Pada suatu malam di sebuah bioskop di kota ini akan diputar film Avengers: Age of Ultron. Sebuah franchise film dari adaptasi komik Marvel yang sangat digemari. Terlebih oleh anak-anak. Di ruang gelap bioskop seorang bocah, 6 atau 7 tahun, asyik menikmati alur cerita. Ia bertanya atau berkomentar tentang Ultron, canggihnya baju besi Stark, kekuatan tinju Hulk. Bahkan rasa ingin tahunya itu ia utarakan dengan bahasa Inggris. Cukup berisik bagi penonton yang harus konsentrasi pada film.

Sela satu kursi di sebelah bocah itu ada seorang pemuda. Karena bocah itu makin berisik, pemuda itu gusar. Ia menegur (dengan bahasa Inggris yang patah-patah) bahkan sedikit meninggikan nadanya. Si bocah hening, menimbang apa yang terjadi, lalu berbisik-bisik (tak mengurangi rasa ingin tahunya).

Ayahnya yang kemudian menyadari tingkah anaknya mencoba menasihati dan mengajaknya diam. Anehnya, ketika bocah itu sudah tenang sampai akhirnya ruangan kembali terang dan kredit film diputar, pemuda itu masih menyisakan raut kebencian. Ia melirik tajam sambil berjalan cepat menjauh keluar.

Menjadi penonton di bioskop memang relatif “kaku.” Saat membeli tiket secara tak langsung orang harus menyetujui etika yang dibuat oleh pihak manajemen. Dilarang merokok, dilarang membawa makanan/minuman dari luar, atau dilarang merekam. Di Amerika sekitar tahun 1912, etika semacam itu pun telah ada. Antara lain tak boleh berisik/bersiul, bertepuk tangan seperlunya, wajib membuka topi agar tak menghalangi pandangan (bagi wanita dengan topi lebar), dan ingat letak kursi.

Privasi, etika, dan harga yang harus dibayar. Atau lebih mudah disebut dengan “tiket.” Menonton di bioskop tentu tidak gratis. Selain mematuhi etika “kaku,” orang masih harus membayar untuk penghiburan selama 90-120 menit. Dengan pengorbanan itu orang ingin tenang dan khidmat selama film diputar.

Selembar tiket membuat orang merasa telah memiliki ruang privasi yang tak boleh dijamah orang lain. Terlebih oleh sesama penonton. Kegusaran pemuda itu karena ia merasa ruang privatnya coba direnggut. Walau pengusiknya hanya bocah dengan kekaguman dan rasa ingin tahu yang bukan pada waktunya.

Tapi menonton film pun sejatinya adalah tentang merayakan kehidupan. Seseorang bisa menangis, termenung, tertawa, marah, berteriak, memaki, orgasme, melalui cerita di layar. Bahkan, film dapat membawa gairah bagi hal-hal di luar film itu sendiri. Kehadiran bioskop keliling, layar tancap, misbar (gerimis bubar) adalah peluang hidupnya pasar dan pedagang dadakan: gorengan, kacang rebus, catur tiga langkah, kopi, jagung rebus, sampai petasan banting.

Tentu sebagai perayaan atas sebuah kehidupan, film harusnya tak lagi terkekang dengan etika “kaku.” Di sebuah panggung layar tancap yang eksis pada tahun ‘90-an, film dinikmati begitu “hidup.” Orang bebas merokok, mengobrol (baik tentang cerita film atau topik lain), atau sekedar bersuit-suit ketika adegan ciuman. Pertunjukan biasanya diadakan karena hadiah dari warga yang punya hajat. Atau saat perayaaan Agustusan. Orang bebas duduk di mana pun. Egaliter. Tidak ada nomor kursi, hanya tikar atau karpet.

Di sela menonton orang ngemil jagung rebus. Tidak ada pop corn. Sederhana dan tak khidmat. Film hadir sejenak sebagai pelipur lara. Obat dari tragedi yang tak mesti sama. Misbar atau layar tancap menawarkan keluwesan. Sebelum semua pulang tersenyum puas setelah layar ditutup (atau digulung karena hujan turun).

Walau terkesan seolah karena gratisan, tahun ’90-an di bioskop yang telah memiliki gedung pun orang masih bebas merokok di ruangan. Bahkan aksi lempar sandal jika pergantian rol film tak berjalan mulus. Film dan penonton begitu hidup. Memiliki tautan emosi. Cair. Merdeka.

Sesuatu yang hari ini sukar ditemui. Karena semakin mahal selembar tiket, semakin eksklusif privasi. Semakin eksklusif privasi, etiket dan kekakuan semakin ketat. Saat membeli tiket yang dulu seharga Rp. 7500 dan kini sudah Rp. 30.000 tentu ada perbedaan besar, bukan?

Film adalah ladang bisnis yang tak pernah habis. Dari lapak vcd bajakan sampai gurita cineplex, film adalah hiburan yang tak pernah sepi. Hari ini layar tancap dan misbar sudah jarang lagi muncul. Orang ke bioskop akan disuguhi etika, di samping tentu saja fasilitas sesuai kelas yang mereka bayar. Jika saja orang keluar dari sana dengan wajah kecut, lalu bagian mana dari film yang ia rayakan sebagai kehidupan?