Filantropi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata philein yang berarti cinta, dan anthropos berarti manusia. Sedangkan arti kata Filantropi dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah cinta kasih (kedermawanan dan sebagainya) kepada sesama.

Dalam arti luas, Filantropi dimaknai sebagai tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan. Perwujudan dari rasa cinta tersebut berupa aktifisme menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain, khususnya ditujukan untuk masyarakat yang membutuhkan.

Sedangkan dalam pandangan ajaran Islam, filantropi merupakan perbuatan yang sangat mulia, bagian utama dari ketakwaan seorang muslim, perbuatan yang akan mengundang keberkahan, rahmat dan pertolongan Allah, perbuatan yang akan menyelamatkan kehidupan secara luas.

Islam merupakan agama yang holistik, tidak hanya bicara tentang perkara aqidah dan ibadah, namun dalam persoalan sosial ekonomi memiliki solusi atas persoalan-persoalan tersebut. Dalam hal sosial ekonomi, Islam telah menyediakan instrument-instrumen distribusi yang sangat efektif dalam upaya meminimalisir gap antara si kaya dengan si miskin. 

Instrumen tersebut meliputi zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf. Dari ragam instrumen distribusi tersebut ada yang memiliki sifat wajib (obligatory) dan ada yang sunnah (voluntary) dengan masing-masing aturan mainnya.

Pesan penting dalam aktivisme filantropi adalah meneguhkan keimanan melalui kepekaan sosial, atau yang lazim dikenal dengan Tauhid Sosial. Semakin tinggi tingkat keimanan seorang Muslim, maka semakin kuat juga kepekaan sosialnya melalui aktivisme filantropi (berderma).

Lintasan sejarah sosial ekonomi Indonesia menunjukkan, di tengah guncangan krisis hingga kondisi perekonomian yang tidak stabil, aktivisme filantropi menjadi habitus masyarakat Indonesia khususnya Muslim melalui berderma ke sesama yang terus menerus menopang dan merekat kehidupan masyarakat. 

Instrumen Filantropi Islam

Di dalam Islam, Aktivisme ber-filantropi dijadikan salah satu dalam pilar identitas seorang Muslim, yakni melalui zakat. Di dalam Al-Qur'an, perintah untuk berzakat disebutkan lebih dari 30 kali. Salah satunya tercantum dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 43.“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” [QS. Al Baqarah: 43]

Zakat merupakan bagian dari shodaqoh yang berupa harta yang ditujukan untuk pemenuhan kewajiban mensucikan atas diri dan harta yang dimiliki seorang Muslim. Lazimnya yang dikenal dengan zakat fitrah dan zakat mal. Keduanya memiliki sifat wajib (obligatory). Artinya zakat menjadi salah satu instrumen filantropi Islam yang rutin dikeluarkan saat sudah mencapai Nishab (kadar jumlah harta yang wajib dikeluarkan) dan Haul (kadar waktu kepemilikan harta yang harus dikeluarkan).

Adapun instrumen filantropi Islam lainnya terdiri atas Shodaqoh materi (yang lazim dikenal dengan infaq) dan shodaqoh non-materi yang dibayarkan secara sukarela (voluntary) tanpa ada batasan jumlah dan waktu. Ragam dari shodaqoh non-materi tidak terbatas, bisa tenaga, waktu, dan pikiran yang ditujukan untuk membantu orang lain sebagai wujud cinta kasihnya kepada sesama. Sedangkan ragam shodaqoh materi salah satunya wakaf.

Sedangkan Wakaf merupakan salah satu instrumen filantropi Islam yang menyerahkan sebagian harta benda seorang Muslim untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum sesuai syariah yang dilakukan secara sadar dan sukarela oleh wakif (pihak yang mewakafkan harta). 

Wakaf dikategorikan sebagai sedekah jariah (amalan yang tidak putus pahalanya selama terus memberi manfaat bagi orang banyak). Walaupun tidak bersifat wajib, anjuran wakaf tercantum pada Al Quran surat Ali Imran ayat 92, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” [QS. Ali Imran: 92].

Pengelolaan Dana Filantropi Islam

Berdasarkan data World Population Review, jumlah penduduk muslim di Indonesia per tahun 2020 mencapai angka 229 juta jiwa atau sekitar 87,2% dari total penduduk 273,5 juta jiwa. Jumlah ini memposisikan Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang disusul oleh India dan Pakistan di peringkat kedua dan ketiga.

Dalam kaitannya dengan roadmap pengembangan pengelolaan dana filantropi Islam tentu jumlah tersebut memberikan peluang dan potensi yang besar. Data Outlook zakat Indonesia pada 2021 yang dirilis oleh Puskas (Pusat Kajian Strategis) BAZNAS menunjukkan bahwa potensi zakat Indonesia mencapai 327,9 triliun.

Sedangkan potensi wakaf berdasarkan rilis BWI (Badan Wakaf Indonesia) mencapai Rp 180 triliun per tahun, selain itu berdasarkan nilai valuasi tanah wakaf secara keseluruhan, potensinya sudah mencapai Rp 2.000 triliun. 

Angka-angka tersebut tentu semakin menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara yang paling dermawan oleh World Index Giving pada 2019 tak terbantahkan.

Kendati demikian, persoalan mendasar yang harus ditangani serius lembaga-lembaga filantropi Islam, dalam hal ini digawangi oleh BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan BWI adalah adanya Gap antara potensi dana zakat maupun wakaf dengan realisasinya. 

Hal tersebut dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya terkait tingkat literasi masyarakat baik dalam hal pengetahuan hingga implementasinya yang masih tradisional. 

Sehingga mengharuskan lembaga-lembaga filantropi Islam dalam meremajakan baik edukasi hingga program-program kreatif untuk segala lini usia dan sektor. Terlebih dengan jebakan bonus demografi khususnya usia-usia generasi milenial.

Transformasi Digital

Di era digital saat ini bersamaan dengan momentum pandemi yang semakin meneguhkan urgensi transformasi digital di segala sektor, tanpa kecuali lembaga pengelola dana filantropi Islam. 

Rilis dari laporan digital HootSuite menunjukkan bahwa warga Indonesia yang menggunakan internet tembus di angka 202,6 juta jiwa dari total 274,9 juta penduduk per Januari 2021. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 26% dari tahun 2020. Artinya, peningkatan jumlah pengguna internet saat ini sangat signifikan peningkatannya terhitung dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Hal tersebut senada dengan meningkatnya jumlah telepon genggam yang ada di Indonesia mencapai angka 345,3 juta buah, atau 125,6 persen dari total penduduk. Artinya penduduk Indonesia rata-rata memiliki lebih dari satu telepon genggam.

Adapun pengguna media sosial di Indonesia mencapai angka 170 juta penduduk tahun 2021. Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan sebesar 6,3 persen dari tahun 2020. Pengguna media sosial ini setara dengan 61,8 persen dari jumlah penduduk yang ada. 

Hal menarik lainnya adalah orang Indonesia menghabiskan waktu 8 ham 52 menit setiap harinya, atau setara dengan 37 persen dari waktu yang ada untuk menggunakan internet. Artinya lebih dari sepertiga waktu yang ada setiap harinya dihabiskan untuk berselancar di dunia maya.

Data-data tersebut menjadi fenomena yang mengharuskan lembaga-lembaga filantropi Islam untuk sesegera mungkin bermigrasi ke ranah digital baik dalam hal edukasi yang inovatif, kreatif yang dekat dengan gaya milenial. Selain itu baik bentuk dan konten syiar/ dakwah yang moderat, layanan hingga program-program yang bisa diakses secara cepat mudah dan update. 

Dampak dari migrasi tersebut tentu mengharuskan perbaikan di sektor institusi internal dalam mengadaptasikan dengan perkembangan ekonomi digital secara global dengan pemenuhan good governance sehingga menstimulus optimisme muzakki. 

Selanjutnya dukungan melalui regulasi disertai upaya menjalin kerjasama dengan institusi-institusi lain yang saling terkait. Baik di ranah keuangan sosial sendiri hingga lembaga keuangan komersial, institusi Pendidikan hingga institusi-institusi agama lainnya.

Hasil penelusuran penulis berkaitan dengan geliat migrasinya para Lembaga-lembaga filantropi Islam di dunia digital, salah satunya melalui layanan scan barcode. 

Selain itu sebagaimana berikut; Baznas melalui webnya menunjukkan informasi baik cara pembayaran yang lebih memudahkan para muzakki dengan ragam platform. Diantaranya melalui kitabisa.com, indomart, gopay, getplus hingga via web langsung yang tinggal klik bisa langsung membayar zakat dan berinfaq lainnya hanya melalui gawai.  

Sementara untuk instrumen wakaf, BWI yang mulai bergeliat dengan skim wakaf uang yang sudah meluaskan penghimpunannya selain melalui website resmi BWI juga melalui ecommerce Tokopedia dan beberapa platform lainnya. 

Yang terbaru dengan diluncurkannya Waqf Super Apps sebagai platform terpadu baik untuk edukasi melalui komunitas sahabat wakaf, program pendistribusian, publikasi hasil riset dan pengembangan keilmuan hingga pembayaran wakaf uang secara lebih mudah melalui gawai.

Filantropi Sebagai LifeStyle 

Dengan bertransformasinya lembaga-lembaga filantropi Islam di ranah digital ini tentu sebagai upaya untuk membumikan serta membudayakan aktivisme filantropi Islam secara berkemajuan melalui teknologi informasi via gawai.

Selain itu, tafsir fiqh kontemporer dalam mengaktualisasikan baik aktivisme maupun instrumen-instrumen filantropi Islam ikut andil dalam proses peremajaan filantropi Islam untuk lintas generasi dan otomatis memudahkan dalam proses bertransformasi ke digital. Alhasil, upaya menjadikan aktivitas filantropi Islam sebagai lifestyle (gaya hidup) menjadi keniscayaan. Terlebih untuk kalangan milenial yang akrab dengan dunia digital.