Saat Rocky Gerung dalam sebuah acara televisi mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi, publik geger. Meskipun Rocky sendiri telah memberikan penjelasan bahwa fiksi bukanlah kebohongan, namun tidak semua nalar publik mau menerimanya. 

Apalagi ketegangan politik membuat isu tersebut semakin ramai dibicarakan di dunia maya. Hingga beberapa orang akhirnya menyimpulkan bahwa Rocky telah menganggap kitab suci adalah sebuah kebohongan.

Jika kita melihat pernyataan tersebut secara lebih objektif, Rocky tidak sekalipun mengatakan bahwa Alquran adalah sebuah karangan manusia seperti novel, roman, atau cerita pendek. 

Pernyataan bahwa Alquran adalah fiksi mengandung kebenaran jika kita menggunakan definisi ‘fiksi’ secara tepat. Setidaknya, hal tersebut dikonfirmasi oleh Yuval Noah Harari, seorang ahli sejarah dari Universitas Havard, dalam bukunya yang terkenal, Sapiens.

Menurut Harari (2011), dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan pada dua macam realitas. Realitas pertama disebut dengan realitas objektif, yaitu realitas yang dapat kita amati dengan pancaindra, seperti sungai, singa, pohon, dan lain sebagainya. 

Realitas kedua disebut dengan ‘realitas imajinatif’, social construct, atau ‘fiksi’. Fiksi adalah realitas yang diyakini oleh banyak manusia, meskipun tidak memiliki ciri fisik yang dapat diamati. Harari secara eksplisit mengatakan, imagined reality is not a lie.

Sebagai contoh, “Indonesia” adalah sebuah realitas imajinatif. Kita semua percaya akan keberadaan Negara Indonesia, dan dunia pun mengakuinya. 

Namun, apakah kita bisa mengamati sebuah benda bernama “Indonesia” menggunakan pancaindra kita? Bagaimana bentuk “Indonesia”? Apa warnanya? Bagaimana baunya? 

Jika kita memperlihatkan Indonesia sebagai kumpulan pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke, maka itu adalah wilayah negara Indonesia, bukan Indonesia itu sendiri. Pulau-pulau tersebut sudah ada bertahun-tahun sebelum negara bernama Indonesia didirikan. Bahkan, jika suatu saat negara bernama Indonesia bubar, pulau-pulau tersebut akan tetap ada.

Saya berbohong ketika saya mengatakan bahwa di sebelah pulau Merauke, ada sebuah pulau bernama Jupiter, saat saya benar-benar yakin bahwa tidak ada satu pun pulau dengan nama itu. 

Namun, saya tidak berbohong ketika mengatakan bahwa ada sebuah negara bernama Indonesia, meskipun saya tidak akan pernah bisa menunjukkan benda yang disebut dengan Indonesia. 

Realitas tentang “Indonesia” hanya ada dalam imajinasi saya, Anda, dan manusia-manusia lain. Keberadaan Indonesia diwakili oleh berbagai macam realitas objektif: Presiden, wilayah, lembaga-lembaga negara, namun tidak ada satu pun dari representasi tersebut yang benar-benar merupakan “Indonesia” itu sendiri.

Lalu, mengapa kita, Homo sapiens, memproduksi fiksi? Fakta bahwa kita adalah satu-satunya spesies manusia yang tersisa adalah buah dari kemampuan kita dalam memproduksi fiksi. 

Fiksi membuat ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang saling bekerja sama tanpa harus mengenal satu sama lain. Kemampuan untuk bekerja sama dalam jumlah individu yang banyak adalah kekuatan terbesar yang tidak dimiliki oleh jenis manusia lain, dan membuat kita sebagai satu-satu spesies manusia yang lolos dalam seleksi alam.

Mari kita melihat beberapa contoh untuk membuat konsep di atas lebih jelas. Bayangkan 70 ribu orang sedang berkumpul di Stadiun Gelora Bung Karno untuk menyaksikkan sebuah pertandingan sepak bola. Jika Anda adalah salah satu dari penonton tersebut, Anda mungkin hanya mengenal 2, 3 atau 5 dari penonton-penonton lain. 

Beberapa mungkin mengenal sampai puluhan orang, tapi apakah 70 ribu orang itu saling mengenal satu sama lain? Tidak ada bukti yang dapat mengonfirmasi pertanyaan tersebut. 

Namun, fakta bahwa para pendukung tersebut berasal dari berbagai daerah dan tidak memiliki hubungan kekeluargaan satu sama lain, membawa kita pada kesimpulan bahwa manusia mampu bekerja sama tanpa harus saling mengenal. Para supporter tersebut bersatu atas satu nama “Indonesia”, suatu realitas yang hanya ada dalam imajinasi mereka.

Sebagai perbandingan, bayangkan 70 ribu simpanse sedang berkumpul di dalam stadion yang sama. Meskipun simpanse bukan berasal dari genus Homo (tingkatan takson yang menyatukan beberapa spesies manusia)namun simpanse adalah kerabat terdekat manusia yang masih ada. 

Simpanse memiliki hubungan sosial yang cukup kompleks. Mereka saling bekerja sama satu sama lain, bahkan, memiliki pola sosial-politik yang unik ketika menentukan pemimpin mereka yang disebut dengan alpha male. 

Namun, simpanse hanya dapat melakukan kerja sama dalam satu kelompok kecil yang hanya terdiri dari beberapa individu. Ketika ribuan individu tersebut dikumpulkan dalam satu tempat, maka yang akan terjadi adalah kaos. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk membangun fiksi yang dapat menjadi alasan bagi 70 ribu simpanse tersebut saling bekerja sama.

Mari kita membuat ilustrasi lain. Bayangkan satu simpanse dilepaskan di sebuah pulau tak berpenghuni bersama dengan satu orang Homo sapiens. Simpanse tersebut, dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya, kemungkinan besar akan hidup lebih lama daripada manusia. 

Namun, bagaimana jika seribu simpanse dilepaskan dalam pulau yang sama bersama dengan seribu Homo sapiens? Hasilnya kemungkinan besar akan berbeda. 

Untuk beberapa saat, manusia-manusia tersebut mungkin akan saling bertarung satu sama lain untuk memperebutkan sumber makanan, sama halnya dengan seribu simpanse yang dilepaskan di tempat tersebut. 

Namun, ada kemungkinan seribu manusia tersebut akan membangun satu fiksi untuk menyatukan seluruh manusia di tempat tersebut, mungkin atas kesamaan nasib sebagai orang yang terbuang. Mereka membangun peradaban, memperbanyak populasi, mendirikan perkampungan, dan hingga akhirnya, aktivitas mereka akan mendorong seribu simpanse menuju kepunahan.

Dari berbagai contoh di atas, kita telah melihat bagaimana fiksi memberikan dampak yang sangat besar bagi peradaban manusia. Fiksi mampu menyatukan umat manusia dalam jumlah yang tidak terbatas. 

Fiksi tentang nasionalisme mampu menyatukan umat manusia dalam suatu negara yang terdiri dari berbagai macam suku. Bahkan, fiksi tentang hak asasi manusia mampu menyatukan manusia dalam jumlah yang lebih banyak. Ratusan juta manusia dari berbagai negara, agama, dan suku dapat berdiri pada pihak yang sama atas nama kemanusiaan.

Namun, perlu menjadi catatan bahwa fiksi tidak selamanya membawa persatuan. Sejarah perang dunia telah menunjukkan kepada kita bagaimana ideologi, sebuah fiksi, membuat manusia saling bertarung satu sama lain. Manusia tanpa segan dan belas kasihan membunuh sesama manusia lain atas nama sebuah realitas yang hanya ada dalam imajinasi mereka. 

Fiksi dapat menyatukan dan dapat memecah belah, namun tidak ada satu alasan pun untuk mengatakan bahwa fiksi bukan sesuatu yang penting bagi umat manusia. Bahkan, tanpa kemampuan untuk memproduksi fiksi, suatu spesies bernama Homo sapiens mungkin telah menjadi fosil sejak puluhan ribu tahun yang lalu.