Film pendek “Kinetik” (hal yang berkaitan dengan gerak), menceritakan realita yang terjadi di Ibukota atau Kota Jakarta sebagai Kota Megapolitan. Realita yang ditunjukkan terdiri dari berbagai kondisi kehidupan lapisan masyarakat dengan beraneka ragam status sosial penghuninya. 

Namun di pinggiran kota Jakarta yang berjarak tempuh dua jam memperlihatkan situasi memprihatinkan. Menggerakan ketiga anak muda untuk melakukan suatu aksi nyata.

Di bagian pengantar awal diungkapkan oleh Karim bahwa: “Jakarta dengan segala kemegahannya seakan menjanjikan orang-orang mewujudkan semua khayalannya serta angan-angan di tempat itu. 

Di Jakarta semua orang tak berhenti bergerak meskipun harus berdesakan dengan segala kesibukan, sehingga jalannya terlalu sempit untuk dilalui. Marah, tawa bahkan tangis sudah menjadi bagian dari Jakarta. 

Banyak yang bilang Jakarta itu keras, tetapi segalanya (kehidupan) terjadi di sana, walaupun demikian manusia sulit untuk berpaling dari sebuah tempat yang bernama Jakarta”. Itulah gambaran yang terjadi dan terus melekat pada Jakarta." 

Film pendek ini mengisahkan tentang persahabatan tiga anak muda kekinian yang telah mencapai kesuksesan dalam bidang kerja masing-masing. Mereka adalah Karim (seorang desainer interior), Dhea (seorang penari profesional), dan Kevin (seorang programmer andal di perusahaan IT ternama). 

Ketiga sahabat ini berhasil meraih impian mereka dan mencapai semua yang mereka inginkan dalam hidup mereka. Lelah menjalani rutinitas pekerjaan, mereka bertemu dan berrefleksi bersama. Dalam refleksi mereka terungkap pengakuan bahwa masih ada ruang kosong dalam diri mereka. Ada sesuatu yang membuat mereka merasa hampa. 

Situasi ini terungkap dari apa yang disampaikan oleh Karim, ia menyatakan: "Kalau semua target dan mimpi kita sudah tercapai, apa lagi yang harus kita cari? Ketika kita berkerja untuk menghidupi diri, juga berkarya untuk memuaskan batin. 

Apalagi yang harus kita lakukan supaya terus merasa hidup? Atau definisi sukses versi kita ada yang salah?". Apa yang terungkap ini bukan karena mereka tidak bersyukur dengan apa yang mereka miliki. 

Singkat cerita, Karim yang terus berkutat dengan segala pikirannya menemukan sebuah keinginan. Sebuah hal baru dan tantangan untuk membangun diri, Karim dengan segala persiapannya mengajak kedua sahabatnya yaitu Dhea dan Kevin untuk bergerak dalam melakukan sebuah perubahan. 

Mereka keluar Jakarta dan mencari hal baru tersebut, 2 jam perjalanan dari Jakarta mengantarkan mereka ke sebuah desa. Tidak seperti yang mereka bayangkan, sekolah di desa tersebut benar-benar membuat mereka terkejut. Bangunan-bangunan seadanya, lantai rusak, buku-buku untuk belajar tidak layak pakai, dan masih banyak kerusakan lain nya. 

Kemudian hal ini membuat perasaan dan hati mereka diketuk dan tergerak oleh keingian memberikan dan melakukan seuatu perubahan. Apa yang mereka mulai lakukan adalah dengan mengajar anak-anak menari yang dilatih oleh Dhea, sedangkan Karim dan Kevin merenovasi sekolah.

Bagian dalam tayangan film Pendek Kinetik yang menarik disimak yakni kehidupan kota Jakarta, kemewahan yang terdapat di dalamnya dan juga kemiskinan yang ada di sana. Kemudian bertolak di sebuah desa yang hanya berjarak 2 jam dari kota Jakarta, di sana terdapat perbedaan yang sangat beda mulai dari jalanan, jembatan dan sekolah dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan. 

Dalam film pendek ini terdapat selingan lagu yang menarik disimak yakni lagu barisan muda bergerak menggantikan yang berserak. Selain itu dalam tayangan juga dilukiskan kehidupan awal Karim dan Kevin. Kehidupan dua bocah laki-laki ini pada awalnya hanyalah dua bocah jalanan yang menjadi loper koran dan bertemu dengan Dhea.  

Ketiga bocah yang selalu belajar bersama menjadi sahabat dan dikemudian hari meraih keberhasilan yang mereka cita-citakan. Situasi hidup awal mereka yang diwarnai dengan masa-masa sulit, menjadikan pribadi Kevin dan Karim memiliki kepedulian terhadap sesama di sekitar mereka. 

Film pendek ini memberikan makna dan pesan tentang arti nilai kepedulian sosial bagi generasi muda agar tergerak untuk melakukan perubahan.  Untuk itu, diperlukan sebuah gerakan dan aksi nyata yang berarti bagi lingkungan sekitar agar menjadi lebih baik. 

Film ini mengisahkan sebuah perjalanan dari hati dan sebuah pergerakan untuk mewujudkan impian dari adik-adik penerus generasi bangsa yang berada di sekolah dengan kondisi memprihatinkan.  

Lewat film ini generasi muda diharapkan memiliki sudut pandang yang berbeda, jangan hanya melihat satu arah, dalam artian hanya memikirkan diri sendiri. Lihatlah arah lainnya, mereka yang membutuhkan uluran tangan, agar kita mengetahui apa itu dunia.