Setelah lebih dari 10 tahun mengalami tarik ulur, proses adaptasi novel Bumi Manusia ke layar lebar akhirnya menemui titik terang. Adalah Hanung Bramantyo bersama Rumah Produksi Falcon Pictures, yang akan menggarapnya menjadi film. Kepastian itu diumumkan pada Kamis (24/5) lalu di Yogyakarta.

Sekadar informasi, sebelumnya Bumi Manusia sempat disebut-sebut akan digarap oleh Garin Nugroho pada tahun 2004. Lalu, pada tahun 2012, Riri Reza di bawah Miles Films, juga dikabarkan ingin mengolahnya ke layar lebar. Namun, tidak ada satupun dari kabar itu yang benar-benar menjadi kenyataan.

Selain Hanung yang didapuk sebagai sutradara, Falcon Pictures menunjuk Salman Aristo sebagai penulis naskah dan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, tokoh utama cerita. Film ini ditargetkan beredar pada 2019 mendatang.

Sekilas, kabar ini terasa menggembirakan. Betapa tidak, novel legendaris mahakarya Pramoedya Ananta Toer itu akhirnya difilmkan. Ini sekaligus menjadi petanda bahwa perfilman Indonesia sudah menuju ke arah yang lebih baik: bahwasanya para produsen film kita mulai suka menggarap karya-karya sastra, yang pada gilirannya akan membantu memperkenalkan karya sastra itu sendiri kepada masyarakat yang lebih luas.

Akan tetapi, oleh sebagian orang, kabar tersebut rupanya tidak diterima begitu saja. Malah, tidak sedikit yang menyatakan penolakan. Ikhwal utamanya adalah pemilihan Iqbaal sebagai tokoh Minke. Pemeran Dilan yang juga eks anggota Coboy Junior itu dianggap tidak pantas memerankan sosok Minke. Iqbaal dianggap aktor kemarin sore dan belum teruji kemampuan seni perannya, apalagi untuk memerankan Minke yang di dalam novel Bumi Manusia dideskripsikan sebagai pemuda yang cerdas, kritis, dan keturunan ningrat Jawa.

Baca Juga: Bumi Manusia

Di lini masa media sosial, orang-orang pun riuh membicarakan itu. Bahkan, untuk menyindir kualitas akting Iqbaal, ada yang sampai membuat meme bertuliskan, “Dia Adalah Minkeku, 1920”.

Perdebatan yang Tidak Penting

Perdebatan soal pantas tidaknya Iqbaal memerankan Minke, juga soal bagaimana penafsiran Hanung Bramantyo terhadap novel Bumi Manusia, hemat saya tidaklah penting-penting amat--kalau bukan tidak penting sama sekali. Terlebih lagi soal latar lokasi syuting yang kabarnya akan banyak dilakukan di Desa Gamplong, Sleman, Yogyakarta, dan bukannya di Surabaya. Lebih baik saya kira bila kritik terhadap Iqbaal dan Hanung dilontarkan nanti saja, setelah filmnya tayang.

Yang lebih penting sekarang, bahkan jauh lebih penting, adalah kenyataan bahwa di sela-sela riuh rendah perdebatan itu, ternyata diketahui bahwa banyak (bukan hanya anak-anak generasi kekinian) yang tidak tahu tentang novel Bumi Manusia dan tidak kenal pada pengarangnya, Pramoedya Ananta Toer. Bayangkan, seorang penulis roman yang begitu epik itu, satu-satunya pengarang Indonesia yang pernah dinobatkan sebagai kandidat peraih nobel sastra, ternyata banyak yang tidak mengenalnya!

Sebuah akun yang diduga milik seorang remaja menulis kalimat begini: “Lagian Pramoedya itu siapa sih? Cuman penulis baru terkenal kayaknya.. masih untung dijadiin film, dan si Iqbal mau meranin karakternya.. biar laku bukunya.” 

Sungguh, betapa keluguan remaja itu (mudah-mudahan ia benar-benar masih remaja) merepresentasikan, plus menguatkan, bukti bahwa tradisi literasi atau budaya membaca kita masih sangat parah. Fakta inilah mestinya yang menjadi fokus perbincangan kita.

Syahdan, kalimat si remaja itu kemudian dengan cepat menyebar di media sosial. Ia dirundung sejadi-jadinya. Ada yang ingin menjitak kepalanya, ada yang menyebutnya bodoh, dan ada yang menjadikannya lelucon.

Parahnya Literasi Kita

Ketidaktahuan remaja itu tentang Pram dan Bumi Manusia, sesungguhnya bukanlah hal yang luar biasa jika kita melihat kondisi literasi di Indonesia yang begitu parah. Merujuk hasil studi Most Littered Nation In The World 2016 yang dilakukan pada tahun 2016 silam, Indonesia menempati urutan 60 dari 61 negara.

Bahkan, tanpa harus merujuk pada hasil survei sekalipun, kita juga bisa mengukurnya dengan mudah melalui pengamatan sehari-hari di sekitar kita. Di lingkungan keluarga, misalnya, apakah saudara-saudara kita, adik, kakak, orangtua, atau anak kita, gemar dan rutin membaca? Lalu, di lingkungan sosial yang lebih luas, apakah teman-teman kita, tetangga kita, pacar, bos, anak buah, teman sekantor, suka membaca? Selanjutnya, pertanyaan serupa juga bisa kita terapkan di lingkungan akademik, baik sekolah maupun di perguruan tinggi: apakah teman-teman sekelas kita, guru, atau dosen kita, semuanya tekun membaca?

Sebagai perbandingan, ketidaktahuan remaja itu tentu belum seberapa parah, jika dibandingkan ketidaktahuan banyak kawan saya, yang rata-rata bergelar sarjana dan bahkan ada yang master, yang lahir di tahun 1980-an, yang juga tidak mengenal Pram. Artinya apa? Ketidaktahuan itu bukan hanya milik generasi mileneal semata, tapi juga merangsek ke semua generasi.

Maka bagi saya, orang-orang yang kemudian ikut meramaikan perundungan terhadap remaja itu, sama sekali tidak memberikan kebaikan. Mereka tak sadar, bahwa di balik ketidaktahuan remaja itu, ada peran mereka sebagai sebab yang mengakibatkan ia menjadi tidak tahu.

PR Kita Bersama

Daripada ikut merundung remaja itu, bukankah lebih baik jika kita bersatu, bersama-sama bergerak menghidupkan tradisi literasi? Ini sejalan dengan upaya pemerintah yang mencanangkan Gerakan Literasi Nasional sejak tahun lalu. Alangkah baiknya, jika tanpa diminta atau dibayar, kita ikut berperan mendorong adik-adik kita, teman-teman kita, bahkan kalau mungkin orang-orang tua kita, yang selama ini tidak akrab dengan membaca, supaya mau membiasakan diri membaca.

Terkhusus untuk para remaja dan pelajar, guru di sekolah memiliki peran yang sangat vital. Ini tentu mengandaikan bahwa tidak semua orangtua siswa termasuk orang yang terdidik dan literet; bahwa banyak orangtua mereka yang petani, pedagang kecil, atau buruh kasar, yang jauh dari bacaan.

Selanjutnya, di luar institusi pendidikan formal, bersama para penggiat literasi, baik yang berkomunitas maupun yang tidak, kita perlu menjadi stimulus bagi mereka agar membiasakan diri untuk membaca. Barangkali kita bisa memulainya dengan menyodorkan bacaan-bacaan ringan, seperti TTS, komik, dongeng, lalu ditingkatkan menjadi cerita pendek dan novel remaja, atau buku-buku panduan memasak dan bercocok tanam atau menggaet pacar, terus, dan terus, hingga ke buku-buku yang lebih serius macam Tetralogi Buru karya Pram dan seterusnya.

Bila kita mau menggelorakan literasi, barangkali sepuluh tahun ke depan, membaca akan menjadi hal wajib yang dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia sehari-hari. Sama wajibnya dengan makan, minum, dan tidur. Setelah itu, mudah-mudahan tidak akan lagi kita jumpai siapapun menulis, “Pramoedya itu siapa?”.