul Perfect Sense.

Film yang dirilis tahun 2011 ini mengisahkan suatu pandemi aneh di muka bumi. Virus yang dapat mematikan seluruh panca indra tiba-tiba muncul dan merebak dengan cepat ke seantero dunia. Siapa saja yang terjangkit, pada akhirnya akan kehilangan fungsi dari kelima indra yang dimilikinya. 

Penyakit ini memiliki gejala umum, yaitu pertama-tama si penderita akan mengalami satu perasaan tertentu yang ekstrim. Kemudian, setelah beberapa saat ia akan kehilangan salah satu indra.

Dikisahkan bahwa setelah kehilangan indra penciuman dan indra perasa, satu per satu atau sekelompok demi sekelompok manusia di muka bumi mulai merasakan suatu perasaan marah yang luar biasa. Mereka saling berteriak dan melampiaskan emosi kepada satu dengan yang lain. 

Hingga beberapa saat, emosi mereka mulai menghilang bersamaan dengan daya pendengaran mereka, tak ada lagi suara dan bunyi-bunyian yang dapat dikenali. Terasa begitu hening meski setiap orang tampak berkoar-koar.

Ada satu adegan yang terkait dengan musik, yakni ketika orang-orang pergi ke sebuah klub. Mereka yang tak lagi bisa mendengarkan dan menikmati musik itupun lalu menggunakan indra perasa untuk mempersepsi musik, dengan cara merasakan getaran yang dihasilkan oleh alat pengeras suara.

Saya pribadi tidak yakin jika mereka dapat menikmati musik melalui indra perasa. Poin yang ingin saya kemukakan adalah bahwa selagi masih dapat mendengar dan mengeluarkan suara, mari kita ciptakan bunyi-bunyian yang harmonis, indah, dan konstruktif; bukan suara-suara berisik, kasar, dan destruktif. 

Usahakan agar setiap orang yang mendengar dan mengevaluasi bunyi-bunyian yang keluar dari mulut kita merasa bahagia dan puas, dan bukan menjadi jengkel dan kesal dengan kata-kata, nada-nada, maupun bunyi-bunyian yang berasal dari getaran pita suara di tenggorokan kita.

Menutup tulisan ini pula, saya ingin mengajak setiap pembaca untuk menarik nilai filosofis musik ke area yang lebih luas, yakni keindahan. Musik menjadi indah karena ada objek musik yang dipadukan dengan daya pendengaran yang baik dan dimaknai dengan motivasi yang murni. Demikian pula dengan Keindahan, ada sesuatu yang indah, diterima oleh indra penglihat, dan dimaknai dengan hati yang murni. 

Kisah imajinatif di dalam film Perfect Sense tersebut punya nilai reflektif tertentu yang juga berbicara mengenai kehidupan dan keindahan, yaitu bahwa kehidupan manusia dapat menjadi sangat indah dan damai jika kelima panca indera digunakan dengan bijak. Merenung sejenak, rasa-rasanya, indera pendengaran dapat menjadi inisiator dalam hal ini.

Oleh karena itu, mari mendengar.