Prinsip Gestalt yang diperkenalkan sekitar tahun 1920 oleh Max Wertheimer merupakan deskripsi umum tentang konsep kesatuan dalam menyajikan sebuah strategi visual. Baik disadari ataupun tidak, setiap individu pada dasarnya adalah seorang perancang grafis bagi dirinya sendiri.

Kekuatan interaksi dan rivalitas sosial pada dasarnya dapat menciptakan rangsangan untuk mendesain diri-sendiri dalam sebuah kesatuan visual. Tujuan utamanya adalah agar mudah dipahami oleh pemirsa. 

Adapun tujuan lainnya dari rancangan grafis pribadi ini tentunya amatlah beragam. Mulai dari misi komunikasi hingga aktualisasi diri.

Pemahaman terhadap prinsip persepsi visual adalah kunci untuk bertahan dalam sebuah tatanan dan tendensi persepsi. Pola strategi visual minor yang sering tak disadari kehadirannya kadang cukup ampuh untuk membangun sebuah persepsi publik.

Salah satu contoh sederhana strategi visual minor ini adalah penampilan individu di depan publik, yang tanpa rekayasa mayor, mampu membawa pesan-pesan simbolik, terutama menampilkan pesan-pesan kontroversi, seperti yang dilakukan beberapa gelintir anggota dewan yang membawa istri-istrinya saat pelantikan.

Apa yang dilakukan oleh mereka, memerlukan sebuah keberanian dan mental yang cukup kuat. Kemudian seperti biasa, publik akan memberikan opininya masing-masing menurut nalar pikir masing-masing.

Walaupun poligami bukan bagian dari kontroversi yang meruncing di negeri yang mayoritas muslim ini, tapi cukup memberikan usikan visual yang cukup berarti bagi pemerhati feminisme. Isu gender adalah salah satu isu hangat yang akan selalu diperbincangkan di era kontemporer ini.

Menampilkan eksponen-eksponen yang berhubungan dengan antusias poligami dalam tataran strategi komunikasi sosial akan memberi dampak tertentu, seperti: kejantanan, kemakmuran, dominasi, hingga persepsi seksis.

Yang menarik, ketika kita melihat persepsi seksis yang memunculkan dua subordinat yang berlawanan, yaitu misoginis dan filoginis. 

Ketika misoginis diartikan sebagai kebencian, tidak suka atau ketidakpercayaan terhadap perempuan, maka tampilan visual eksponen antusias poligami pada sebagian pelakunya dapat diartikan sebagai representasi filoginis yang seolah menghargai perempuan di sebuah forum publik.

Filoginis yang diartikan sebagai aksi mengekspresikan perasaan cinta, suka dan percaya terhadap perempuan, secara tidak langsung akan meredam sindrom-sindrom paradoksalnya, yaitu misoginis.

Nah, di sinilah akan terjadi pergulatan terestrial antara, misoginis, filoginis, dan feminisme. Dari pergulatan tersebut, bisa saja memunculkan subordinat yang keempat, yaitu kebencian atau rasa tidak suka terhadap laki-laki, yang biasa disebut dengan misandria. 

Ketika filoginis pada antusias poligami, ditolak oleh feminisme, akan memunculkan persepsi seksis misandria. Dan kembali lagi pada laga awal, yaitu lelaki yang patriarki.

Apa yang dipapar oleh anggota dewan dengan mengusung antusias poligami yang seolah menjunjung filoginis, secara tak sadar telah membangun strategi komunikasi visual yang bisa saja viral dengan membawa sejumlah opini publik.

Misoginis (rasa benci kepada wanita) yang biasa terwujud dalam berbagai cara, misalnya: diskriminasi seksual, fitnah, kekerasan, dan perendahan atau pelecehan martabatnya, tiba-tiba terbela oleh penampilan filoginis para anggota dewan yang mengusung atusias poligami.

Misoginis (rasa benci kepada perempuan) juga merupakan sikap budaya, kini telah menjadi salah satu bagian prasangka seksis dan ideologi.

Rasa benci ini juga merupakan dasar utama atas penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat yang didominasi laki-laki atau patriarki.

Apakah antusias poligami merupakan bagian dari budaya filoginis yang sifatnya memberi penghargan pada wanita? Atau sebaliknya? Di mana sudah kondang ujaran paradoksalnya, yaitu “mana ada wanita suka dimadu”. Dan nyatanya ada, terlepas dari penilaian perasaan yang sebenarnya.

Di sinilah nilai-nilai filoginis saling bertabrakan dengan misoginis dalam sebuah paparan antusias poligami.

Walaupun penampilan anggota dewan dengan membawa antusias poligami dalam sebuah forum publik bukan merupakan lelucon pornografi ataupun tindak kekerasan terhadap perempuan; namun, paling tidak itu sudah memberikan persepsi miring bagi kelompok sosial tertentu tentang sebuah kewibawaan dan sikap kesederhanaan seorang wakil rakyat yang terpilih.

Lebih rumit lagi ketika masing-masing sifat ini saling mengeluarkan daya resiprokalnya, di mana perempuan membenci wanita, dan laki membenci laki. Dan lengkaplah, ketika carut-marut ini dilengkapi dengan sikap denial (penolakan) akan persepsi seksis “poliandri”.

Kedigdayaan antusias poligami akan tiba-tiba runtuh ketika dimintai kesetaraan pada persepsi seksis poliandri. Yang paling bersorak adalah kaum feminis, ketika poligami bertemu dengan poliandri. Kesetaraan seolah menodongkan pistolnya kepada pelaku antusias poligami.

Fungsi misoginis sebagai ideologi atau keyakinan sistem yang patriarki, atau masyarakat yang didominasi laki-laki yang pernah eksis selama ribuan tahun, atau hingga kini, telah menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dengan akses terbatas terhadap kekuasaan dan pengambilan keputusan.

Pun begitu, fungsi filoginis menempatkan perempuan dalam budaya kebebasan yang feminis, telah melambungkan perannya sebagai pendobrak peradapan dan bukan kambing hitam sosial lagi.

Fungsi filoginis juga merangsang objektifikasi multimedia terhadap perempuan dengan penghargaan terhadap kesempurnaan penampilan bagi bisnis multimedianya dengan melakukan “oprek” dan fiksasi operasi plastik, anoreksia atau bulimia. Jika sudah begini, yang melenggang kangkung ya para libertarian.

Persetan semua, yang penting, elo kagak ganggu gue!