Saat saya sedang iseng-iseng scroll media sosial Twitter, saya menemukan satu hal yang menarik. Di kolom trending sedang ada satu tagar bernama #FerdianPaleka yang cukup menarik perhatian saya. Menarik perhatian karena saya kira Paleka mungkin ada sangkut paut dengan orkes palapa, dan jadi pertanyaan dalam benak saya. Ini orang siapa dan kenapa trending?

Alhasil saya tekan tagar trending di Twitter itu karena penasaran. Terakhir saya lihat masih trending nomor satu di Twitter dan kurang lebih ada 30 ribu lebih cuitan soal Ferdian Paleka ini. 

Ternyata oh ternyata, tapi saya tidak terlalu kaget karena Twitter itu isinya kebanyakan skandal sama orang-orang bikin sensasi, Ferdian Paleka ini adalah seorang (((konten kreator))) berbasis platform YouTube. Kurang dari 24 jam terakhir Ferdian viral karena ulah dia sendiri. Bikin prank ngasih sumbangan tapi isinya sampah.

Kok bisa kepikiran ya, si Ferdian ini bikin ulah dan konten begitu gobloknya.

Saya masih sempat nonton videonya. Pokoknya isinya adalah di Ferdian Paleka bersama teman-temannya ini keliling di beberapa tempat dan dia bawa kardus mi instan yang sudah dia isi dengan sampah dan batu. Iya, ini beneran sampah dan batu. 

Yang bikin hebohnya lagi, Ferdian Paleka memberikan 'bingkisan sumbangan' ini ke beberapa waria/transpuan. Sebelum dia melaksanakan aksinya ini, si Ferdian beralasan melakukan ini karena (((agama))). Meminjam salah satu kalimat ustaz terkenal, saya ingin menyampaikan "Matamu picek!" Astagfirullah, ampuni Baim yawloh

Tapi saat saya melihat-lihat dan sedikit mengorek informasi seadanya di media sosial dan platform tempat dia (((berkarya))), saya pikir ternyata ini bukan kesalahan si Ferdian belaka. Betul, saya beneran ngomong ini. Ferdian Paleka nggak sepenuhnya salah, kok. Eitss, jangan kesal atau marah dulu dengan tulisan ini. Simak baik-baik makanya, brooo.

Ferdian Paleka ini adalah Youtuber asal Bandung (kalau nggak salah) yang punya dua saluran YouTube, satu bernama Ferdian Paleka dan satunya lagi bernama Paleka Present. Saya nggak tahu bedanya apa, tapi isinya sampah semua. 

Kebanyakan konten YouTube-nya cuma berisi video challenge bersama dengan cewek-cewek cantik dan seksi, lalu dengan judul clickbait semi cabul. Para penonton videonya nggak sedikit, video terakhir saja menyentuh angka satu juta! Ada saja yang nonton dan share? Mending nonton bokep aja, cuy. Nanggung. 

Apa bedanya konten prank dan konten lainnya? Sama-sama eksploitasi. Yang satu eksploitasi tubuh perempuan dengan cabul, yang satu eksploitasi masyarakat bawah khususnya para waria. Secara gak langsung yang nonton channel dia membuat dia makin menjadi-jadi, Hhhhhhh.

Kalau kita lihat kasus-kasus yang terjadi di media sosial, mau di platform mana pun semuanya hampir sama polanya. Awalnya bikin konten sampah, masih ditonton sampai orang-orang yang gak punya prestasi itu punya influence yang cukup besar, setelah itu dia berbuat salah yang agak keluar batas kita baru kesal. 

Ke mana aja? Kenapa tidak dari awal? Kebanyakan dari kita cuma nunggu, pantengin weh sampai dia bikin sensasi. Para netizen pun juga drama kebanyakan.

Budaya masyarakat kita dalam mengakses internet akhir-akhir ini memang tidak baik. Konten-konten yang tidak bermutu dan setidaknya punya nilai khas justru makin terpinggirkan. Ferdian Paleka ini cuma salah satu dari sekian banyak konten kreator yang tidak jelas. Masih banyak di luar sana, saudara-saudara.

Kita sebagai masyarakat dunia maya harusnya pun tahu bagaimana mengakses internet dengan bijak. Walaupun internet itu memang bebas tidak seperti dunia realitas, jangan lupa kita yang melahirkan orang-orang macam Ferdian Paleka itu. 

Contoh kasus yang mirip dengan si Ferdian Paleka masih lumayan cukup dekat dan juga sangat menyebalkan. Masih ingat saat ada tren prank ojek online?

Untuk prank ojek online ini parahnya jadi tren yang hampir dilakukan oleh banyak orang, bahkan sampai beberapa publik figur yang ikutan jadi youtuber. Awalnya konten macam itu sedikit, lama-lama orang suka eh sadarnya belakangan kalau itu nggak baik, eksploitasi kemiskinan dan tidak manusiawi. 

Syukurnya, kali ini kasus Ferdian Paleka tidak sampai jadi tren diikuti oleh para konten kreator lain. Nggak tahu ya, mungkin efek Ramadan dan pandemi yang membuat kita sensitif soal kemanusiaan.

Kalau tidak suka dengan LGBT atau waria karena agama, ya nggak apa. Saya juga orang yang memegang prinsip demikian. Tapi, agama mana pun nggak mengajari umatnya buat prank bantuan kemanusiaan. Nanti orang-orang nggak percaya sama orang yang mau berbagi gimana, blok!

Kasus Ferdian Paleka kali ini mari kita jadikan muhasabah buat diri kita masing-masing. Muhasabah kenapa bisa lahir orang-orang macam itu, apakah ada peran kita karena ikutan nonton, kah? Atau teman-teman kita sendiri yang suka nonton tapi ndak kita tegur. 

Ini juga jadi muhasabah buat para konten kreator. Ingatlah bahwa konten anda sekalian itu nggak akan dibawa ke akhirat. Nggak akan ada pertanyaan di akhirat sana "aina konten laka?" Hhhhhh.