Una revolución es una lucha a muerte entre el futuro y el pasado (Sebuah revolusi adalah perjuangan untuk kematian antara masa depan dan masa lalu).

-Fidel Castro, 1961-

Akhir November 2016 memberi duka yang terdalam bagi dunia perjuangan; tamparan keras bagi para pejuang pergerakan; dorongan kesedihan bagi segala yang menamai diri dengan sebutan revolusioner. Seorang tokoh terdepan yang namanya senantiasa diagungkan oleh para aktivis sosial; dipuja-puja oleh anak-anak revolusi – meminjam bahasa Budiman Sudjatmiko; diabadikan dalam lembar sejarah manusia yang ingin merdeka, telah pamitan (izin pergi) kepada dunia lewat hembusan nafas terakhirnya.

Seperti katanya tentang revolusi antara masa depan dan masa lalu, begitulah semua orang mengenal gerakan perlawanannya terhadap segala bentuk penjajahan dan menggunakan strategi perjuangannya untuk gerakan-gerakan kemudian. Ia tidak hanya menjadi bunga mawar revolusi yang harum di tengah bau anyir darah dan nanah, tetapi ia telah membuktikan diri sebagai salah seorang pemilik kebun revolusi dengan bunga-bunga yang kelak akan menjadi aktivis sejati.

Segala kata-katanya menjadi air minum bagi bunga-bunga yang kehausan di tengah gersangnya tanah derita perjuangan. Setiap tingkah lakunya menjadi pupuk untuk membuat bunga-bunga kembali merasakan nikmatnya hidup di jalan penuh perlawanan.

Masa Lalu

Fidel Castro, begitu nama yang diberikan oleh ayahnya, Angel Castro, seorang petani gula kaya raya. Sejak kecil, Fidel diajarkan untuk menjunjung tinggi kemandirian dan kemenangan, teruma oleh para pendeta di bangku sekolah Jesuit. Fidel dikenal sebagai anak yang gemar membuat ulah, dan bakat itulah yang kemudian melambungkan namanya sebagai Robin Hood from Sierra Maestra.

Julukan tersebut tidaklah berlebihan mengingat sepak terjang Fidel yang hampir mirip dengan Robin Hood dalam ikhwal membela rakyat bawah. Fidel tercatat pernah melakukan kenakalan cerdik nan menarik tatkala mengadili para orang kaya di pengadilan palsu yang dibuatnya untuk membela petani lemah.

Bakat kecil Fidel terbawa sampai saat dia mengenyam pendidikan perguruan tinggi, terutama di Universitas Havana. Di Havana, Fidel terlihat sangat tertarik dengan mata kuliah ilmu sosial, meskipun ia mendapat gelar Sarjana Hukum.

Ketertarikannya terhadap dunia sosial dilatarbelakangi oleh keterlibatannya dalam dunia organisasi gerakan mahasiswa, Unión Insurreccional Revolucionaria yang membentuknya menjadi jiwa yang nasionalis dan anti-neokolim. Modal pergumulan dengan aktivis sosial tersebut digunakannya untuk membangun solidaritas gerakan sosial guna menghadapi kekuatan para mafia korup bersenjata yang menjalankan seluk beluk Havana.

Segala gerakan tak pernah sepi dari kekalahan, bukan kegagalan. Pun dengan Fidel, tatkala ia dipenjara setelah kekalahannya dalam proses penyerangan ke barak militer. Kekalahan tersebut menjadi pemacu dalam gerakan-gerakan penggulingan rezim militer kemudian.

Tercatat pada tanggal 26 Juli yang diabadikan sebagai salah satu gerakan perlawanan terbesar, Fidel kembali menjadi pemimpin barisan revolusi bersama sahabat karibnya yang satu nafas dan satu nyawa, Che Guevara (Simon dan Henry, 2010). Tekad revolusi yang dipegang sejak lama berbuah manis sekaligus menjadi sadis. Tergulingnya Batista pun diikuti dengan terbunuhnya sahabat karibnya. Naiknya Fidel sebagai perdana menteri pun diwarnai dengan isak tangis kehilangan sahabat sejati.

Mungkin sampai sini kita mengenang masa lalu Fidel sebelum sampai ke perjalanan berikutnya. Bukan karena penulis kehabisan kata-kata akibat tidak pandai beretorika, melainkan karena kematian Guevara dan Fidel merupakan satu proses kematian dari dua raga dengan satu jiwa, Hasta la victoria siempre, La historia me absorvera.

Masa Depan

Fidel ada di masa lalu dan di masa depan. Pemikirannya tak akan pernah bisa dihentikan oleh berbagai tekanan dan agresi pemusnahan. Seperti gurunya, Soekarno, Fidel menjadi adimanusia ‘ubermensch’ – meminjam istilahnya Nietzsche – yang segala idenya kan senantiasa abadi, meskipun ruh sudah terpisah dari jasmani. Seperti saudaranya, Guevara, Fidel telah menjadi manusia merdeka dengan tetap mengedepankan ideologi perjuangan revolusi dengan tanpa setengah hati.

Seperti kawannya, Hugo Chaves dan Morales, Fidel telah menjadi sosok pemimpin martir yang segala pengabdiannya ditujukan untuk kedaulatan negara. Seperti sahabatnya, Gus Dur, Fidel telah menjadi manusia yang menembus batas lebel atas nama agama.

Kiprah Fidel tentu mengandung lembaran pro dan kontra. Meskipun demikian, tidak tepat jika penulis mengklaim dan menjustis baik buruknya seseorang, melainkan cukup mengambil pelajaran penting untuk diaplikasikan dalam kehidupan yang syarat akan perjuangan.

Setidaknya ada dua hal penting yang bisa dipelajari dari sepak terjangnya seorang Fidel Castro. Dua hal penting ini sejujurnya telah sering dikemukakan dan dipraktekkan oleh pemimpin kita sendiri sekaliber Soekarno bahkan Gus Dur, tetapi jarang bagi kita menangkap dan mengejawentahkannya dengan penuh kesadaran diri sebagai seorang manusia yang perlu memanusiakan manusia.

Pertama, strategi silaturrahim – sebuah strategi yang juga dijalankan oleh Presiden keempat kita. Silaturrahim atau menjalin persaudaraan adalah syarat utama sebelum seseorang berani mencak-mencak sedemikian rupa. Secara logika, tidak mungkin Fidel akan berani membombardir pemerintah militer Batista yang mengantongi kode penembakan senjata ke setiap yang menentangnya.

Cara yang dilakukan Fidel sederhana, yakni dengan merekrut bekas para loyalis pemerintahan Carlos Prio Socarras yang masih menuntut balas dendam atas tindakan kudeta oleh Batista. Dengan strategi merekrut kawan dari golongan lain ditambah pematangan pasukan loyalisnya plus pengorganisasian kepercayaan rakyat, Fidel kemudian secara rasional berani melancarkan tekanan-tekanan terhadap Batista dengan tanpa terhalangi oleh arus bawah.

Kedua, strategi revolusi berdikari – sebuah strategi yang diajarkan oleh Presiden pertama kita. Tatkala menjabat sebagai pemimpin negara, Fidel tidak serta merta membuat kebijakan seperti negara-negara kebanyakan yang mirip secara garis ideologi. Hal yang dilakukan Fidel dalam proses public policy adalah dengan menyesuaikan gagasan ideologisnya dengan kondisi Kuba.

Hasil dari pernikahan keduanya nyata terlihat di tahun 1959 dan 1960. Fidel lebih berfokus kepada usaha kemandirian sistem politik dan ekonomi dengan cara membuka ruang politik kepada semua rakyat dan penguatan modal negara untuk membuat peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat.

Maka dimulailah proses nasionalisasi aset-aset, pengorganisasian ruang ekspresi politik dan pencegahan terhadap intervensi modal dari Amerika Serikat. Semua yang dilakukan Fidel semata-mata untuk membangun kebesaran negara Kuba dan memertegas kebijakan yang sesuai dengan rakyat Kuba dengan tanpa membeo kepada diskursus dan suntikan asing.

Akhirnya, jika Fidel berkata dengan tegas atas namanya demi kebebasan Kuba, maka dengan tegas pula kita pun musti berkata atas nama kita demi kedaulatan bangsa dan negara: Kita para Rakyat Indonesia yang akan membebaskan Bumi Pertiwi tercinta.