KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkata, anak muda NU akan bangkit 10 tahun lagi; mereka (kelompok radikal) akan kalah dengan anak muda kita. Sepertinya hal tersebut sudah dibuktikan oleh kiprah NU Backpacker di dunia petualangan alam bebas dan pelesiran yang mulai menampakkan tajinya. 

Apa hubungannya dengan kelompok radikal? Dunia pendakian dan petualangan alam bebas Indonesia pernah heboh oleh berita meninggalnya 15 anggota Santri Pencinta Alam Pondok Pesantren Ngruki Sukoharjo di Puncak Wadhal Gunung Lawu jalur Singolangu beberapa tahun yang lalu.

Siapa yang tak kenal Pondok Pesantren Ngruki Sukoharjo yang sudah dicap sebagai basis perlawanan ideologi Astung (Asas tunggal) Pancasila? Label biang teroris otomatis tersemat hingga pada tingkat santri pencinta alam (Sapala)-nya.

Bagi mereka, dunia pendakian dan petualangan alam bebas merupakan kegiatan yang cocok bagi pelatihan fisik yang terilhami oleh konsep Idad Quwah atau mempersiapkan kekuatan yang selaras dengan persiapan kuda-kuda perang yang ditambatkan. Terorisme memandang pendakian tak sekadar kontemplasi ataupun tadabur alam. 

Potensi dunia pendakian dan petualangan sebagai tempat-tempat latihan paham radikal bukan isapan jempol belaka. Kecenderungan kelompok-kelompok pencinta alam dan pendaki gunung yang sektarian juga terlihat potensial hingga sekarang.

Hal ini pernah dituturkan oleh salah seorang anggota Polhut (Polisi hutan) kawasan Tahura (Taman hutan raya) R. Soerjo dan kawasan hutan lindung Alas Lali Jiwo bahwa pergerakan pendaki berpaham radikal pernah menjelajahi komplek Gunung Arjuno-Welirang Jawa Timur. 

Potensi ini valid dengan dukungan beberapa kasus dan data dari Densus 88 Antiteror. Termasuk kasus penangkapan gembong Santoso di Gunung Rorekatimbu di Poso Sulawesi Tengah. Dan juga kasus-kasus yang lebih jauh seperti yang terjadi luar negeri seperti peristiwa di Gunung Toubkal Maroko.

NU Backpacker yang lahir dari rahim kebangsaan dan nasionalisme ala NU sepertinya dipersiapkan untuk menangkal paham pendaki radikal. Bendera, kaos, dan aksesori pendukungnya telah sukses dibuat. Nasionalisme juga menjadi trademark dan ikon kelompok ini.

Walaupun umurnya masih muda, kegiatan yang dilakukan cukup banyak. Di antaranya mulai menggarap bidang keagamaan seperti wacana fikih pendakian. Selain acara mendaki dan tadabbur alam, ada juga kelompok diskusi fikih pendakian yang membahas lengkap problematika peribadatan dan etika saat melakukan pendakian. 

Walaupun terkesan terlambat, karena pada dasarnya etika pendaki sudah termaktub dengan jelas pada kode etik pencinta alam yang mengatur hubungan alam dan pendaki puluhan tahun yang lalu. 

Apakah fikih pendakian ini merupakan wacana baru? Tentunya bukan. Banyak pendahulunya yang sudah merintis sejak dini. Semisal apa yang telah dilakukan oleh Mufti Wilayah Persekutuan Diraja Malaysia dengan mengeluarkan Fikih Pendakian Gunung Everest. Keren, bukan? Atau malah lucu? 

Saya pribadi mengusulkan untuk memasukkan NU Backpacker sebagai Banom (Badan otonom) yang berbasis kekhususan dan profesi di dalam tubuh NU. Peran aktifnya yang mulai terlihat jelas. 

Peran aktif terhadap tensi kekinian sepertinya memberikan warning terhadap Banom (Badan otonom) berbasis kekhususan dan profesi lainnya yang berstatus kurang aktif, sebut saja Isharinu (Ikatan seni hadrah Indonesia Nahdlatul Ulama). 

Diperkirakan dunia pendakian dan petualangan alam bebas akan makin berkembang dan melesat cepat untuk beberapa tahun ke depan. Efek dan imbas dari konsep pendidikan karakter dan semangat instagrammable di jagat maya.

Bukan hal mudah untuk menghimpun fikih pendakian. Apalagi membukukannya dalam bentuk buku saku. Seperti yang terjadi pada wacana fikih lingkungan hidup yang sudah bertahun-tahun hanya sebagai wacana dan diskursus yang ruwet. 

Buku yang terbit pun hanya pada kisaran yang berjudul wacana, seperti buku yang terbit dengan judul Merintis Fiqh Lingkungan Hidup karya KH. Ali Yafie.

Sudah kondang bahwa fikih itu dekat dengan ijtihad. Fikih pendakina berhubungan kuat dengan fikih safar atau perjalanan. Kita pun memahami bahwa fikih merupakan pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang cara mengetahuinya adalah dengan proses ijtihad. Artinya, jika tidak perlu ijtihad, maka bukanlah bagian dari fikih. 

Pengalaman pribadi ketika menerapkan disiplin cebok atau bab istinjak saat pendakian adalah selalu di wilayah ijtihad, artinya air dan batu sudah tidak mendapat porsi di wilayah batas vegetasi yang kering. Tisu basah dan sejenissnya yang jadi solusi. Bahkan kadang kaos dan celana dalam itu sendiri sebagai media pembersihannya.  

Belum lagi masalah bab pergumulan muhrim yang setenda campur aduk. Ini juga wilayah ijtihad yang kerap berlaku. Apalagia ketika keadaan darurat mematikan seperti hipotermia, memeluk dan mendekap (kalau perlu dalam keadaan bugil) juga sering dilakukan sebagai prosedur penanganan Medivac (Medical Evacuation) darurat yang cespleng. 

Bahkan kasus terakhir yang viral, seorang pendaki wanita disetubuhi untuk menghalau hipotermia, kurang ajar!

Yang menarik lagi pada wacana fikih pendakian ala NuBackpacker adalah masalah mistik pendakian. Kira-kira apa yang akan digarap mereka mengenai mistik pendakian, saya juga kurang tahu. Mistik pendakian adalah bumbu sedap bagi dunia petualangan alam bebas.

Baik pendaki berpaham radikal, kultural ataupun struktural pasti mengamini bahwa gunung adalah basis makhluk gaib sejak dahulu kala. Mistik pendakian akan selalu beriringan kuat dengan muatan lokal setempat. 

Tidak perlu mengusik tatanan gaib setempat. Karena yang lebih berhak menempati lanskap gunung adalah mereka. Kita hanya sebagai tamu.

Rencana hasil diskusi wacana fikih pendakian akan dikumpulkan dalam bentuk buku saku sebagai acuan mendaki. Kalau jatuh pada frasa buku saku tentunya tipis dan ringkas di saku celana kargo lebar khas pendaki sekalipun. Mungkinkah terkantongi semua persoalan fikih pendakian yang pasti bersumber dan berinduk dari fiqih yang rentan khilafiyah?

Mampukah buku saku fikih pendakian meringkas persoalan ibadah dan muamalah saat pendakian dan sejenisnya? Kutubus sittah saja berjilid-jilid.

Ayo, NU Backpaker semangat!