2 tahun lalu · 1247 view · 5 menit baca · Hiburan pedulisehat.info_.jpg
Foto: pedulisehat.info

Filosofi Celana Dalam

Tak mudah meneroka sisi filosofis dari kain antik yang satu ini. Di samping meniscayakan pembacaan yang "seksi", misteri kain penutup tongkat sungokong ini cukup sakral untuk ditafsirkan dan dikontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Di mata laki-laki, barang antik dan sakral ini sangat bermakna sekali karena dialah yang menaungi tugu monas dari sengatan panas dan teriknya sinar matahari. Sebagaimana di mata perempuan kain cantik nan suci ini juga sangat berguna sekali karena dialah satu-satunya kain ajaib yang dapat melindungi Gua Jomblang dari rongrongan singa-singa usil yang mengintainya setiap hari.

Baru kita angkat kaki untuk mengupas misteri di balik barang mewah yang satu ini, kita sudah dihadapkan dengan sejumlah pertanyaan besar yang mungkin tak pernah terlintas di pikiran kita sama sekali: Kenapa yang dalam harus pakai celana ribet-ribet begini? Bukankah tanpa celana pun "yang dalam" itu bisa tetap eksis bergelayutan dan tegak berdiri seksi di tengah apitan dua tiang kaki?

Bukankah tanpa celana dalam pun pistol panjang yang mengular itu bisa tegak dan lebih leluasa berekspresi? Bukankah tongkat sakti itu jika dibiarkan tanpa busana akan menunjukan identitasnya secara terbuka sehingga tak berpura-pura lagi? Dan bukankah jika ia dibuka tanpa busana wanita akan menjerit tergila-gila sambil berpura-pura menutup mata padahal dia suka sekali?

Inilah pertanyaan-pertanyaan krusial yang mungkin pertama kali mendarat di kepala, yang saya sendiri tak begitu paham apa jawabannya dan dari alam mana pertanyaan ini tiba. Haha. Yang pasti, jawaban setiap orang tak akan pernah sama alias beda dalam menjawab pertanyaan gila ini semua.

Hanya saja, baik orang beragama maupun tak beragama semuanya berjima' (eh, maksudnya berijma') bahwa yang terselip di balik lekukan celana dalam itu adalah barang termahal yang menjadi kebanggan semua kaum pria (dan wanita).

Ini karena saya pria loh ya. Yang wanita ya saya tidak tahu hakikatnya seperti apa. Cuma kata orang sih ya bentuknya seperti lipatan daun kelapa atau apa gitu…alah sudahlah, biarkan saja. Yang laki-laki ga usah dibayangin loh ya. Pamali entar dosa. Saya tidak bertanggung jawab pokoknya kalau terjadi kerusakan tak disangka di kepala anda. Anggap saja ini uji-coba kesehatan kepala. Haha.

Nah, di sisi lain, panjang dan diameter tongkat sungokong yang melipat di balik lengkungan segitiga bermuda itu sangat menentukan kepuasan dan keaduhaian seseorang dalam bercinta. Aduh ini apaan coba. Kenapa saya harus men-syarah ini semua secara terbuka tanpa sekat apa-apa. Tapi ga apa-apalah, barangkali ini bisa menghibur anda.

Itu sebabnya, tongkat tersebut perlu ditata, dijaga, sekaligus diimprovisasi sebaik-baiknya. Sebab, jika tidak, rumah tangga akan terasa hampa, dan hubungan yang sudah terajut cinta pun bisa retak dan tak kunjung menemukan titik bahagia. Singkatnya, besar-kecilnya tongkat suci tersebut sangat berperan vital dalam merajut kebahagiaan dalam bingkai hidup rumah tangga.

Penting diingat, wahai kaum hawa, bentuk, diameter dan panjang tongkat tersebut tak monolitik alias tak persis sama.

Ada yang segede tali kelapa, ada yang setara dengan tiang pipa, ada yang seperti jagung korea (saya ga tahu tuh di Korea ada jagung apa kagak), ada yang diametenrya setara dengan tiang listrik jalan raya, bahkan mungkin di luar sana ada yang besarnya seperti basoka Amerika dan Rusia, yang diameternya luar biasa, lesatan pelurunya memiliki kecepatan di atas rata-rata.

Wah, kalau model yang terakhir ini memang cukup langka. Sekarang mungkin sudah tidak ada. Tapi zaman nenek moyang kita ya mungkin saja ada. Hanya zaman kita saja yang rata-rata diameternya seperti jagung korea. Tapi sudahlah, berapapun diameter, kekekaran, dan panjang-pendeknya, disyukuri saja.

Ini saya mau memfilosofisasi celana dalam tapi kenapa harus tenggelam kedalam pembahasan isinya. Aduh gimana ya. Tapi okelah, sekarang kita kembali ke celana dalam lagi ya.

Jika diperhatikan dengan seksama, barang antik ini memiliki dua lengkungan utama. Nah, apa kira-kira pesan moral-etis yang hendak disampaikan oleh dua lengkungan tersebut, saudara? Kenapa harus dua? Kalau ini tentu jawabannya sudah jelas karena kaki kita ada dua. Tapi bagaimana kita memfilosofisasi dua lengkungan ini dalam konteks kehidupan nyata? Nah, kalau pertanyaan ini bisa panjang jawabannya.

Tapi intinya, dalam hemat saya, dua lengkungan ini secara simbolis semakin mengukuhkan tesis akan adanya dualisme (al-Itsnainiyyah) dalam kehidupan kita. Ada siang, ada malam, ada gelap, ada terang, ada kecil, ada besar, ada keimanan, ada kekufuran, ada kebaikan, ada keburukan, ada kebahagiaan, ada kesengsaraan, dan begitu seterusnya.

Nah, tapi, berhubung makhluk yang bersembunyi di balik kain ini adalah simbol cinta, maka simbol dua lengkungan aduhai ini seolah-olah ingin memberi pesan bahwa dalam soal cinta dan bercinta dualisme itu pun pasti akan selalu ada. Ada kalanya anda puas, adakalanya anda kecewa. Adakalanya anda bahagia, dan adakalanya anda sengsara.

Artinya, cinta itu tak selamanya bertuah bahagia, sebagaimana cinta juga tak selamanya berbuah sengsara. Jadi, adanya nestapa dan bahagia dalam soal cinta dan bercinta itu hal yang biasa dan harus diterima dengan dada terbuka.

Kegalauan yang timbul perselingkuhan orang yang dicinta itu merupakan konsekuensi nyata yang harus diterima dengan celana terbuka (eh, maksudnya kepala terbuka). Sebab, itu semua merupakan konsekuensi logis dari plihan anda.

Sebagaimana kegelapan diciptakan agar manusia menyadari arti sebuah keterangan, maka kesengsaraan itu harus dirasakan oleh manusia agar dia sadar akan mahalnya sebuah kebahagiaan. Dengan demikian, dualisme itu akan senantiasa kita temukan dalam kehidupan. Dan yang menarik, saudara, dua buah butir kelapa korea yang terletak di bawah basoka Amerika itu juga jumlahnya dua.

Padahal kenapa tidak tiga, misalnya? Kan ga keberatan kalau tiga juga? Ya engga? Kalau empat mungkin iya. Tapi kalau tiga, masalahnya apa? Kan sama-sama bisa ditenteng juga? Tapi ya itulah. Saya juga engga ngerti kenapa. Udah dari sononya. Bayangin coba, ada dua kubangan utama melingkari satu basoka. Dan basoka yang satu itu memiliki peluru yang berjumlah dua. Makalah jadilah rumusan 212. Bahahahaha.

Aduh, kalau mau ditelisik lagi misteri di balik angka 212 ini bisa melebar pengajian kita. Tapi intinya itu tadilah seperti yang saya sampaikan. Bahwa dualisme dalam konteks kehidupan itu adalah sebuah keniscayaan. Keburukan diciptakan agar manusia sadar akan berharganya sebuah kebaikan. Kesengsaraan diciptakan oleh Tuhan agar manusia eling dengan adanya kebahagiaan di hari kemudian.

Rasa sakit diciptakan agar manusia sadar akan mahalnya kesehatan dan kebugaran. Kemiskinan kita rasakan karena Tuhan ingin agar kita mensyukuri kekayaan. Kekufuran diciptakan agar manusia sadar betul akan betapa mahalnya sebuah keimanan. Dan perbedaan diciptakan agar manusia mengakui adanya keragaman.   

Karena itu, orang-orang yang suka melakukan aksi-aksi intoleransi dan kekerasan bisa jadi karena celana dalam yang mereka masukan hanya satu lubang.

Aneh kadang. Setiap hari mereka pake celana dalam dan ku*ang dengan dua gundungan dan dua lubang. Tapi masih saja mereka keukeuh agar orang yang berbeda mengikuti apa yang mereka inginkan dengan menempuh cara-cara kekerasan bahkan pembantaian.  

Mereka perlu sadar, bahwa sebagaimana lubang celana dalam tak akan pernah mengalami perubahan, sampai kapanpun dunia ini akan terus-menerus berada dalam dualisme dan tak akan pernah mencapai ketunggalan. Karena ini bagian dari sunnah Tuhan.

Bayangkan, di balik kain bau hapeuk yang kadang diganti seminggu sekali dengan bolak-balik itu ada pesan-pesan moral yang sangat berarti bagi kehidupan. Tidakkah anda berpikir, wahai orang-orang yang mengenakan celana dalam?

(Kairo, Zahra-Medinat Nasr, 12 Oktober 2016)