Di hari pertama memecahkan rekor 300 ribu penonton pada Kamis (31/8), tentu Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 menggoda untuk ditonton. Rekor itu memecahkan jumlah penonton terbanyak 270 ribu yang dipegang serial pertama Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss.

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part sendiri, total memecahkan rekor penonton film Indonesia. Film yang dirilis tahun 2016 lalu itu disaksikan enam juta orang. Jumlah tersebut memecahkan rekor Laskar Pelangi (2008). Laskar Pelangi sendiri ditonton 4,63 juta penonton.

Namun popularitas sebuah film bisa saja berbanding terbalik dengan kualitasnya. Film laris belum tentu film yang layak untuk ditonton. Laskar Pelangi adalah contoh film yang berkualitas bagus dan populer. Sedangkan Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) adalah contoh film populer dengan kualitas yang biasa sekali. Film itu total ditonton 3,6 juta penonton.

Alkisah, Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) pergi ke Malaysia guna mencari harta karun. Ancaman penjara jika gagal membayar utang membuat mereka tak punya banyak pilihan.

Mereka ke Malaysia bersama Sophie (Hannah Al Rasyid). Sialnya di bandara, tas mereka tertukar dengan Nadia (Nur Fazura). Setelah disuguhi cuplikan seri pertama, seri kedua ini dibuka oleh adegan pencarian tas di pasar.  

Di pasar, Indro berurusan dengan pedagang ikat pinggang. Dono memicu keributan saat mencari toilet dan Kasino mencari tas ke toko barang-barang KW. Setelah bertemu Nadia, Dono Kasino, Indro dan Sophie sepakat bersama pergi ke pulau angker untuk mencari harta karun. Nadia sendiri adalah peneliti yang pernah ke pulau itu.

Petualangan yang sesungguhnya terjadi di pulau itu. Dono, Kasino dan Indro tidak punya jalan pulang kecuali menghadapi setan. Dono menghadapi kuntilanak. Kasino pohon angker. Sementara Indro menghadapi pocong. Di hutan pada pulau itulah mereka mengetahui siapa musuh yang sesungguhnya.

Film ini dirancang sebagai film komedi yang harusnya membuat penonton tertawa. Sayang tipe komedi yang mengeksploitasi derita, celaka dan aniaya disajikan sangat buruk dalam film ini

TIdak semua model komedi yang mengandalkan kelucuan gerak fisik (slapstick) itu buruk. Mr. Bean, Charlie Chaplin dan film-film Warkop DKI lama masih bisa dinikmati sampai batas tertentu. Namun Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 betul-betul versi terburuk dari komedi slapstick.

Sejak babak-babak awal film ini, terlihat sudah sinyal-sinyal kegagalan sebagai film komedi. Segmen pembuka di pasar sama sekali gagal mengundang tawa. Adegan teriak-teriak di perpustakaan dibuat terlalu memaksa.Tidak ada yang pantas ditertawakan dari adegan itu. Sutradara Anggy Umbara tampaknya tidak punya vocabulary rentang emosi lain guna mempresentasikan ekspresi galak kecuali lewat teriakan.    

Terdapat beberapa dialog dan adegan yang mengingatkan pada film-film Warkop DKI lama. Misalnya, “cewek di mana-mana bikin sial” yang mengingatkan pada ucapan almarhum Kasino dalam Maju Kena Mundur Kena (1983).

Petualangan pencarian harta karun tentu saja mengingatkan kita pada IQ Jongkok (1981). Fragmen Dono, Kasino, Indro di pantai bersama gadis-gadis cantik mengingatkan kita pada adegan Warkop DKI pada film-film seperti Bisa Naik Bisa Turun (1992) atau Bebas Aturan Main (1993).

Ide memasukkan film-film klasik berupa Soerabaia 45 (1990), Gitar Tua Oma Irama (1977), Sundelbolong (1981) dan Jaka Sembung Sang Penakluk (1981) sebenarnya menarik. Namun karena secara keseluruhan skenario film ini sangat buruk, adegan-adegan tersebut hanya terasa sebagai tempelan penghibur.

Logat Purwokerto Kasino (Vino G Bastian) di sepanjang film, sangat melelahkan telinga. Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Dono dan Tora Sudiro yang berlakon sebagai Indro bermain cukup aman. Indro Warkop bermain sesuai kelasnya sebagai aktor komedi senior Namun tetap saja akting mereka tidak menolong keseluruhan film ini.

Secara keseluruhan, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part adalah film komedi yang sangat buruk. Film ini gagal membuat tertawa. Sebagai film drama komedi, Talak 3 (2016) lebih mampu menghadirkan tawa secara natural dari pada Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part yang memang dirancang sebagai film komedi.

Walaupun telah diputar berulang-ulang, film-film Warkop DKI yang orisinal masih bisa dinikmati. Komedi yang ditampilkan masih menghibur, sekalipun tidak menimbulkan tawa terbahak-bahak lagi. Sedangkan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 ini sama sekali gagal. Tidak pantas disebut sebagai penerus film-film Warkop DKI yang asli.   

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 adalah film terburuk dari beberapa film yang pernah saya tinjau. Film ini berhasil membuat saya kapok menonton karya-karya sutradara Anggy Umbara.