Ini adalah film yang paling membosankan yang pernah saya tonton seumur hidup saya. Rome rather than you sepertinya memang dibikin membosankan. Daya pikatnya terletak pada sesuatu yang membosankan itu. Tariq Tequia berusaha membuat penonton bosan sebosan-bosannya sampai kepada titik di mana kebosanan itu menjadi sesuatu yang menarik, mungkin juga indah.

Film ini dimulai dengan adegan yang sangat biasa. Seorang perempuan berupaya membuat secangkir kopi. Proses pembuatan kopi mulai dari mencari air, menyalakan kompor, sampai air mendidih dipertontonkan secara utuh. Tiba-tiba gambar beralih, dan tampak sang pembuat kopi sedang duduk santai menikmati kopi yang proses pembuatannya dipertontonkan secara detil. Duduk sendiri minum kopi sambil menghisap rokok. Lama betul.

Perempuan si peminum kopi itu tinggal di lantai tujuh sebuah rumah susun. Seusai minum kopi, ia berkemas dan berlari menuruni tangga yang melingkar dari lantai tujuh ke lantai dasar. Rupanya pengambilan gambar hanya dilakukan dengan satu kamera.

Proses turun tangga sambil berlari itu direkam habis. Waduh, kameramen harus mengambil gambar juga dengan berlari menuruni tangga di belakang si peminum kopi. Nafasnya terdengar memburu. Aha, kameramen tidak sanggup lagi. Sang perempuan semakin jauh. Di bawah sana ia menoleh ke atas. Tersenyum, tapi lebih mirip menyeringai.

Film ini tidak hanya menyuguhkan adegan demi adegan yang terekam dalam gambar, melainkan juga membawa penonton membayangkan bagaimana proses pembuatan film yang begitu lugu, kadang-kadang begitu dungu. Lihatlah, misalnya, bagaimana Kamel berjalan sepanjang gang dan kamera mengikutinya dari samping dengan durasi yang sangat lama.

Pengambilan gambar pun sangat natural, sebab tidak jarang pengambilan gambar terhalang tembok atau tiang. Akibatnya, kadang-kadang gambar yang muncul bukan Kamel, melainkan tembok di pinggir gang. Kamel terlalu cepat berjalan.

Kamel adalah seorang pemuda pengangguran di pinggiran Aljazair. Dalam film ia selamanya bersama dengan kekasihnya, Zina. Keduanya punya impian melancong ke negeri pizza, Italia. Tapi mereka terkendala paspor. Proses pencarian paspor inilah yang menjadi setting cerita film ini.

Mereka dengar seorang kawan bisa memberikan mereka paspor. Maka dicarilah rumahnya. Adegan membosankan kembali muncul. Proses pencarian rumah itu ditayangkan secara utuh. Mulai dari berangkat, mencari jalan, tersesat ke jalan buntu, bertanya, tesesat lagi, sampai menemukan rumah. Alamak, orangnya tidak ada di rumah. Ampun dah, adegan ini tiga kali pula. Rumah itu seolah tak berpenghuni.

Akhirnya, di kali terakhir mereka mengunjungi rumah itu, mereka memutuskan masuk. Pintu tak terkunci rupanya. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati bahwa si tuan rumah ternyata sudah membusuk di lantai dua. Mati.

Sebuah paspor ditemukan di rumah itu. Paspor untuk Kamel ke Italia. Tapi, paspor yang ada itu adalah milik perempuan. “Tak apalah,” kata Kamel. “Wajahnya mirip saya kok.” Mereka segera kembali untuk bersiap ke Italia. Di tengah jalan, dua orang berlari ke arah mereka. Salah satunya menembak kepala Kamel lalu terus pergi. Kamel mati saudara-saudara!

Judul: Rome Rather than You 
Sutradara: Tariq Tequia
Pemain: Rachid Amrani, Samira Kaddour, Ahmed Benaissa, Kader Affak, Rabie Azzabi, Lalu Maloufi, Fethi Ghares
Durasi: 111 menit.