”Sensor film adalah pertahanan pertama yang terkukuh dari pandangan para khalayak yang kritis.”


FRANK Capra, sutradara komedi kenamaan Hollywood, dalam sebuah artikel menyebutkan bahwa seni film ialah seni yang banyak sekali hubungannya dengan uang. Di Hollywood sendiri, hanya ada setengah lusin sutradara yang boleh berkreasi sesuka hatinya dalam membuat atau mencipta film. 

Selebihnya tidak lebih dari orang-orang yang harus menuruti perintah produser. Bahkan, 90 % sutaradara yang ada di Hollywod tidak memperoleh kesempatan mengadakan sendiri kisah yang dapat dijadikannya film. Perintah-perintah diberikan oleh produser yang mengongkosi pembuatan film tersebut.

Celakanya, kaum produser terdiri atas manusia-manusia yang hanya memikirkan kekayaan semata dengan mengeksploitasi selera buruk publik. Mereka tidak pernah membicarakan soal pembuatan film. 

Pembicaraan mereka melulu soal uang dan keuntungan. Sementara itu kita tahu, bahwa film yang terbanyak menghasilkan uang tidak berarti bahwa film itu berkualitas bagus. Mengharapkan mereka membuat film-film yang baik merupakan sebuah  keniscayaan.

Film-film yang dihasilkan oleh kebanyakan produser umumnya bermutu rendah karena semata bertujuan mengejar keuntungan dan mengeruk uang. Sehingga menonton film tidak dapat dikatakan sebagai peristiwa kebudayaan. 

Karena itulah, pernyataan Asrul Sani bahwa sensor film haruslah menjadi pertahanan pertama yang terkukuh dari pandangan para khalayak yang kritis menjadi sangat relevan. Sensor film diperlukan dengan maksud tentu saja bukan untuk membatasi kreasi seniman film, melainkan menghalangi hawa nafsu kaum produser untuk menipu khalayak.

Film, Moralitas, dan Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, kadung dipercaya bahwa film adalah salah satu pangkal kejahatan. Berita-berita di media masa, baik cetak maupun elektronik yang menyiarkan maraknya kasus kejahatan (seksual) yang dilakukan anak-anak muda, kerap diawali dengan kebiasaan si pelaku menonton film tidak senonoh.

Gambaran betapa buruknya pengaruh film terhadap mental/pikiran anak muda digambarkan dengan cerdas oleh Andrea Hirata dalam novelnya, Sang Pemimpi. Dalam novel itu, menonton bioskop dikatakan sebagai kejahatan paling berat yang dilakukan anak sekolah. Film bioskop dianggap sebagai perusak akhlak anak-anak bangsa nomor wahid.

Meskipun belum ada penelitian yang dapat membuktikan kebenaran bahwa film merupakan pangkal kejahatan anak-anak muda, tetapi fenomena yang terjadi dewasa ini tetap patut diwaspadai. 

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Roger Manvell yang dikutip oleh Bijdendijk, kita tidak dapat meniadakan kenyataan permasalahan abadi bahwa anak-anak kita akan mengetahui tentang hidup dan segala kejahatan-kejahatannya dalam usia yang masih terlalu muda, tidak peduli ada atau tidak ada film yang akan dapat mengilustrasikannya bagi mereka.

Lebih jauh Bijdendijk sendiri mengatakan bahwa penyelesaian sebaik-baiknya dari masalah-masalah yang berhubungan dengan bioskop dan film terletak dalam pendidikan dan penerangan yang baik terhadap pemuda-pemuda dan tidak terletak dalam tangan panitia sensor. 

Karena itu dalam bioskop janganlah orang dengan penuh rasa ketakutan menjauhkan pemuda-pemuda kita dari hal-hal yang dalam kehidupan sehari-hari yang kejadiannya tak dapat dielakkan.

Dalam hal ini lembaga sensor jelas terbatas sekali kemampuannya dalam melindungi anak-anak muda dari pengaruh buruk film. Oleh karena itu, diperlukan pihak lain untuk mewujudkan upaya tersebut, tak terkecuali pelaku film itu sendiri.

Sensor (Mandiri) Film, Harimau yang Mengaum dalam Pikiran

Ulama kondang Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada medio 2004 pernah melayangkan protes keras terhadap penayangan film Buruan Cium Gue. Film yang dibintangi oleh Masayu Anastasia dan Hengky Kurniawan ini dinilai oleh Aa Gym dan MUI memuat ajakan untuk berzina.

Adegan ciuman antara Masayu dengan Hengky Kurniawan dianggap sangat tidak patut untuk dipertontonkan. Ram Punjabi selaku produser terpaksa mencabut film tersebut dari peredaran. Meskipun pada akhirnya film ini dapat diputar kembali dengan terlebih dahulu mengganti judulnya menjadi Satu Kecupan.

Nasib serupa juga pernah dialami film Dendam Pocong yang dirilis tahun 2006. Film horor yang disutradarai oleh Rudy Soedjarwo ini dilarang beredar dan tidak mendapatkan Surat Tanda Lolos Sensor (STLS) dari Lembaga Sensor Film (LSF). Film tersebut dipandang bernuansa sangat sadis dan banyak mengandung unsur sara.

Inilah pertama kalinya sebuah film ditolak oleh LSF pasca reformasi tahun 1998. Alasan penolakan tersebut adalah adanya kekhawatiran bahwa film itu berpotensi ‘membuka luka lama’. Film yang dibintangi oleh Dwi Sasono dan Kinaryosih ini dinilai menampilkan adegan pemerkosaan yang brutal dan tidak layak ditonton. Film ini memang mengambil latar peristiwa kerusuhan dan kekerasan terhadap etnis Cina ketika kerusuhan 1998.

Sensor sejatinya ialah alat kekuasaan untuk memproduksi ‘ketakutan’. Ketakutan ini dimaksudkan untuk menciptakan rasa aman bagi khalayak sekaligus cara ‘mendisiplinkan’ para pelaku film. Gunting sensor adalah contoh hukuman bagi yang melanggar atau tidak taat aturan.

Apa yang terjadi pada film Buruan Cium Gue, Dendam Pocong, dan karya lainnya yang bernasib serupa, menjadi contoh nyata hukuman bagi seseorang yang melanggar dan tidak taat. Dampaknya, para pelaku film, khususnya produser dan sutradara menjadi enggan untuk melakukan pelanggaran dari ketidaktaatan serupa.

Pada tahap inilah, sensor mandiri terbentuk dalam pikiran pelaku film. Kasus tersebut seolah menjadi pelajaran untuk tidak memproduksi karya yang kontroversial alias berlawanan dengan norma dan episteme.

Selain sistem ketakutan, sensor mandiri juga dapat dibentuk dengan sistem kekuasaan yang diejawantahkan dalam bentuk sistem disiplin. Dalam konsep kekuasaan Foucault, sistem kekuasaan atau sistem disiplin sendiri dibentuk dan dikukuhkan oleh ilmu pengetahuan, wacana, dan episteme. Lantas, sistem disiplin tersebut diejawantahkan menjadi sensor mandiri.

Selain pemerintah melalui LSF, masyarakat pun dapat menjadi pelaku yang memiliki tugas yang sama, yakni sebagai penjamin dan pengawas sistem disiplin (sensor). Apa yang dilakukan Aa Gym dan MUI misalnya, merupakan bentuk nyata pengawasan terhadap sistem disiplin tersebut.

 Akhirnya, mengutip pendapat seorang seniman film, bahwa sekarang ini pelaku film umumnya enggan jika karyanya ditolak atau diberangus, baik oleh lembaga sensor resmi milik pemerintah maupun oleh masyarakat atau khalayak luas. Sejak saat itulah sebenarnya pelaku film telah melakukan sensor terhadap filmnya sendiri. Setiap kali mereka berniat membuat film yang nyeleneh, maka harimau itu otomatis mengaum dalam pikirannya.