Mahasiswa
2 minggu lalu · 363 view · 4 min baca · Hiburan 94753_61711.jpg
IFF

Festival Film Israel di Negara Satelit

Saat membincang Bugis Juction di Singapura, yang saya ingat saat itu hanya hal-hal ekstraordinari saja. Layaknya pusat bisnis dan perbelanjaaan, tak jauh beda dengan enklaf-enklaf ekskluif yang ada di Indonesia. 

Bugis Junction merupakan salah satu ikon perbelanjaan massal di pusat Singapura yang bersaing dengan Mustafa Center dengan enklaf India. Spesialnya, Bugis Junction punya etika window shopping yang cukup menggelikan. Terutama di pusat-pusat ToySex Shop yang banyak bertebaran di Bugis Junction. 

Siapa pun boleh masuk, tak ada rated-nya. Calon pembeli bebas melihat, memilih, dan membeli pernik-perniknya. Cuma, kalau kita hanya mematung menikmati filsafat penciptaan alat bantu tersebut, seketika akan diusir keluar. 

Nah, di Bugis Junction inilah akan digelar Festival Film Israel yang ke-27. Walupun tidak berjenis festival internasional, acara ini mempunyai anomali yang menarik dari festival-festival film lokal lainnya.

Anomali pertama adalah tempat penyelenggaraannya. Lazimnya festival film lokal akan merapatkan diri di area yang membesarkannya, alias bersifat endemik. Sebut saja Festival Film Haifa, penyelenggarannya di kota Haifa Israel. 

Kemudian adal lagi yang kontroversial, seperti Festival Film LGBT Tel Aviv yang juga diselenggarakan di kota itu sendiri. Sedang pesertanya, selain dari lokal, juga bisa bisa undangan luar.


Festival Film Israel awalnya digelar di Amerika Serikat. Kemudian melebarkan sayapnya ke Asia Tenggara, Singapura. Sudah beberapa kali Singapura dijadikan tuan rumah. Namun, hingga kini, tidak ada kecaman ataupun pro-kontra sineas dunia, seperti yang pernah terjadi saat Festival Film Israel tersebut digelar di Inggris. 

Di dalam sebuah dunia festival film, insan perfilman yang berkecimpung tidak selalu berbicara tentang estetika layar lebar. Ada juga pengaruh-pengaruh ideologi, politik, permafiaan, dan bisnis besar di dalamnya. Mereka yang terlibat juga punya visi untuk mendapatkan brand tertentu yang berbasis valuasi ekonomi.

Apakah Festival Film Israel ini mempunyai tujuan propaganda ke arah ideologi dan politik? Tunggu dulu, mari kita baca sinopsis dan kita tonton, paling tidak trailer-nya, walau itu belum mewakili keseluruhan alur cerita. Minimal kita sudah mempunyai bahan dasar dan modal untuk beropini. Tidak langsung mencak-mencak karena Israelfobia.

Festival Film Israel ini memboyong sejumlah film yang bertema tentang kehidupan di Israel. Ada enam judul film yang akan berlaga, yaitu Echo, Laces, Family In Transition, The Unorthodox, The Other Story, dan The Last Band in Lebanon.

Setelah saya baca sinopsis dan nonton beberapa trailer-nya, komposisi perwajaan sinematiknya cukup lumayan. Sudah mengadopsi teknologi yang mumpuni. 

Tema ceritanya tetap dengan gaya khas festival film lokal Israel lainnya, yaitu memproyeksikan: A country represented by a vibrant melting pot of different cultures and traditions. Singkatnya, tentang pluralitas dan prinsip-prinsip kesetaraan pada umumnya.

Festival Film Israel tampaknya tidak membidik sisi branding yang bertujuan mencari pemasukan dari sebuah valuasi yang tangible. Festival ini lebih mementingkan sisi propaganda dan nilai moralitas yang diangkat oleh masing-masing judul film. Terlihat dari santainya dalam urusan promosi dan periklanannya. 

Anda akan cukup kesulitan mendapatkan informasinya. Kecuali jika akun Facebook Anda tersambung dengan akun Israel in Singapore.

Penyelenggaraannya kok berada di Singapura? Ya, tentu dong, fungsi negara satelit Singapura adalah jawabannya. Investasi Israel di Singapura sangat besar dan aman. Siapa pun akan ngiler dengan pelayanan keamanan investasi di Singapura. Satu-satunya negara Asia Tenggara yang boleh dikatakan sebagai negara yang zero criminal.

Singapura yang beraptronim (berjuluk) Kota Singa (Lion City) itu mempunyai kesetiaan ideologi dan militer kepada Israel, serta mempunyai hubungan yang cukup istimewa dengan negara yang mempunyai kekuatan hegemonik besar itu. 


Kedua negara membangun hubungan diplomatik sejak Mei 1969. Singapura juga merupakan salah  satu dari 41 negara yang tidak ikut memberikan suara dalam Resolusi Status Palestina dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa pada pertemuan Majelis Umum PBB tanggal 29 November 2012.

Hal tersebut menjadikannya sebagai negara yang bukan Anggota Pemerhati Status Palestina. Sikap Singapura tersebut adalah salah satu bentuk hak bebas berpendapat, bersuara, memilih, dan berkeputusan sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Namun, itu semua di atas tidak ada hubungannya dengan konten film-film yang akan diputar pada Festival tersebut. Justru film-film yang difestivalkan sangat menyuarakan kebebasan, kesetaraan, dan isu-isu antiapartheid. 

Lihat saja pada film The Last Band in Lebanon. Sekilas dari judul dan poster filmnya cukup memberi berbau band dengan makna brother in arm atau loyalitas pleton tempur, seperti pada judul-judul miniseries kekinian, Band of Brothers, yang kental dan sarat dar der dor senapan dan guncangan peledak.

The Last Band in Lebanon cenderung menetralkan ketegangan antara kombatan IDF Israel dengan kombatan Hezbollah dengan paradoks-paradoks yang tajam dan mendidik. Pada film ini, IDF Israel benar-benar ditelanjangi megalomaniaknya.

Pada beberapa adegan, Eliran Malka, sang sutradara cerdas, memberikan parodi-parodi dengan ungkapan dan kalimat yang cukup menggelitik, namun tajam dan sarat makna. 

Ungkapan dan kalimat tersebut seperti: Take off my IDF uniform (penetralan status represif milter); Ron Arad's House of POW (antikorporat hedonis); I'm musician, I never held the gun (cinta damai); So you left the drug behind? (kebalikan dari left your friend behind yang merupakan semboyan khas jiwa korsa).

Tertarik hadir ke festivalnya? Ingin tahu kehidupan sosial di sana versi sineas-sineas libertarian Israel? Monggo saja.

Artikel Terkait