Mahasiswa
1 minggu lalu · 49 view · 3 min baca · Budaya 33698_72185.jpg
https://uangteman.com/blog/blog/4-budaya-lebaran-yang-hanya-ada-di-indonesia/

Festival Vs. Kesakralan

Pemaknaan seruan takbir dalam kegiatan takbir keliling

Takbir keliling adalah salah satu kegiatan rutin tiap tahun yang banyak diadakan di banyak wilayah di Indonesia. Meski belakangan tak sedikit pula yang memfokuskan daerahnya untuk menggemakan takbir di masjid atau musola saja.

Di daerah sekitaran saya tinggal, banyak sekali diadakan takbir keliling yang dilombakan, dibuat festival, maupun kombinasi antara keduanya. Biasanya sang pemenang akan mendapat hadiah utama hewan kurban, sapi atau kambing, sejumlah uang, sertifikat dan piala. Penontonnya? Banjir seperti air. Macet dimana-mana.

Dari tahun ke tahun, saya rasa properti (maskot dan pernak-pernik pakaian) yang digunakan oleh para pesertanya semakin wah, semakin bagus, komplit, menarik, dan semakin mahal. Biasanya ada yang menyewa ataupun membuat sendiri. Bahkan, karna saking rajin nya ikut festival atau perlombaan dimana-mana, pesertanya membuat properti dengan merek mereka sendiri agar bisa digunakan jangka panjang. Dan, sekaligus dijadikan bisnis persewaan.

Lafal takbir yang digaungkan akan dikombinasikan dengan berbagai macam genre musik-musikan dan lagu yang bisanya sedang populer di masyarakat. Semakin lengkap alat musiknya, semakin berwarna nada yang dihasilkan. Persiapan nya pun tak tanggung-tanggung, ada yang dua-tiga bulan sebelum hari-h perlombaan, ada pula yang sebulan, demi mendapatkan gerakan yang serempak dan luwes. Bahkan h-satu minggu pun ada. Dimaratonkan.

Peserta yang terlibat kebanyakan golongan pemuda. Namun ada pula yang mengikutsertakan anak-anak dan orang tua. Jumlah peserta yang banyak tentu akan menambah poin untuk memenangkan juara pertama. Para peserta yang tergabung dalam organisasi kepemudaan masjid menyibukkan diri hampir tiap malam melakukan latihan dan evaluasi. Apalagi kalau dekat-dekat malam perlombaan. Latihan akan semakin di-kenceng-kan. Tak jarang sampai larut malam.

Jika malam perlombaan tiba, lapangan akan ramai dengan maskot-maskot tinggi menjulang, berkelap-kelip emas atau perlampuan, berbagai macam bentuk, ada masjid, hewan, kereta, bahkan ada pula figur hantu-hantu seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, tuyul (yang menurut saya menjadi aneh jika kegiatan ini dimaksudkan pula untuk sarana edukasi masyarakat akan pentingnya makna Idul Qurban) dan lain-lainnya, menyesuaikan tema yang diarahkan panitia. Tak jarang pula peserta membawa bendera-bendera yang besar lalu dikibarkan mengitari barisan kelompoknya.

Sepanjang perjalanan para peserta akan menyerukan takbir sekeras-kerasnya dan diikuti gerakan-gerakan yang sudah dipelajari dengan mantap dan percaya diri. Yang paling ditunggu para penonton adalah sesi display. Ini adalah sesi yang ibarat ujung senjata, yang akan berperan penting untuk peperangan sengit memperebutkan gelar juara.

Banyak nya peserta akan menentukan kapan malam perlombaan akan berakhir. Rata-rata minimal paling cepat selesai pukul 12.00 malam. Padahal paginya, masih harus mempersiapkan sarana-prasarana solat Idul Adha. Belum lagi rasa pegal di kaki akibat jalan semalaman. Hal ini sering saya temui dan alami beberapa kali, dulu.


Tak jarang isu-isu seperti pemenang menggunakan backingan, sogokan, karna tuan rumah jadi harus dimenangkan, ‘karang taruna x memang sudah langganan juara’, tumbuh subur berseliweran dari mulut ke mulut para peserta yang daerahnya berdekatan. Sehingga tingkat ke-iri-an dan sifat kompetitif semakin meningkat.

Seruan takbir seolah-olah dipaksa untuk keras serempak. Agar bisa juara. Diteriakkan sekencang-kencangnya sampai serak atau sering disebut ‘dipol-polke’. Penjurian lain juga dilihat dari jumlah peserta, kombinasi gerakan, kostum, ke kompakan dan seberapa wah penampilan mereka di depan penilai. Ya, wajar, karna konsep kegiatan ini serupa festival.

Karna rutenya jalan besar, macet menjadi hal yang tak bisa dihindari. Sehingga para pengguna jalan harus mengambil rute jalan tikus yang berkelok-kelok dan memutar. Paginya, selepas malam perlombaan pun tak jarang sisa-sisa sampah berserakan disepanjang rute jalan peserta. Plastik-plastik bekas jajanan dan bekas kembang api tak sulit ditemui. Sungguh disayangkan. Cinta kasih dan kepedulian lingkungan menjadi tercoreng. Yang menurut saya bahkan lebih utama dibandingkan memperoleh gelar, kebanggaan dan gengsi  juara.

Yang saya takutkan adalah, makna takbiran sesungguhnya yang menyebar di masyarakat adalah bukan tentang mengagungkan nama Sang Pencipta, Sang Pemberi Kasih. Namun malah beralih menjadi berkumpul tiap malam untuk latihan perlombaan sekeras-kerasnya supaya bisa menyabet juara lalu mengadakan syukuran dengan sekadar makan bersama.

Sehingga yang tertanam dalam benak dan ingatan bukan lah seruan diri pada ilahiah yang menjurus pada akhirat, namun justru rasa kompetitif dan euforia festival takbir keliling di dunia. 

Bukan saya tidak menyetujui kegiatan semacam ini, saya hanya berharap sebagai sesama muslim yang juga sama-sama berjuang memaknai takbiran pada Hari Raya Idul Adha kali ini saling ingat-mengingatkan, akan esensi seruan takbir khususnya untuk diri pribadi setiap orang.


Yang menjadi pertanyaan untuk saya dan anda sekarang ini adalah, sudah berapa sering kita menggemakan dan menyerukan sekuat-kuatnya nama Sang Maha Besar dalam hati kita yang terdalam? Seberapa sering kita bermesraan dan mengingat kehadiran Allah yang terserap dalam setiap nadi tubuh kita?

Artikel Terkait