Sebagai mahasiswa jurusan pendidikan, awalnya saya mengira bahwa yang namanya guru adalah sebagaimana yang dikenal orang pada umumnya, yaitu mereka yang mengajar depan papan tulis dan selalu datang tepat waktu di jam tujuh pagi.

Namun, semesta punya beragam cara untuk membawa kita menyadarkan kita. Salah satunya adalah mempertemukan kita dengan orang tak terduga. Sampai pada kesimpulan bahwa “Semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah”.

Lao-tse, seorang filsuf China di abad keenam, mengatakan: “Seorang pemimpin adalah orang yang melayani.”

Untuk mengubah keadaan, kita harus mau melayani. Pelayanan yang benar-benar mempunyai nilai yang sangat tinggi. Jika kita memberikan waktu, emosi, energi dan usaha, kita benar-benar dapat memberikan dampak pada orang lain dan masalah. Apabila kita bekerja untuk kesejahteraan orang lain, kegembiraan dan kepuasan yang dirasakan sulit diukur.

Mengapa aku bisa menulis tentang ini? Ya, ini karena Allah menganugerahi seorang kurir JNE yang berhati guru inspirasi hidup. Saya selalu berdoa dan berharap agar di kemudian hari dapat berjumpa lagi dengannya.

***

Kala itu, tepatnya setahun lalu pada Oktober 2019, saya mengalami perubahan mindset yang sangat luar biasa. Bahkan tidak berlebihan jika ini dikatakan sebagai obrolan 15 menit yang mengubah hidup dan organisasi saya yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Seperti biasa, selepas pulang dari perkuliahan saya singgah ke Sekretariat HMI untuk bercengkrama dan diskusi ringan dengan beberapa kader saya sambil menunggu waktu maghrib tiba. Layaknya anak indie, obrolan kami pun ditemani oleh kopi panas dan gorengan sebagai cemilan alternatif akhir bulan.

Masih segar dalam ingatan, kala itu kami sedang mendiskusikan tentang dekadensi moral yang terjadi pada generasi muda dengan merujuk pada buku Quraish Shihab yang berjudul “Yang Hilang Dari Kita: Akhlak”.

Obrolan kami sempat berhenti sejenak karena terdengar suara ketukan pintu sekretariat. Ternyata ada kiriman paket untuk teman saya, kebetulan orang yang berhak menerima paket sedang mengurus beberapa syarat kelulusannya, sebab nasibnya di kampus sudah di ujung tanduk.

Saya pun menghampiri abang-abang pengantar paket dari perusahaan yang namanya sudah tersohor, bahkan mewakili segala jasa pengantaran barang. Jika kita menyebut pasta gigi, pasti akan menyebutnya Pepsodent. Jika kita menyebut air mineral merk apapun, tidak jarang menyebutnya Aqua. Begitupun dengan jasa paket barang di seluruh Indonesia pasti mengenal JNE dibanding lainnya. Tapi yang datang ke sekretariat kami memang benar-benar dari JNE.

Paketan pun diserahkan, kemudian saya ditanya perihal nama, guna mengetahui siapa penerima dari barang ini. Sebelum abang-abang itu beranjak pergi, kami ajak bersama untuk menghabiskan makanan yang sudah tersedia di sekretariat kami. Beruntung abang-abang itu berkenan untuk singgah sejenak, kebetulan barang yang mesti diantar pun tinggal sedikit lagi.

Kita tidak pernah tau tentang skenario Tuhan, kapan kita akan beruntung dan kapan kita akan mendapatkan ujian sebagai jalan menuju keberuntungan itu sendiri. Kebetulan saat itu organisasi saya sedang mengalami krisis dari hal komitmen, terlebih di HMI saya menjabat sebagai sekretaris umum yang menjadi penanggung jawab dari keharmonisan di internal HMI. Dan inilah waktu yang direncanakan Pemilik Semesta, saya dipertemukan dengan sosok sederhana yang luar biasa.

Ketika abang JNE itu sudah duduk bersama kami sambil melahap perlahan gorengan itu dengan gigi geraham, karena saking lezatnya. Saya pun membuka obrolan, karna rasa ingin tahu saya terhadap jasa pengantar barang. Dalam alam pikiran saya kala itu, seringkali menilai pekerjaan ini penuh dengan beban, sebab tidak jarang kita lihat motor abang JNE yang penuh dengan barang.

Sebelumnya juga saya pernah mendengar bahwa Direktur JNE, Edi Santoso, beliau mendapatkan anugerah penghargaan dari pemerintah. Namun saya lupa itu anugerah apa. Penghargaan itu diraih pada 2019 lalu seingat saya. 

Kabarnya, Pa Edi Santoso meraih kesuksesan dengan memberikan contoh dalam hal pelayanan. Ia sangat memperhatikan karyawannya dan melakukan yang terbaik untuk melayani mereka. Sikapnya terpantulkan dalam sikap mereka melayani kami dan pelanggan yang lain.

Abang JNE itu ternyata sudah bekerja selama dua tahun lamanya. Ia memiliki ketertarikan dari JNE sebab pimpinan perusahaan selalu berhasil mengajarkan dengan cara memberi pelayanan yang sempurna. Saya jamin, ketika anda mendengar abang JNE ini berbicara tentang memimpin dengan cara memberi contoh dan filosofi pelayanannya, Anda tidak akan dapat menghentikannya. 

Ia begitu bersemangat menceritakan apa yang dikatakannya, “dasar semangat pelayanan kami. Itulah satu-satunya milik kami yang ditawarkan.” Ia mengatakan, “Pimpinan kami berkata kepada karyawannya bahwa kami bekerja bersama-sama. Para pengelola, penyelia, penerima telepon, petugas penghantar, tujuan kami yaitu bekerja untuk membantu para pelanggan kami.” 

Dengan bangga Abang itu berkata, “Banyak orang mengatakan pekerjaan kurir adalah remeh, tapi sebenarnya kami mengenal tentang perubahan kehidupan terhadap banyak orang melalui pelayanan.”

Ketika saya bertanya kepadanya, apa yang dianggapnya dapat mengubah keadaan, dengan cepat ia menjawab, “Oranglah yang mengubah keadaan; ini merupakan usaha sebuah tim. Filosofi saya yang pertama adalah citra (image), yaitu bagaimana kami terlihat dari luar. Lalu profesionalisme, yaitu melakukannya dengan benar tanpa kesalahan. Kemudian pelayanan, yaitu berusaha menghantarkannya tepat pada waktunya.”

Saya mengatakan kepadanya bahwa dengan melihat abang ini saja sudah bagus terhadap antusias pekerjaannya, lalu bagaimana dengan model pelatihan yang dilakukan perusahaan kepada karyawan?

Ia mengatakan, “Sebetulnya tidak sulit. Pimpinannya hanya menerangkan bahwa jasa pelayanan yang meningkat = jumlah pekerjaan yang meningkat = jumlah keuntungan yang meningkat = keuntungan yang semakin besar bagi karyawan.”

Boomerang Pelayanan

Selepas obrolan itu saya benar-benar terinspirasi untuk benar-benar melayani kader-kader saya di HMI, walaupun memang dalam keadaan segenting apapun. Sebab saya pernah memberikan tawaran ke mereka bahwa ketika masuk HMI anda akan seperti ini dan itu. Namun, ketika tawaran saya tidak sepenuhnya jalan, artinya saya hanya memberikan harapan palsu pada orang.

Pepatah arab mengataka ”Man Yazra’ Yahshud”. Siapa menanam, dia memetik. Pepatah ini ada kebenarannya. Jika Anda ingin mempengaruhi orang lain untuk melayani dan membantu Anda mengubah keadaan, Anda akan memperoleh kembali apa yang telah diberikan. 

Etika pelayanan selalu bersifat sebagai boomerang. Ingat bahwa orang tidak akan peduli berapa banyak pengetahuan Anda, sampai mereka mengetahui berapa banyak perhatian anda.

Mereka sebenarnya tidak peduli akan pangkat, titel, atau berapa banyak uang yang adan miliki. Namun yang ingin mereka ketahui adalah apakah anda memperhatikan mereka dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Baru setelah itu, pengetahuan dan pengalaman Anda mempunyai peranan penting.

Menurut Abang JNE itu, dalam hal melayani, tanyakan pada diri sendiri dua pertanyaan. Yang pertama, “Apa yang saya inginkan seandainya saya sedang berhadapan dengan saya?” Hal itu menurutnya akan membawa gagasan melayani pada tingkat yang paling pribadi.

Dan yang kedua, “Siapa sebenarnya yang sedang saya layani?” Jika kepemimpinan hanya melayani sang pemimpin, maka hal itu akan gagal. Pemuasan ego, keuntungan finansial, status dapat merupakan perangkat yang berharga bagi diri sendiri, tetapi jika unsur itu hanya satu-satunya motivasi, pada akhirnya justru itu akan merusak pemimpin itu sendiri. 

Hanya apabila pelayanan untuk kebaikan bersama merupakan tujuan yang utama maka Anda benar-benar seorang pemimpin dengan filosofi pelayanan.

Saya tidak bisa mengingat lebih nasehat-nasehat dari Abang JNE itu, namun isi dari obrolannya mampu mengubah pola kepemimpinan saya di organisasi. Akhirnya saya selalu memberikan reward dan apresiasi dengan pelayanan kepada kader HMI yang aktif dalam kegiatan, sebagai bentuk melayani mereka agar merubah keadaan organisasi menjadi lebih baik dengan mengawali pengembangan pada SDM.

Sungguh ini adalah kebahagiaan yang tidak dapat dibalas sama sekali. Dan setiap kami diskusi di sore hari bersama teman-teman di sekretariat, kami selalu berharap ada yang mengetuk pintu mengantar paket, dan abang JNE itulah yang mengantarkannya.