“Setiap akhir pasti mempunyai awal.”

Dibuka dengan  ketegangan adegan dugaan pembunuhan atau bunuh diri biasa, Iseng (2016) menyambut kita dengan tebakan-tebakan bahwa film ini bergenre thriller. Elemen-elemen darah, polisi dan kegelapan menguatkan tebakan itu.

Dialog kemungkinan-kemungkinan motif kematian di apartemen antara polisi Ludi (Doni Alamsyah) dan komandannya (Donny Damara) mengantarkan dugaan bahwa film ini akan berkisah tentang usaha polisi mengungkap pembunuhan. Pembunuhan yang berkelindan dengan perselingkuhan pengusaha kaya, polisi korup dan mafia perdagangan perempuan.

Seperti Something In The Way (2013) dan Selamat Pagi, Malam (2014), Iseng bercerita tentang kehidupan masyarakat urban Jakarta. Dibandingkan dengan Something In The Way, Iseng lebih mirip dengan Selamat Pagi, Malam yang menyuguhkan beberapa cerita dan karakter terpisah namun bersinggungan satu sama lain.

Bedanya, jika Selamat Pagi, Malam menceritakan berbagai gaya hidup kaum urban, Iseng berkisah tentang sisi gelap dan kriminalitas di Jakarta. Ada pembunuhan, mutilasi, perselingkuhan, pekerja seks komersial kelas atas dan pinggir jalan. Iseng jelas film dewasa 17+ yang tidak layak ditonton anak-anak.

Ada empat cerita dalam Iseng yang terkait satu sama lain. Pertama, cerita Jo (Frida Tumakaka) yang ditinggal pasangan lesbiannya (Ayushita) ke luar kota. Nantinya Jo akan berkenalan dengan lalu digoda oleh Chica (Eveline Kurniadi) yang sebenarnya perempuan heteroseksual .

Di kantor, Chica telah diingatkan rekan kerjanya, Fany (Wulan Guritno) agar mengendalikan kebiasaannya berganti-ganti pasangan dan menggoda banyak laki-laki demi memenuhi kebutuhan materi. Di pertengahan film akan terungkap kerumitan hubungan Chica dan Fanny. 

Kedua, cerita tentang Irwan (Tio Pakusadewo), pengusaha kaya yang bingung karena Baby (Viola Arsya) sedang hamil. Baby adalah perempuan simpanan Irwan yang menuntut dikawini. Irwan enggan mengawini Baby karena sudah beristri.

Irwan sendiri adalah seorang playboy. Dia terlibat perselingkuhan dan hubungan saling menggoda dengan beberapa karakter di film ini. Irwan lalu menyuruh Edi (Yayan Ruhiyan), sopir kepercayaannya, untuk membunuh Baby. Edi memang sudah terbiasa “membereskan” masalah majikannya dengan rapi.

Edi lalu menemui geng preman pimpinan Joni (Zuli Silawanto). Joni punya anak buah senior bernama Atif (Khiva Iskak) dan Arpin (Fandy Christian). Atif menganggap Arpin sebagai anak ingusan yang takut ambil resiko. Sementara Arpin menganggap  rencana pembunuhan belum saatnya dieksekusi.

Cerita ketiga tentang hubungan Cik Helen (Dayu Wijanto) dengan dua pegawainya Jo dan Denis (Kho Michael). Cik Helen walaupun galak tapi sangat perhatian pada kedua anak buahnya itu. Cik Helen menanyakan perasaan Jo dan dia juga memerhatikan kebiasaan aneh Denis.

Denis adalah pemotong daging di restoran Korea milik Cik Helen. Ketidakwajaran Denis terlihat setiap kali ia gagal mengendalikan hasrat seksual saat melihat bagian pinggul ke bawah perempuan yang melintas. Denis langsung masturbasi di toilet.

Kebiasaan aneh ini diamati Cik Helen sampai akhirnya Cik Helen memarahi Denis. Denis hanya diam, membalas dengan tatapan tajam menyeramkan. Sampai di sini kita akan dibuat bertanya-tanya, akankah Denis membunuh Cik Helen karena tersinggung?

Bukan itu saja keanehan perilaku seksual Denis. Setelah pulang kerja, Denis biasa meminjam taksi Andi (Fauzi Baadilla) temannya. Andi adalah teman Denis yang juga punya libido tinggi. Denis menggunakan taksi Andi untuk menyewa pekerja seks komersial (PSK) pinggir jalan. Denis menyiksa PSK itu saat berhubungan badan lalu memutilasinya.

Cerita keempat adalah tentang persahabatan Dian (Fany Vanya) dan Kiki (Manda Cello). Keduanya bersahabat sejak dari desa. Dian menganggap Kiki seperti kakak perempuan sendiri. Dian  mengadu nasib ke Jakarta setelah rumah tangganya bermasalah di kampung.

Dian menumpang tinggal di rumah Kiki. Ia tertarik dengan pekerjaan Kiki. Di kampung, Kiki dianggap telah sukses di Jakarta. Padahal di kota, Kiki bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) pinggir jalan. Kiki lalu membimbing Dian menjadi PSK profesional. Hari pertama Dian menjadi PSK ternyata berakhir bencana.

Rangkaian cerita Iseng sangat menarik. Plot mundur-maju-mundur film ini cukup mengesankan. Perpindahan adegan dari satu cerita ke cerita lain pun relatif lancar. Transisi adegan dari satu cerita ke cerita lain diantarkan lewat peristiwa yang sama. Makan siang misalnya. Kredit buat sutradara Adrian Tang.

Kho Michael sukses menampilkan karakter Denis sebagai seorang yang mempunyai kelainan jiwa, misterius dan menyeramkan. Karakter maniak seks juga ditampilkan Fauzi Baadilla dalam sosok Andi dengan baik.

Pada bagian-bagian awal, kegenitan dan sikap lebay Chica sebagai perempuan penggoda sangat mengganggu. Namun saat Chica menghadapi masalah, ekspresi panik bercampur takutnya benar-benar tereksplorasi oleh Eveline Kurniadi.

Bagi yang merekam karakter Yayan Ruhiyan sebagai aktor laga handal di kepala, bintang The Raid itu menyajikan sesuatu yang mengejutkan di film ini. Tanpa beradegan laga sama sekali, Yayan mampu menampilkan karakter sopir kepercayaan bos yang dapat dipercaya menyelesaikan semua masalah.

Interaksi Dian (Fany Vanya) dan Kiki (Manda Cello) sebagai perempuan desa yang terpesona hedonisme kota sukses memancing senyum-senyum kecil. Secara keseluruhan, hampir semua para pemeran Iseng bermain kuat.

Menampilkan kriminalitas Jakarta, Iseng harusnya  bisa menampilkan adegan-adegan dengan lebih mencekam. Latar suara yang sebenarnya bisa membantu kurang dimanfaatkan. Elemen-elemen seperti darah, kekerasan dan mutilasi belum mampu membuat penonton kaget merinding.

Kita akan kecewa jika berharap Iseng bergenre thriller kriminal yang mengungkapkan misteri pembunuhan. Iseng memaparkan hubungan sebab akibat beberapa cerita yang saling bersinggungan. Iseng bukanlah film yang mengangkat dan menyelesaikan suatu masalah.

Seperti Selamat Pagi, Malam (2014) dan Something In The Way (2013), terlepas dari beberapa kekurangan, Iseng berhasil menceritakan realita kehidupan urban Jakarta. Iseng bahkan menyajikan kriminalitas Jakarta lebih banyak. Cerita yang berbeda dibanding kedua film tersebut. 

Secara keseluruhan, Iseng adalah film layak tonton. Jika selama beberapa bulan terakhir kita disuguhi film-film drama romantis dan lucu seperti Surat dari Praha serta Talak Tiga, Iseng memberikan variasi nuansa mencekam yang berbeda.

Official Trailer Iseng (2016) bisa dilihat di sini.