The English Teacher tampil dengan posternya yang sederhana. Namun buat saya, ada makna dalam tersembunyi disana. Dalam poster film, tampak seorang laki-laki berkacamata, berparas cukup rupawan, sedang duduk terdiam dengan mata memandang kedepan. Entah apa yang Ia pikirkan.

Bergenre drama, film pendek berdurasi 12 menit ini wajib ditonton karena tercatat dalam IMDB (International Movie Databased) terpilih menjadi nominasi dan memenangkan Best Short Film di ajang The Monthly Film Festival (TMFF) 2020. Selain itu film juga memenangkan kategori Best Screenplay dan Best Actor dalam kompetisi Feel The Reel International Film Festival 2020.

Tak salah insting saya, film dengan tampilan poster yang menarik biasanya memiliki cerita yang juga menarik. Film diawali dengan sebuah scene yang memperlihatkan seorang wanita yang tengah mengayuh sepedanya dijalanan. Tiba-tiba scene berpindah begitu saja tanpa menjelaskan apa yang terjadi. Pergantian scene yang tiba-tiba dan meninggalkan tanda tanya, akan sering ditemui dalam alur cerita. 

Mungkin ini salah satu trik bagaimana sang sutradara Blake Ridder, membuat penontonnya turut larut merasakan emosi yang dibangun dari hubungan yang tidak biasa, terjadi antara seorang guru dengan murid kursusnya. Hingga cerita dikejutkan oleh sebuah jawaban yang menghampiri penonton dimenit-menit film akan berakhir.

Robert adalah tokoh utama dalam film yang diperankan oleh Louis James. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris berpengalaman, Robert diminta Jin Ying untuk memberikan kursus Bahasa Inggris karena dalam waktu dua minggu Ia akan menghadapi ujian. Jin Ying diperankan oleh sang sutradara Ridder dan digambarkan sebagai seorang imigran yang tinggal di London. Kedua tokoh digambarkan sebelumnya tidak saling mengenal, hingga kemudian bertemu dan terkonekasi layaknya seorang guru dan muridnya. 

Sebagai seorang guru, Robert tidak terlihat canggung bertemu dengan Jin Ying, Ia mampu dengan cepat menangkap apa yang dibutuhkan Jin Ying di pertemuan pertamanya. Karakter Robert yang ramah, sabar serta antusias, ditampilkan dengan sikapnya yang selalu responsif dan ekpresif membantu Jin Ying dalam pembelajaran. Namun, Robert juga digambarkan memiliki sisi lain tentang dirinya yang kelam dan tidak diketahui Jin Ying. Dalam beberapa lompatan scene Ia digambarkan tengah larut dalam sedih, terpuruk dan berduka dalam kesendirian. Seperti salah satunya scene-nya yang ditampilkan sebagai poster film.

Berbeda dengan karakter Jin Ying, ada yang menggelitik dan membuat saya tersenyum-senyum ketika tokoh ini ditampilkan. Hadir dengan kepolosan seorang imigran yang minim ekspresi, tampil dengan wajah datarnya, serta aksen kental dan keterbata-bataannya saat berusaha berbahasa Inggris. Tokoh Jin Yin buat saya menjadi karakter jenaka dalam cerita. Jika dibayangkan, dapat saya semisalkan seperti sosok Mas Tukul Arwarna yang diminta berbahasa Inggris. Jin Ying membuat percakapan dengan Robert gurunya menjadi menarik.

Cerita antara guru dan muridnya ini mengalir alami, mudah dicerna dan menyentuh. Walaupun berbahasa Inggris, percakapan sangat sederhana namun mampu menggambarkan pesan dibalik hubungan yang tercipta antara Robert dan Jin Ying. Hal-hal kecil dalam percakapan, khususnya yang disampaikan Jin Ying menjadi petunjuk dari kejutan dibalik hubungan keduanya. 

Seperti dalam scene dihari pertama kursus, Jin Ying menggunakan aplikasi translator, atau ketika Jin Ying mengatakan “Robert is my friend” atau ketika pertanyaan “Are you happy?” disampaikan kepada Robert. Alur cerita film mampu membawa penontonnya ikut terlibat dalam setiap percakapan serta emosi yang digambarkan kedua tokoh.

Sampai pada menit-menit akan berakhirnya film, penonton dikejutkan dengan terungkapnya motif sebenarnya mengapa Jin Ying menghubungi Robert. Kemudian alasan tersirat apa yang membuat Jin Ying tanpa berpikir panjang membayar kursus singkat yang diberikan Robert dengan upah yang cukup besar. Pada akhir yang mengejutkan itu, hubungan Robert dan Jin Ying kembali menjadi tanda tanya. 

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati film pendek ini. Menurut saya, kedua aktor berhasil memerankan tokoh dalam cerita dengan baik. Ini membutikan bahwa Best Screenplay dan Best Actor memang layak disematkan kepada mereka. Drama dan kejutan terjadi dari hubungan sederhana seorang guru dan muridnya. Bagi saya, Ridders mampu mengungkapkan sisi kuat sekaligus rapuhnya Robert yang sedang berusaha tegar dari kesedihannya dan tetap meneruskan apa yang dimilikinya. 

Dari film ini, sosok Robert hadir sebagai pengingat bahwa dibalik setiap pengalaman pahit, Sang Khalik ternyata tengah menyiapkan pengalaman yang tak terduga lainnya. Dari sepenggal cerita Robert ada pesan tersirat bahwa pahit atau manisnya hidup pada akhirnya adalah apa yang kita pilih dan ciptakan. Dan pada akhirnya hidup itu tidak berhenti dari apapun yang terjadi atau berhenti karena apa yang kita alami. Hidup tetap berjalan dengan segala kejutan yang mengiringinya. Dan kita diminta untuk selalu bersiap atas segala kejutan hidup yang mungkin terjadi. 

The English Teacher (2020)

Studio: Ridder Films

Sutradara: Blake Ridder

Naskah: Blake Ridder

Bintang: Louise James, Blake Ridder