Mari kita sedikit berbicara dan membahas lebih dalam mengenai kertas. Dibalik bentuknya yang rapuh dan tipis, tercermin filosofi yang besar dan dahsyat. Selembar kertas yang kita remas dan tekuk, tidak akan kembali ke bentuk semula dan meninggalkan bekas berupa lekukan, tergantung seberapa banyak lekukan itu kita lakukan. 

Well, sama halnya seperti cara kerja hutan dan manusia. Penebangan hutan untuk keperluan industri, akan menyisakan luka dan kerusakan yang amat mendalam pada hutan. Sekali pun kita berusaha menanam kembali, hutan tidak akan kembali seutuh sebelum ia tersentuh.

Setiap tahun, Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan. Menurut data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil yang berada di urutan pertama. Padahal, Indonesia disebut sebagai megadiverse country karena memiliki hutan terluas dengan keanekaragaman hayatinya terkaya di dunia.

Menurut data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Indonesia, total luas hutan saat ini mencapai 124 juta hektar. Tapi sejak 2010 sampai 2015, Indonesia menempati urutan kedua tertinggi kehilangan luas hutannya yang mencapai 684.000 hektar tiap tahunya

Memang, jika kita membicarakan mengenai dampak lingkungan dan kaitannya dengan perekonomian, tentu menjadi dilemma yang teramat besar. Namun, bukan berarti tidak ada jalan tengah. Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memegang peranan penting bagi perekonomian Indonesia. 

Berdasarkan data FAO (2013) total nilai ekspor Indonesia pada tahun 2011 untuk produk pulp sebesar 1,554 juta dolar, sedangkan untuk produk kertas sebesar 3,544 juta dolar. Pada pasar dunia, industri pulp dan kertas Indonesia memperlihatkan perkembangan yang cukup baik, tahun 2002 Indonesia menempati peringkat 12 sebagai eksportir kertas dan meningkat ke peringkat 9 pada tahun 2011. Sementara untuk produk pulp, Indonesia mempertahankan peringkat 6 sebagai eksportir pulp dunia dengan total ekspor pulp tahun 2002 sebesar 2.25 juta ton dan tahun 2011 sebesar 2.93 juta ton (FAO 2013) (Wulandari, 2013).

Saat ini industri kertas nasional telah mengekspor hasil produksi ke 90 negara di dunia. Untuk menggapai cita-cita sebagai produsen pulp dan kertas terbesar kedua dunia, produsen terus meningkatkan kapasitas produksi guna mengejar tingkat efisiensi. Dengan kapasitas mesin pulp terpasang sebesar 7,9 juta ton per tahun, Indonesia menempati peringkat sembilan terbesar di dunia. Sementara dengan kapasitas mesin kertas terpasang sebesar 12,9 juta ton per-tahun, Indonesia menempati peringkat keenam dunia (Amna, 2016, industri.bisnis.com).

Industri kertas di Indonesia sudah dapat bersaing di dunia. Untuk tingkat Asia, Indonesia berada di peringkat tiga di bawah Cina dan Jepang. Sedangkan di ASEAN, Indonesia berada di peringkat pertama (2016, economy.okezone.com). Artinya, kebutuhan pulp dan kertas negara-negara ASEAN sangat bergantung pada Indonesia. Tahun 2013, Indonesia mengekspor pulp dan kertas ke Malaysia dengan volume 363,4 ribu ton, Vietnam 356,1 ribu ton, Filipina 163,16 ribu ton dan Thailand 125,86 ribu ton (2014, antaranews.com).

Lalu, langkah apa yang sekiranya dapat dilakukan?

Gunakan Teknologi. Ya, Teknologi!

Sebuah Teknologi yang dikembangkan oleh Epson Corporation telah menemukan suatu Teknologi yang bernama Epson PaperLab. Yakni, sebuah mesin pendaur ulang kertas yang mampu memproduksi kertas baru dari limbah kertas tanpa menggunakan air pertama di dunia. Mesin ini bekerja dengan cara memotong kertas menjadi serat yang kemudian diproses dengan zat untuk mengikat dan menyatukan serat itu kembali, menghapus warna dan mengkalibrasi warna putih untuk hasil akhir. 

PaperLab mampu memproduksi kertas sebanyak 14 lembar per menit atau sekitar 6.720 lembar dalam waktu 8 jam. Berbeda dengan daur ulang kertas manual, Epson PaperLab menghasilkan kertas dengan warna putih sebagaimana kertas HVS. Bahkan, dapat pula mencetak kertas dengan berbagai macam warna.

Menurut data Kementrian Perindustrian, produksi kertas Indonesia mencapai 13 ton. Apabila, setiap perkantoran diharuskan memiliki Teknologi PaperLab, tentu saja penggunaan kertas pada tiap perusahaan dapat terpenuhi dengan melakukan siklus pendaur ulangan. Dibandingkan dengan menyediakan atau membeli kertas baru, tentu hal tersebut dapat menghemat penggunaan kertas 50%.

Pemikiran paperless society sejatinya sampai saat ini tidak terjadi seutuhnya. Karena, pada kenyataannya kebutuhan kertas berbanding lurus dengan modernitas suatu negara. Kebutuhan untuk produk, pendidikan, kuliner, dan aspek lain tidak akan lepas dari kebutuhan kertas. Oleh karena itu, upaya-upaya yang dilakukan harus dilandasi oleh kesadaran untuk terus memperbaiki sistem. Lagi dan lagi.