Penulis
11 bulan lalu · 244 view · 4 menit baca · Filsafat 18239_42502.jpg
thenewyorker.com

Fiksi, Jalan Lain Kebenaran

Entah mengapa kita begitu rindu akan kepastian yang umumnya orang menyebut sebagai kebenaran. Hasrat akan kepastian sudah sebegitu penting melebihi kehidupan kita yang serba realistis ini. Sebab, kita sering kali terjebak dalam kepentingan-kepentingan lain yang justru sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebenaran.

Memang, untuk sampai pada kebenaran, seseorang membutuhkan sebuah alat atau tolok ukur. Sebab, kebenaran tidak pernah ada dalam dirinya sendiri. Ia selalu ditopang—sekurang-kurangnya—oleh sebuah instrumen yang disebut “akal sehat”, di mana semua orang merasa memilikinya.

Akal sehat sangatlah terbatas. Ia bahkan bisa bekerja hanya ketika seseorang memiliki kesadaran aktual.

Di luar itu, kita sering menghadapi jalan buntu dalam ruang ketidaksadaran. Itulah kenapa kita tak pernah bisa mengendalikan mimpi. Betapapun itu sebuah peristiwa kebenaran yang hadir dalam kehidupan aktual kita.

Jika agama disebut kebenaran, maka ia harus memiliki kesesuaian dengan akal sehat. Betapapun ia tidak nyata dan jauh melampaui akal pikiran yang rasional. Tolok ukur dari segala sesuatu yang sesuai dengan akal sehat sangatlah beragam, seperti nilai guna, berdampak secara psikologis, atau bahkan hanya sebatas aksi-aksi mental yang bersifat abstrak, tetapi akal sehat mengakuinya.

Sebagai contoh, jika seseorang sudah membulatkan tekad dalam keteguhan iman, pertama-tama seseorang tersebut akan mencari titik temu di mana akal dapat menerimanya. Selanjutnya, ia akan selalu memastikan bahwa apa pun bentuk ekspresi keimanan yang ia miliki, akan selalu cocok dan memiliki kesesuaian dengan realitas.

Itu artinya, iman memiliki logikanya sendiri di mana akal dibiarkan dapat menerima secara apa adanya dan dapat menolak secara apa adanya pula.

Jika yang kita maksud dengan akal sehat ini adalah segala sesuatu yang memiliki kesesuaian dengan realitas empiris, maka agama sama sekali keluar dari rasionalitas manusia. Tapi, kenyataannya, akal kita justru bekerja lebih banyak di ruang-ruang abstrak, bahkan sebelum realitas hadir dalam pengalaman kongkretnya

Misalnya, kita berpikir tentang ruang dan waktu, panjang, lebar, bilangan, dan hal-hal yang searah dengannya, kita justru sedang berpikir tentang abstraksi-abstraksi realitas yang tak memiliki hubungan langsung dengan kenyataan empiris. Di sini akal sehat kita sangat membantu dalam menghubungkan antara sisi abstrak itu dengan ruang pengalaman aktual.

Di sinilah cara kerja akal sehat dan tampaknya kebenaran tidak pernah dipahami sebegitu jauh melampaui akal sehat ini. Tetapi, adalah sebuah kekeliruan jika kita menganggap bahwa akal sehat ini sebagai tolok ukur dari segala sesuatu. Lebih tepatnya, ia adalah alat atau instrumen untuk membantu seseorang dapat sampai pada kebenaran.

Mari kita kembali ke hal-hal yang lebih konkret, seperti ilmu pengetahuan. Pada prinsipnya, ilmu pengetahuan hanya mengandaikan segala sesuatu yang bersifat empiris dan memiliki akar-akar indrawi. Di luar itu, ia tak dapat disebut kebenaran. Di sini, akal sehat tidak terlalu dibutuhkan. Sebab pengandaian ilmu pengetahuan selalu objektif dan apa adanya tanpa harus membebani akal yang justru akan merusak cita rasa kebenaran ilmiah.

Sampai di sini, kita sudah agak masuk pada ranah di mana akal pikiran tidak melulu menjadi jembatan menuju kebenaran. Meski tidak bisa dihindari bahwa akal selalu membantu dalam menjustifikasi kebenaran ilmu pengetahuan, tetapi ia bukanlah instrumen untuk sampai pada kebenaran jenis ini. Menjadi jelaslah bahwa kebenaran itu beraneka ragam dan ada banyak cara untuk sampai kepadanya.

Ilmu pengetahuan selalu membatasi diri pada hal-hal fisik dan sesuatu yang disebut meta-empirik sama sekali tidak mungkin dan dianggap telah keluar dari batas-batas kebenaran. Sudut pandang ini tidak hanya bersifat polemis, tetapi juga secara tidak langsung telah menyatakan perang dengan apa pun yang disebut kebenaran lain dan mungkin tidak mau menghargai jalan lain kebenaran.

Pengetahuan ilmiah telah menyatakan secara tegas bahwa kebenaran harus memiliki akar-akar indrawi dan sudah seharusnya memiliki hubungan yang pasti dengan kenyataan. Di luar itu, kebenaran menjadi tidak mungkin dan bahkan menjadi semacam omong kosong yang tidak berguna.

Di antara semua jenis kebenaran, tampaknya jenis kebenaran inilah yang paling keras dalam mengampanyekan kepastian, yakni sebuah kebenaran yang objektif dan apa adanya tanpa pengaruh apa pun di luar dirinya. Betapapun pernyataan ini menjadi tidak mungkin tanpa akal sehat, toh ilmu pengetahuan tidak pernah ada urusan dengan kesadaran.

Musuh terbaik dari jenis kebenaran empiris tak lain adalah dimensi kesadaran yang melampaui kesadaran. Ia sering disebut sebagai khayalan dan kisah rekaan yang hanya muncul dalam tubuh imajiner. Sebuah angan-angan yang sangat mewarnai aksi mental kehidupan manusia. Tetapi toh ia hanyalah khayalan, kisah fiksi yang tidak memilihi hubungan sama sekali dengan realitas.

Namun, benarkah khayalan bukan bagian dari kebenaran? Bukankah kehidupan kita lebih sering diwarnai oleh kecenderungan-kecenderungan berpikir yang melampaui akal sehat, seperti sesuatu yang memang sudah sangat alami bagi manusia? Sebuah pemikiran yang melampaui pemikiran dan ruang di mana kesadaran melebur bersama ketaksadaran dalam dimensi lain dan jalan yang berbeda.

Lalu bagaimana dengan fiksi sains/ilmiah? Bukankah ia bagian dari kisah khayalan yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan kemajuan untuk mengembangkan dan memprediksi masa depan? Bukankah tanpa ilmu pengetahuan empiris, fiksi ilmiah menjadi tidak mungkin?

Benarkah ia perpaduan antara khayalan dan kepastian realitas? Tanpa dijawab, kita sudah dapat menduga bahwa betapa akal sehat telah berkembang sedemikian pesat, betapa kebenaran tak pernah dapat berdiri sendiri.

Benarkah bahwa fiksi sains adalah cara untuk berhubungan dengan dunia lain yang pada akhirnya ingin mencapai kebenaran lain melalui jalan lain yang tak pernah bisa dimengerti oleh ilmu pengetahuan sekalipun? Meski ia imajiner, tetapi tidaklah keliru jika dikatakan bahwa cara kerja imajinasi adalah melampaui akal pikiran dan realitas empiris dalam ruang kebebasan. Sangatlah mungkin jika ia ingin mencari kebenaran yang paripurna dengan caranya sendiri.

Khayalan sering kali dimaknai sebagai sesuatu yang melampaui akal dan pengalaman. Jika kebenaran itu bersifat hierarkis, maka sangat mungkin jika angan-angan ingin mencapai kebenaran melalui tangga-tangga yang kasat mata dan keluar dari batas-batas akal.

Demikianlah, khayalan menjadi jalan lain untuk sampai pada kebenaran. Lagi-lagi, ia hanyalah instrumen, bukan kebenaran itu sendiri.