Mahasiswa
3 tahun lalu · 1185 view · 7 min baca · Cerpen kata-mutiara-islami-tentang-cinta-_01.jpg
[http://abiummi.com]

Filosofi Cinta

Pagi nan sejuk menyentuh lamunan Philo. Semilir angin pagi merangkak melewati jendela kamar. Ruang pribadi miliknya ini terlihat cukup berantakan, buku-buku novel bertebaran tak karuan. Ia memang makhluk yang cenderung introvert, meskipun kamarnya berantakan namun selama ia tinggal di kamar ini begitu banyak hal unik yang terjadi, mulai dari terciptanya dunia fantasi sampai lukisan-lukisan ajaib yang kadang selalu menghibur pikiran.

Philo tertegun memandang ruang kamar, terhenti. Sorot matanya tertuju pada foto kusam dekat rak buku. Ia beranjak, lantas mengusap sisa debu yang menempel pada bingkai foto itu, tersenyum. Ia teringat sosok gadis yang pernah ia jumpai dulu empat tahun silam. Masa yang kini terlewatkan begitu saja, kenangan cerita cinta yang akan selalu terpahat dalam hatinya.

Ia tak pernah mengerti sejauh ini masih mencintai seorang gadis yang sudah lama tak pernah bertemu, Aliea namanya. Gadis berkacamata, memiliki kepribadian yang gemar membaca buku ini sempat memenjarakan Philo dalam ruang cinta.

Entah mengapa ingatan akan dirinya selalu terbayang dalam lamunan, seluruh perasaannya memaksa ia terbang mengelilingi taman fantasi. Deg! Ia terpaku pada peristiwa panjang antara ia dan Aliea. Jauh menerobos masa lalunya, ia berjalan melintasi garis waktu hingga akhirnya ia terdampar dalam bingkai kenangan.

Tak lama kemudian ia terdiam menatap jendela kamarnya, terpaku. Ia seperti melihat ada sosok Aliea tersenyum kepadanya. Philo berlari, mengambil buku dari lemari lalu seketika ia menulis surat diatas secarik kertas putih.

“Apa kabar kau di sana? Apakah kau masih terjebak diantara ruang dan waktu? Aliea, apakah kau masih mengingatku?

 Ah sudah lah kurasa tak penting kau mengingatku atau tidak. Karena aku pun tak mengerti siapa aku? Yang aku pahami saat ini, diriku hanyalah makhluk yang selalu terikat akan cintamu.

Salahkah bila aku masih mencintaimu?  Aku tak berharap kau membaca surat ini, aku hanya berharap kau memikirkan aku bukan makhluk yang bernama Philo. Bila engkau enggan menjawab suratku ini pun tak apa, aku tak ingin engkau terpakasa memikirkan cinta. Kekasihmu, Philo”

Philo merasa gamang, tak habis pikir, hendak kemana surat itu harus dikirim? Kepada dewa langit kah? atau kepada barisan awan pagi yang tak hentinya berarak melintasi pikiran. Mungkin, melemparnya ke luar jendela adalah pilihan terbaik baginya. Ia berharap semoga angin dapat membantu menyampaikan rasa rindunya pada gadis yang sudah memenjarakan alam bawah sadarnya, Aliea.

Philo melemparkan surat itu keluar jendela, ia lelah dengan semua istilah cinta yang hanya membuatnya semakin tertekan, tertekan akan cintanya. Semakin ia memikirkan kehadiran Aliea semakin ia merasa gila, mabuk cinta.

Hembusan angin pagi meniup daun-daun kering yang berguguran. Sejenak Philo memejamkan mata, mencoba tertidur. Namun, desir angin menerobos jendela kamarnya hingga membawa beberapa daun kering menyentuh wajahnya. Ia mengusapnya, akan tetapi diantara daun kering berjatuhan ada selembar kertas berwarna jingga yang membuatnya terkejut. Ia melihat goresan tulisan kecil diatas daun itu.

”Philo, sejujurnya aku tak ingin membalas suratmu. Namun ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Apakah kau mengerti antara cinta dan realitas dunia ini? aku ingin kau menjawabnya untuk memastikan bahwa kau masih punya alasan mecintaiku sehingga aku bisa memahami lagi arti cintamu.

Tak usah peduli di mana aku berada entahlah aku pun tak mengenali tempat ini. Aku pun tak begitu paham apakah ini disebut tempat ataukah hanya perpaduan antara ruang dan waktu. Kuharap kau berkenan membalas suratku ini, Aliea”

Philo mematung disamping jendela kamarnya, ia tak mengira ada seseorang yang berani menulis surat itu untuknya. Ia memandang seluruh sudut taman mencari sosok gadis yang mengaku dirinya Aliea, namun tak sedikit pun yang menunjukan adanya gerak manusia.

Ia merasa bingung, dalam kebingungannya ia teringat buku filsafat yang pernah ia baca “Bukankah kebingungan itu akan membawa kita pada suatu pertanyaan yang bermuara pada  jawaban yang bersifat hakiki”. Entahlah semuanya terlihat aneh. Benarkah Aliea mengirim surat ini? Gumam Philo dalam hati. Ia mencoba untuk menghiraukan surat itu lalu kembali tertidur diatas ranjang tempat tidurnya.

 “Tok...Tok..” Terdengar seperti ada yang mengetuk pintu kamarnya.

 “Iya, sebentar” jawab philo singkat.

Philo bergegas bangun dari tempat tidurnya, dengan langkah malas ia berjalan membuka pintu kamar. Dan ternyata ibunya sudah berdiri didepan pintu kamar sembari tersenyum.

“Ada apa mah? Aku hari ini kuliah libur, aku pengen istirahat.” Tanya philo pada mamahnya dengan nada malas

“Iya tau, sebentar dulu tadi ada tukang pos nganterin surat ini katanya ditunjukan untukmu Philo” jawab mamah philo menyodorkan surat.

Philo melihat bagian luar surat yang ditujukan untuknya, saat membaca pengirimnya ia tersentak, bingung bukan main ternyata pengirimnya itu Aliea.

“Kenapa Philo, kamu kok keliatan aneh gitu?” tanya mamahnya saat melihat tingkah philo.

 “Oh, gapapa kok. iya udah makasih ya mah, aku pengen istirahat dulu. Hehe”

Philo menutup pintu kamarnya, lalu berbaring lemas diatas ranjang. Ia merasa kebingungan siapa sebenarnya yang mengirim surat ini. Apakah mungkin Aliea? Mengapa bisa terjadi begitu saja? Atau jangan-jangan hanya kerjaan orang iseng tapi jika memang iya mengapa sampai sejauh ini. Rasa penasaran itu semakin menggelayuti pikiran. Dengan terpaksa ia membuka surat itu perlahan.

“Philo, mengapa kau enggan membalas surat dariku? Apakah kau membenci keberadaan diriku ini. Ataukah kau meragukan lembaran surat cintaku ini. Kuharap kali ini kau membalas suratku, karena aku butuh kepastian bukan keragu-raguan. Kekasihmu yang mungkin terlupakan, Aliea”

Philo merasakan pikirannya tak karuan, aneh. Dalam benaknya ia masih memikirkan si pengirim surat, siapa dia yang mengirim surat ini. Berani sekali ia mengaku sebagai Aliea, atau apakah mungkin dia memang Aliea sungguhan. Philo kembali melamun, memejamkan mata untuk sejenak. Dalam pikirannya terlintas bayangan Aliea tersenyum mengelilingi lingkaran penasaran.

Philo kembali membuka matanya, ia teringat perjumpaan terakhir antara dirinya dengan Aliea yang terlukiskan dalam guratan kenangan-kenangan bahagia, sedih dan banyak hal ajaib yang terlewatkan begitu saja. Philo mengambil pena miliknya lantas ia membalas surat itu.

 “Salam, Apakah kau benar Aliea-ku? yang dulu pernah mengukir kenangan bersamaku. Jika memang benar kau Aliea-ku maka ijinkan aku untuk menjawab seluruh pertanyaan dari surat-suratmu itu.

Sejujurnya Aku tak bermaksud untuk membencimu, tak pernah terlintas dalam pikiranku untuk meragukan keberadaanmu meskipun terkadang di sini aku melamun mengapa bisa terjadi begitu saja? Entah mengapa aku tak tertarik dengan apa yang kau sebut cinta dan realitas dunia ini, aku pun tak mengerti mengapa cinta harus butuh alasan. Padahal aku mencintaimu tanpa alasan, apakah itu tidak cukup?

 “Aku ingin bertemu denganmu, melihat senyummu secara empiris dan bisa merasakan kehadiranmu dalam dunia materialis. Apa kau bersedia Aliea? Aku tak akan memaafkanmu jika kau memilih tak bisa bertemu denganku. Dari Philo, yang tengah merindukanmu”

Philo memasukan surat itu dalam lembaran amplop berwarna biru, kemudian ia melipatnya menjadi pesawat terbang dan melemparkannya keluar jendela. Pesawat kertas itu terbang, terbawa hembusan angin yang cukup kencang, jauh mengelilingi taman rumahnya hingga akhirnya jatuh dibelakang pepohonan.

Philo menutup jendela kamarnya, ia merasakan angin semakin dingin. Ia merapihkan seluruh buku yang bertebaran tak karuan, lalu memasukannya dalam rak buku.

“Aliea, apakah mungkin kau akan menemuiku?”gumam Philo dalam hati. Seketika dalam lamunan wajah Aliea menari-nari dalam pikiran, senyumnya menggelayuti lamunan. Guratan kenangan terasa membekas dalam ingatan. Dalam lamunan panjang tiba-tiba ia mendengar suara gadis, terdengar samar namun sepertinya Philo mengenali suara itu.

Philo, apakah itu kau....?Sapa suara gadis yang terdengar samar

Siapa? Apakah engkau Aliea?Philo mencari sumber suara itu, lalu membuka jendela kamarnya, seketika itu ia melihat bayangan gadis dibalik pohon diluar rumahnya, gadis itu melambaikan tangannya.

Philo gugup, ia memejamkan matanya lalu menghirup nafas panjang. Ia kembali memandangi pohon itu, namun gadis itu masih berada dibalik pohon sambil berteriak.

“Hey Philo ini aku Aliea, apakah kau mendengar suarakuuu?” Teriak gadis dari balik pepohonan.

Philo mematung, ia tak melihat secara jelas sosok gadis itu. Philo semakin merasa gugup ia tak menyangka jika itu memang Aliea, ia bahkan tak tahu harus bicara apa, diantara kegugupan Philo tiba-tiba angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering pohon itu hingga akhirnya gadis itu sudah menghilang tanpa jejak.

Philo hampir tak percaya dengan kejadian yang baru saja ia alami. Philo mengusap kedua matanya, setelah itu ia hendak menutup jendela kamarnya namun tiba-tiba ada pesawat kertas melintas seketika menerobos jendela kamarnya.

Philo mengambilnya pesawat kertas yang bertuliskan “From: Aliea” itu, dalam hatinya ia merasa yakin pasti ini berisi tulisan lagi. Tanpa basa-basi Philo langsung membuka lipatan pesawat kertas itu.

“Philo, apakah tadi kau sudah melihat eksistensi diriku? Apakah kau sudah puas? Kalau sudah begtu ijinkan diriku untuk menjawab seluruh isi suratmu.

Sebenarnya aku tak ingin kau melihat diriku dalam wujud yang terikat dimensi ruang namun engkau memaksaku untuk melakukannya maka aku pun hanya berani bersembunyi dibalik pohon ini.

 Pohon yang selalu menjaga diriku dan perasaanku. Aku terkadang merasakan pohon ini seperti terikat dengan filosofi cinta. Coba kau perhatikan, Ia tegak berdiri ditumbuhi buah-buah yang segar, akarnya pun kuat menghujam tanah yang subur.

 Apa kau mengenal filosofi cinta? bukankah seharusnya filosofi cinta itu menjaga tanpa harus menyentuh dimensi waktu, memaafkan tanpa harus memaksa realitas yang ada, tumbuh mengakar antara dirimu dan hatimu. Philo, aku menunggumu. Menunggumu dibalik pohon ini, pohon filsafat cinta”.

Artikel Terkait