Kehidupan memiliki batas awal dan akhir. Dalam filosofi sangkan paraning dumadi, manusia mencari tujuan hidupnya yang bermuara pada kembalinya ia kepada asalnya. Batasnya adalah kelahiran dan kematian. Lalu, apa yang hendaknya dilakukan manusia di antara kelahiran dan kematiannya?

Sangkan paraning dumadi mengingatkan manusia akan tanggung jawab kemanusiaan mereka kepada alam semesta. Siklus kehidupan dalam alam menggambarkan pelestarian kehidupan itu sendiri. Lahir, hidup, mati, dan hidup kembali dalam kehidupan yang berbeda di alam yang berbeda pula, mengharuskan manusia berbuat yang terbaik selama berada di dunia dalam wujud raga.

Konsep tentang kembalinya manusia ke wujud asalnya mungkin berbeda-beda di setiap bangsa, namun intinya tetap sama: tidak ada yang abadi di dunia ini sehingga manusia harus mempersiapkan dirinya untuk melakukan perjalanan menuju alam baka, surga, bersatu dengan penciptaNya.

Dalam tradisi pemakaman masyarakat Minahasa kuno, jenazah akan diposisikan seperti bayi dalam kandungan kemudian dimasukkan ke dalam kubur batu yang disebut waruga. Masyarakat Minahasa percaya bahwa orang yang sudah mati telah siap untuk dilahirkan kembali di alam yang berbeda-alam yang merupakan tempat asal muasalnya sebelum menjadi manusia.

Waruga adalah kendaraan yang akan ia gunakan untuk melakukan perjalanan menuju alam baka (kasendukan) dan bersatu kembali dengan pemiliknya yang disebut Empung Walian Wangko.

Mirip dengan sangkan paraning dumadi yang dipercayai oleh masyarakat Jawa dan Bali, konsep tentang kehidupan dalam masyarakat Minahasa yang dikenal dengan kepercayaan Alifuru juga mempercayai bahwa adanya kehidupan setelah kematian raga (tubuh) di mana unsur jasmani dan rohani akan kembali ke jalan pulang masing-masing setelah meninggal.

Pada akhirnya, semua yang dari debu akan kembali menjadi debu. Manusia harus menghadap batas akhir dalam siklus kehidupannya, yakni kematian. Mengingat kita hanya sebagai peziarah di dunia ini, maka apa sebenarnya tanggung jawab manusia bagi kemanusiaan?

Manusia akan selalu hidup berdampingan dengan alam. Saling ketergantungan di antara mereka adalah kelangsungan kehidupan itu sendiri. Manusia sebagai “penggarap” yang dipercayakan Tuhan untuk mengelola alam adalah pemeran utama dalam mewujudkan harmonisasi dengan alam.

Sayang sekali manusia justru menjadi tenaga penggerak utama dalam mengeksploitasi alam dengan ketamakan dan nafsu serakah. Alam pun menjadi marah dan sepertinya tidak lagi ramah kepada manusia.  Apa yang kita sebut “asal mula” yang murni dan jernih telah dikotori oleh manusia yang menyalahgunakan kewenangan yang diberikan Tuhan.

Kerusakan alam ternyata seiring-sejalan dengan kerusakan pikiran manusia. Sederhananya, alam memberikan hasilnya untuk kelangsungan hidup manusia. Apa yang dimakan, apa yang dihirup manusia, semuanya berasal dari alam.

Di saat alam dirusak, maka hasil buminya tentulah tidak sempurna seperti pada mulanya. Manusia memakan hasil bumi yang tidaklah murni, tapi sudah berubah menjadi racun yang menggerogoti tubuh jasmaninya. Manusia dan alam kini saling membunuh.

Siapakah di antara mereka yang akan binasa terlebih dahulu? Yang jelas tidak akan ada yang abadi. Kemungkinan alam akan membinasakan manusia sekaligus dirinya sendiri. Pada saat itulah istilah “kiamat” mungkin benar-benar menjadi kenyataan.

Setelah itu, apa yang akan terjadi dengan semesta? Mungkinkah hal yang baru, yang murni dan suci kembali muncul dalam istilah “langit” dan “bumi” baru; tentunya juga manusia yang baru? Semuanya atas kendali Tuhan sang pencipta.

Dalam filosofi sangkan paraning dumadi, ada ungkapan Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati, yen siro ora ngerti sampurnaning urip (mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna, jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna). Manusia diberi kesempatan untuk menyiapkan bekal hidup setelah kematian; hidup yang sempurna, hidup yang bermanfaat bagi alam dan sesama selama berziarah di dunia.

Dalam filosofi orang Minahasa yang digali oleh Dr. Sam Ratulangi “Si Tou Timou Tumou Tou” (manusia hidup untuk menghidupkan orang lain) merupakan cara terbaik mempersiapkan diri setelah kematian. Apa yang sudah kita lakukan selama berziarah di dunia? Apakah kehidupan kita hanya diselimuti dengan kebencian, keserakahan, kemunafikan, dan segala sikap yang anti kemanusiaan?

Saya teringat akan Christopher McCandless, seorang pemuda mapan yang idealis dan anti kemapanan yang memutuskan meninggalkan kehidupan duniawinya dengan menjadi pengembara dan menggantungkan hidupnya sepenuhnya pada alam.

Kisahnya pernah di filmkan pada tahun 2007 dengan judul Into the Wild. Ia akhirnya meninggal setelah diduga memakan tumbuhan beracun. Dalam catatan hariannya, tertulis: “kebahagiaan hanya akan nyata apabila dibagi.”

Pencarian manusia akan tujuan hidup tidak akan pernah sempurna apabila ia tidak pernah tahu bagaimana hidup yang sempurna itu. Jalan hidup yang tidak sempurna justru adalah kunci mengalami kesempurnaan hidup sebagai peziarah di dunia yang fana ini. Berbagi dengan sesama adalah kebahagiaan dan kesadaran manusia sebagai makhluk rohani; makhluk yang bukan hanya seonggok daging yang bisa binasa.

Christoper McCandless mungkin berpikir bahwa tindakannya sebagai bentuk perlawanan terhadap kemunafikan manusia. Terlepas dari salah-tidaknya keputusannya itu, satu hal yang kita dapat pelajari adalah manusia rindu akan kemurnian dan kealamian hidup seperti “pada mulanya” keselarasan dan keharmonisan antar ciptaan.

Saling ketergantungan tanpa harus menjadi siapa yang paling hebat. Karena semua yang diciptakan memiliki tanggung jawab masing-masing menuju kehidupan yang sempurna; kehidupan yang menjadi berkat bagi siapa pun.

Kehidupan yang sempurna tak harus dicapai setelah kematian. Ia harus dimulai sejak kita dilahirkan ke dunia ini. Kehidupan yang memanusiakan manusia dan melestarikan alam. Kehidupan yang tak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan kelangsungan hidup bersama sebagai komunitas ciptaan sebelum menghadap kepada sang pemilik, yakni pencipta itu sendiri.