Pesan peringatan (label warning) kesehatan oleh pemerintah dalam kemasan produk rokok tampaknya bukan hal main-main. Pesan peringatan itu sendiri telah mengalami beberapa perubahan dalam konteks redaksional. Setidaknya, sebelum kita mengenal adagium “merokok membunuhmu” saat ini, ada tiga kali perubahan redaksional dalam pesan peringatan tersebut.

Sampai tahun 1999 misalnya, pesan peringatan pemerintah masih terkesan begitu naifnya dan sederhana, yakni “Peringatan Pemerintah: Merokok Dapat Merugikan Kesehatan”.

Tahun 1999 sampai 2001, pesan peringatan itu lebih menonjolkan dampak kesehatan yang ditimbulkan sebagaimana pesan peringatan sebelumnya. Masih diawali dengan dua kata: “Peringatan Pemerintah”, pesan peringatan mulai menyebut beberapa jenis penyakit seperti “Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, Gangguan Kehamilan dan Janin”.

Selanjutnya tahun 2002 sampai 2013, konten pesan peringatan tersebut masih sama dengan sebelumnya. Hanya saja kali ini dua kata di awal pesan peringatan itu dihapus, dan hanya menyisakan kalimat “Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan Kehamilan dan Janin”.

Dari tahun 2014 sampai sekarang, dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah RI No. 109 Tahun 2012, pesan peringatan tentang produk rokok lebih disederhanakan dalam dua kata: “Merokok membunuhmu”, disertai grafis peringatan dan pembatasan usia konsumen (18+).

Penyederhanaan yang sedemikan itu agaknya terasa “genit” ketika pesan peringatan yang berubah-ubah itu seolah ingin meninggalkan kesan ketakutan pada pembaca pesan tersebut, yang tak lain adalah konsumen rokok.

Penulisan jenis-jenis penyakit mungkin terkesan lebih seram dibanding kalimat “merugikan kesehatan” yang sebelumnya saya sebut naif dan sederhana. Dan lagi, predikat “membunuhmu” memang lebih horor dibanding sekadar menuliskan jenis-jenis penyakit di atas.

Meninggalkan redaksional pesan peringatan di atas, sekarang kita dapat melihat bahwa pesan peringatan bukanlah final dari kampanye antirokok di Indonesia.

Dengan kecepatan dan transparansi informasi saat ini, kita dapat dengan mudah mengetahui kenapa dan bagaimana suatu kebijakan dibangun. Terlebih kebijakan yang terindikasi kepentingan pihak tertentu. Bloomberg Initiative (BI), lembaga filantropis milik Michael Rubens Bloomberg yang diduga telah mengucurkan dana untuk berbagai lembaga di Indonesia.

Hal itu termasuk dalam Grants Program Reduce Tobacco Use yang bertujuan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah terkait penggunaan tembakau di tiap negera. Dugaan ini berawal dari dokumentasi laporan dalam kanal What we fund pada situs http://tobaccocontrolgrants.org yang cukup menjelaskan sedikitnya kurang dari 20 daftar nama penerima dana filantropis BI.

Di antaranya ada lembaga swadaya masyarakat (LSM), perguruan tinggi, hingga pemerintah. Sejumlah LSM yang menerima dana BI itu terdiri dari lembaga antikorupsi, pemerhati lingkungan, pemerhati konsumen, pemerhati anak, dll. Selanjutnya, beberapa perguruan tinggi ternama juga tercatat sebagai penerima dana BI dalam situs tersebut.

Sementara di kalangan pemerintah, ada Dinas Kesehatan Provinsi Bali hingga Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan yang juga menerima dana BI.

Tujuan program pendanaan itu pun macam-macam, tentu menyesuaikan kapabilitas penerima dana tersebut. Menurut laporan situs Tobacco Control Grants, begitu dana filantropis itu sampai ditangan penerima, selanjutnya akan dialokasikan dalam beberapa program si penerima. Dari sekadar kampanye larangan iklan rokok, advokasi kebijakan, hingga pengambilan keputusan.

Pada intinya, program yang dibuat sedemikian rupa guna ikut serta dalam menyukseskan program besar BI sendiri sebagai pemegang kepentingan, yaitu to reduce tobacco use. Selain itu, besaran dana serta periode pendanaannya juga dicantumkan dalam laporan situs tersebut.

Terakhir saya menonton televisi ada selingan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dari Kementerian Kesehatan, juga tentang rokok. Dalam iklan berdurasi 30 detik tersebut ada beberapa visualisasi tentang dampak buruk rokok bagi kesehatan.

Agak ngeri, juga menjijikkan, apalagi dengan instrumen musik pengiring yang cukup aneh terdengar di telinga. Melodramatik sekali. Dan tak menutup kemungkinan, orang yang sedang makan pun akan menjadi mual saat menonton tayangan semacam itu.

Catatan: Tulisan ini terutama sekali tidak dibuat dengan tendensi khusus terhadap produsen rokok, melainkan sekadar mengingatkan kita bersama bahwa ada filantropi kapitalis di balik “merokok membunuhmu”.[]