Fiktus kesal. Dia merasa bahwa cerita tempat dirinya dijadikan tokoh utama itu terlalu struktural dan kaku. Penulis ceritanya adalah seorang pemuda berkulit gelap yang keriting rambutnya dan selalu memakai kacamata ke mana-mana. Dia adalah seorang penulis amatir yang masih membolak-balik buku seperti Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat karya penulis J—nama sengaja disamarkan—dan buku-buku lain yang sejenis sebelum ia menulis ceritanya. Pada akhirnya, gaya menulisnya menjadi terlalu teoretis dan mengikuti tatacara. Ini, bagi Fiktus, merugikan dirinya sebagai tokoh utama dalam cerita tersebut.

            Cerita yang terlalu teoretis membuat hidup Fiktus terlalu monoton. Kehidupannya terlalu runut mengikuti prosedural cerita pada umumnya; ia terlalu lama ditulis untuk berada dalam bagian pengenalan dan rising action. Baru kini ia sedang berada di bagian konflik cerita. Sayangnya lagi, penulis ceritanya tidak berani bermain dan mengeksplorasi konflik dengan baik. Maka akhirnya, hidup Fiktus hanya dipenuhi oleh konflik-konflik membosankan seperti konflik di tempat kerja, di restoran, atau di tempat-tempat lainnya yang terlalu umum. Bahkan bisa dikatakan bahwa hidupnya minim konflik, dan itu membuatnya bosan.

            Fiktus selalu membayangkan dirinya menjadi tokoh utama di sebuah cerita yang lain dari yang lain. Menjadi tokoh utama di sebuah cerita fiksi sains, misalnya. Sebenarnya ia tidak merasa terlalu masalah dengan berada di sebuah cerita yang runut. Dalam kasus-kasus tertentu, cerita memang memerlukan struktur yang runut dan teratur. Tetapi itu seharusnya juga diikuti dengan permainan konflik yang seru. Semakin struktural sebuah cerita, maka seharusnya semakin kuatlah konflik yang engikutinya. Fiksi sains memiliki cerita yang runut dengan pengenalan yang teratur dan lugas, namun dengan rising action dan konflik yang kuat dan tidak biasa.

            Kalau memang bukan fiksi sains pun, dan ia memang ditakdirkan untuk berada di cerita-cerita realis yang berhubungan dengan apa yang berada di depan mata penulis, ia ingin konflik dalam cerita-cerita itu diputar sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang menarik. Ia pernah mendengar tentang salah seorang tokoh cerita legendaris, Minke namanya. Konflik yang dituliskan oleh penulis yang menuliskan kisah Minke—yang juga legendaris—tidaklah berputar terlalu jauh dari kehidupan Minke. Alurnya nyata, tidak bertele-tele, dan begitu kaya isinya. Fiktus ingin menjadi tokoh utama dalam cerita seperti itu, bukan dalam cerita yang hanya sekadar menggambarkan kehidupan dan konflik sehari-hari penulis dan menjadikan dirinya sebagai alter ego si penulis itu.

            “Ah, aku ingin sekali menjadi tokoh utama dalam cerita-cerita Asimov…,” ujar Fiktus kepada seorang rekan sesama tokoh cerita di sebuah kafe ketika penulis yang menulis ceritanya sedang tidak menulis. Hanya pada saat-saat itulah, Fiktus bisa melepaskan dirinya dari alur yang diciptakan oleh si penulis.

            “Haha, kamu mau menjadi Multivac seperti di cerita Pertanyaan Terakhir buatan si Asimov, begitu?” canda rekannya itu.

            “Aku lebih baik menjadi komputer super pintar, daripada menjadi manusia yang menghadapi konflik membosankan begini. Toh pada akhirnya, kita kan fiktif. Untuk apa menjadi fiktif kalau akhinya tetap menghadapi sesuatu di dunia yang biasa dipersepsi oleh para penulis?” balas Fiktus.

            “Iya juga sih. Tapi tidak maulah kalau aku diciptakan jadi komputer seperti Multivac. Lebih baik jadi seperti Georg Bendemann dari Das Urteil karya Kafka. Pengenalan, rising action, dan konfliknya membaur. Ada realisme dengan atmosfir surealis di dalamnya,” renung rekannya.

            Fiktus menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah menyukai cerita-cerita surealis ataupun tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Ia mengenal beberapa tokoh-tokoh dalam cerita surealis dan menganggap mereka sebagai orang-orang yang sudah miring akalnya karena terlalu banyak berada di alam khayalan sehingga sebagian dari mereka sudah mulai lupa bahwa mereka hanya tokoh dalam cerita. Tokoh-tokoh cerita surealis berada di tempat yang berbeda, agak jauh dari tempat Fiktus dan kawan-kawan tokoh cerita realisnya berada.

            “Cih, cerita surealis,” cibir Fiktus.

            “Jangan begitu, Fiktus. Kamu maunya jadi tokoh di cerita fiksi sains, tapi kamu harus tahu kalau cerita dengan tema berat seperti itu tidak laku di kalangan penulis masa kini. Kalau pun ada, paling hanya fiksi sains picisan yang lebih cocok sebagai cerita untuk anak-anak. Hanya ada dua jenis penulis zaman sekarang; penulis realis yang hanya bisa menuliskan apa yang ada di sekitar mereka tanpa pengembangan, dan penulis surealis yang kerjanya hanya sibuk mengkhayal dan bermimpi tanpa tahu makna cerita,” terang rekannya.

            “Iya deh, mungkin lebih baik jadi tokoh cerita surealis daripada jadi seperti sekarang ini,” balas Fiktus acuh tak acuh. Rekannya tertawa dan menepuk-nepuk pundaknya.

            “Kalau begitu, tukar cerita saja sekarang,” ujarnya.

            “Lah, memangnya bisa?” tanya Fiktus.

            “Bisa. Di saat-saat sekarang inilah waktu paling tepat. Ketika penulismu sedang tak lagi menulis dan kamu tidak terikat alurnya. Harus pintar-pintar tahu kapan penulis akan mulai menulis lagi, atau perangai menulisnya. Ada penulis yang langsung selesai menulis satu cerita, ada yang lebih suka menyicil seperti penulismu. Kalau kamu mau pindah cerita, pergi ke tempat cerita-cerita surealis sebelum penulismu mulai menulis. Kalau kamu belum sampai disana tapi penulismu sudah kembali menulis, maka kamu akan ditarik kembali ke tempat ini untuk menjalani alurmu.”

            Fiktus mengangguk-angguk pelan, bangkit dari duduknya, pamit kepada temannya, dan mulai berjalan menuju tempat cerita-cerita surealis. Dari beberapa tokoh yang ia kenal disana, ia mengenal satu orang tokoh yang menurutnya paling normal ketika itu dan masih bisa diajak berbicara logis—setidaknya, ia masih tahu bahwa ia adalah tokoh cerita. Semoga saja, orang itu masih waras seperti biasanya.

            Tetapi, betapa tidak beruntungnya Fiktus. Sesampainya ia di tempat-tempat cerita surealis dan menemui orang yang ia kenal, ia mendapati bahwa cerita orang itu sudah selesai ditulis. Ketika cerita seseorang sudah selesai, maka tidak ada lagi pilihan baginya untuk menjalani kehidupan sebagai tokoh cerita yang terikat dengan alur cerita tersebut. Seingat Fiktus, tokoh cerita yang ia kenal itu adalah seorang tokoh yang ingin membuat tangga menuju surga. Ia ditulis oleh seorang penulis tukang khayal yang suka membayangkan kalau surga berada di balik matahari. Kini cerita itu telah selesai, dan ia sedang sibuk membangun tangga untuk bertemu Tuhan.

            “Turunlah! Kamu itu hanya tokoh fiktif! Kamu tidak memiliki Tuhan atau semacamnya. Kamu hanyalah khayalan seorang penulis!” seru Fiktus kepadanya.

            “Tidak! Ada Tuhan yang menungguku di balik matahari sana!” jawabnya.

            “Kamu tahu wujudnya seperti apa? Baru seminggu yang lalu kamu menceritakan kepadaku tentang penulis yang menciptakanmu! Pikirkanlah! Kamu tidak lebih fiktif dari tangga tinggi ajaib yang sedang kamu naiki ini!”

            Orang itu tidak menggubrisnya. Fiktus berkali-kali berusaha meyakinkannya bahwa segala yang dialami orang itu tak lebih dari suatu kefiktifan yang diciptakan, namun orang itu tetap berkeras bahwa segala keajaiban dan keanehan yang ada dalam kehidupannya adalah sesuatu yang nyata dan bermakna. Fiktus menyerah, dan akhirnya ia pun meninggalkan orang itu dengan khayalan-khayalannya sendiri.

            Berkeliling di tempat cerita-cerita surealis memang merupakan salah satu hal yang dibenci Fiktus. Semakin lama ia berjalan, semakin ia menemukan orang-orang gila yang percaya bahwa kefiktifan dalam kehidupan mereka adalah manifestasi makna-makna untuk mereka pahami. Mereka terlalu banyak mengalami hal-hal surealis tanpa pada penjelasan tertentu, maka itulah mereka terikat dengan khayalan-khayalan. Maka, setelah sekitar dua jam Fiktus berkeliling, ia memutuskan pulang.

            Rupanya penulis ceritanya sudah kembali menulis. Tanpa diminta Fiktus, ia pun ditarik untuk kembali ke tempatnya. Ia akan kembali menjalani kehidupannya sebagai tokoh cerita yang membosankan dan datar. Kembali menjadi bahan pelampiasan si penulis terhadap konflik picisan yang ia hadapi. Ia takkan bisa menjadi tokoh dalam cerita yang nyata tetapi berat. Keberadaan fiktifnya sebagai tokoh hanya akan ada sebatas kisah-kisah picisan tanpa makna, dan ia akan menghilang dan usai sebagai sesuatu yang membosankan. Impiannya untuk bisa menjadi sepintar Multivac atau sekuat Minke, habis sudah.

            Tiba-tiba Fiktus menyala matanya. Ia pun berlari berlawanan dengan arah ia ditarik. Berusaha ia melepaskan diri dari gaya tarik itu dan berlari sekencang-kencangnya. Tanpa ia sadari, ia telah lepas dari gaya tarik itu dan kini berada di hamparan yang bukan tempat cerita-cerita surealis, bukan pula tempatnya. Tapi ia masih berlari, terus berlari hingga akhirnya ia sadar bahwa ia sudah berada jauh entah dimana.

            Ia bernafas lega. Ia tidak tahu akan kemana ia sekarang, tapi setidaknya ia sudah bebas. Maka, setelah mengusap-ngusap rambutnya yang keriting dan wajahnya yang gelap, lalu membenarkan posisi kacamatanya, ia pun melangkahkan langkah pertamanya dalam mengecap kebebasan.