Mungkin di antara kita pernah mendengar atau membaca suatu “cerita penghiburan” singkat di dunia maya agar kita tidak putus asa dalam menghadapi hidup ini beserta tantangan dan tekanan yang bisa muncul setiap saat.

Kita ini ibarat berlian alias diamond yang dibentuk dengan tekanan dan suhu tinggi serta proses yang panjang di dalam perut bumi. Manusia niscaya akan berkilau juga seperti berlian jika terus giat berproses.

Hanya saja, benarkah begitu?

Analogi yang menarik sebab uraian tentang berlian itu tadi sesuai kenyataan. Akan tetapi, kita harus insaf bahwa berlian dibentuk dengan durasi jutaan tahun dan termasuk bahan yang diperoleh melalui pertambangan. Berlian bukan bahan yang dapat diperbarui.

Dengan sifat-sifat fisika (kekerasan atau hardness) yang tinggi, yakni 10 Mohs, berlian menjadi material paling keras di dunia dikarenakan susunan atom-atom karbon (C) yang berikatan secara tetrahedral sehingga sifatnya yang amat kristalin. 

Kristalinitas (kristalin: kata sifat, kristalinitas: kata benda, parameter fisis) yang amat tinggi ini membuat berlian dapat menghamburkan cahaya yang mengenainya sehingga tampak berkilauan bila dihadapkan pada berkas cahaya.

Oleh sebab itu, penggunaan berlian banyak di berbagai bidang yang memerlukan alat potong atau bor yang kekuatan mekaniknya tinggi. Tentu selain digunakan sebagai perhiasan pula. Artinya, tidak semua orang dapat membeli atau menggunakannya, kan?

Oleh sebab itu, seberapa yakinkah kita bahwa kita hendak menjadi berkilauan bak berlian?

Dalam ilmu fisika dan kimia, ada istilah alotrop yang berarti dua atau lebih struktur kristal yang berasal dari unsur kimia yang sama dalam membentuk suatu material. Artinya, atom Xx dapat tertata dalam struktur kristal, misalnya, 1 atau 2 dikarenakan adanya perbedaan cara antar atom Xx berikatan membentuk senyawa. Dampaknya ialah adanya perbedaan sifat-sifat fisik dan kimia dengan struktur kristal yang berbeda itu.

Demikian pula pada atom C. Selain membentuk struktur dari ikatan tetrahedral yang menghasilkan berlian, ia dapat pula berbentuk lapisan heksahonal-heksagonal (heksagon: segi enam) seperti sangkar tawon mendatar sekaligus tertata secara lapis per lapis.

Senyawa ini namanya grafit (graphite). Kebalikan dengan berlian, grafit ini berwarna hitam dan tidak berkilauan. Selain itu, grafit ini jauh lebih lunak dibandingkan dengan berlian dengan kekerasan berkisar 1-2 Mohs.

Sepertinya tidak akan ada pria yang melamar kekasihnya dengan cincin bertatahkan grafit sebagai ganti berlian dan Ratu Elizabeth II juga jelas takkan memakai mahkota berbahan grafit.

Akan tetapi, grafit ini banyak sekali dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Selain sebagai elektroda dalam baterai dalam baterai Li-ion dan batang pensil, grafit juga digunakan sebagai salah satu komponen manufaktur baja, pelapis pada rem, dan sel surya. Bukan berarti kaum melarat dan gelandangan kita lupakan, akan tetapi hampir seluruh kelompok masyarakat bisa menggunakan material grafit dalam berbagai terapannya.

Yang istimewa lagi, yaitu bahwa material berbasis grafit dapat disintesis dengan proses yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan berlian. Industri material pun dapat menyintesis grafit dari selulosa (salah satu penyusun serat kayu) atau dari poliakrilonitril. Tentu proses-proses fabrikasi yang terlibat selalu memerlukan tungku (furnace) bersuhu tinggi yang berkisar 250-2500 °C, bergantung tahapan apa yang diterapkan.

Grafit ini menarik. Pada satu sumbu (axis) yang sejajar dengan lapisan heksagon-heksagon, terdapat ikatan kovalen yang kuat sedangkan pada sumbu yang tegak lurus dengan lapisan-lapisan tersebut terdapat interaksi van der Waals yang sangat lemah namun dapat “mengikat” lapisan-lapisan penyusun grafit. 

Orang dapat mengeksploitasi aspek-aspek mekanik maupun elektronik dengan meninjau satu sumbu dan sumbu lainnya. Tergantung apa yang hendak dibutuhkan oleh orang lain dari material ini.

Kalau begitu, falsafah apa yang barangkali bisa kita cerna dari kedua material tadi, bila ada?

Untuk menjadi berguna bagi banyak orang, berproses mutlak diperlukan bahkan boleh dibilang menjadi syarat. Wajib. 

Hanya saja, seperti halnya suhu dan perlakuan yang berbeda buat menghasilkan berlian dan grafit, kita harus memahami pula ke manakah kita berproses dan menempa diri. Tidak mungkin menjadi “berlian” sekaligus “grafit”. Lebih tepatnya, sebelum kita bergelut dengan dinamika hidup, semestinya ke mana hidup kita, diri kita, diarahkan dan dibaktikan.

Mungkin ada di antara kita yang diam-diam memiliki kekhawatiran bahwa mereka tidak cukup berusaha keras dan menempa diri sehingga hanya menjadi “hangat” saja atau menggembleng diri sedemikian keras sehingga hanya menjadi “karbon yang melebur” tanpa dibentuk dan dikontrol menjadi apapun.

Lagi pula, menjadi indah sekaligus bermanfaat seperti berlian sungguh merupakan prestasi yang luar biasa. Namun, adilkah itu bila perjuangan dan ketekunan yang sekian lama dijalani dan begitu keras dipikul akhirnya hanya dirasakan oleh segelintir manusia saja, seperti halnya berlian yang dibentuk jutaan tahun acapkali berakhir sebagai perhiasan super mahal semata? 

Salah satu nasihat yang sering kita dengar adalah “sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia”, dan itulah yang seharusnya direnungkan oleh kita semua dalam belajar maupun bekerja.

Dengan membandingkan intan dan grafit, sebenarnya kita juga harus sadar bahwa untuk menghasilkan manfaat yang seluas-luasnya bagi orang lain, sebenarnya kita tidak perlu menjadi menarik dan rupawan!