Jujur, saya bukan seorang penggemar Drama Korea. Hanya beberapa judul Drama Korea saja yang pernah saya tonton, seperti Boys Before Flowers, Descendant of The Sun, hingga yang terakhir adalah My Girlrfriend is An Alien; itu pun tidak saya tonton sampai selesai.

Tetapi entah kenapa beberapa minggu ini saya mendapati booming dan viralnya Drama Korea yang berjudul “The World of The Married” di beberapa media sosial, akun gosip di televisi, bahkan saya sempat mendengar topik ini di percakapan ibu-ibu tetangga saya. Sehingga, saya pun juga tertarik untuk menontonnya.

Drama Korea ini termasuk kategori drama dewasa, di mana dalam drama tersebut diceritakan tentang kehidupan rumah tangga yang digoyang isu perselingkuhan. Drama ini menjadi populer dengan rating tertinggi menggeser posisi drama yang berjudul Sky Castle.

Walaupun, saya sendiri masih lajang alias belum pernah mengalami kehidupan rumah tangga itu seperti apa, tetapi tidak ada salahnya lewat fenomena booming dan viralnya Drama Korea tersebut. Saya ingin mengulas sedikit alur cerita “The World of The Married” dan beberapa hal yang menurut saya penting dan bisa dijadikan pelajaran bagi kita semuanya

Sebelumnya, dalam drama tersebut, diceritakan tentang Jii Sun Woo, seorang istri yang juga berprofesi sebagai dokter. Suaminya yang bernama Lee Tae Oh adalah seorang yang berprofesi sebagai produser, yang kemudian berselingkuh dengan sosok wanita muda yang cantik bernama Yeo Da Kyung.

Konflik ini dimulai sejak episode pertama, yakni ketika Jii Sun Woo menemukan sebuah lipstik dari mantel suaminya Lee Tae Oh. Di situ ia mulai curiga bahwa suaminya  berselingkuh, dan ia pun menyelidiki sendiri perselingkuhan suaminya yang ternyata benar.

Kenyataannya, rasa kecewa makin bertambah lantaran perselingkuhan suaminya telah diketahui oleh beberapa teman kepercayaan Sun Woo sendiri dan kemudian ia memutuskan untuk bercerai.

Tidak hanya berhenti di situ saja ceritanya, masih banyak sekali konflik yang muncul setelah akhir perceraian tersebut, yang pastinya bisa kalian tonton sendiri, ya.

Dari uraian singkat di atas, ada beberapa poin yang saya rangkum sebagai berikut. Pertama, cinta bukanlah segalanya.

Kenapa aku bilang cinta bukan segalanya? Sebab saya pernah membaca buku yang berjudul “Pelangi di Akhir Badai” karya Adriana S. Ginanjar, bahwasanya suatu hubungan, apalagi hubungan yang sudah dalam tahap mahligai pernikahan, sudah tidak ditentukan dengan hanya saling mencintai saja, tetapi harus ada saling percaya, tanggung jawab, toleransi, hingga komitmen yang kuat di antara keduanya.

Kedua, komunikasi adalah jalan keluar dari segala kesalahpahaman.

Saya pernah belajar di mata kuliah sosiologi. Saat semester dua, yakni tentang teori Interaksi Simbolik oleh George Herbert Mead, teori ini merupakan suatu hubungan komunikasi antar-individu yang saling berkaitan atau menguntungkan. Jika komunikator merasa untung menyampaikan informasinya dan komunikan juga merasa untung menerima informasi tersebut, maka dapat dikatakan teori ini berhasil dilakukan.

Saat diaplikasikan ke dalam suatu hubungan antar-pasangan, jika ingin suatu hubungan yang sehat, maka memang benar bahwa komunikasi di sini sangat penting sekali. Komunikasi adalah tugas kedua-duanya,bukan salah satu individu saja.

Dengan komunikasi akan saling mengetahui, apa yang disenangi oleh pasangan, apa yang membuat marah pasangan, apa yang diinginkan pasangan, dan apa yang harus dievalusi oleh pasangan. Jika tanpa komunikasi, lantas bagaimana cara pasangan bisa menentukan sikap?

Ketiga, balas dendam bukan cara yang terbaik dalam menyelesaikan masalah.

Setelah mengetahui perselingkuhan suaminya, Jii Sun Woo, dalam drama ini, melakukan sebuah kesalahan yang fatal juga menurut saya. Ia pun ikut selingkuh dengan teman suaminya sekaligus tetangganya, yang bernama Son Je Hyuk. Padahal, seharusnya balas dendam seperti itu tidak harus dilakukannya dan malah akan memperparah keadaan.

Keempat, selalu memikirkan dampak dari perceraian.

Dalam drama ini, pasangan Jii Sun Woo dan Lee Tae Oh memiliki anak yang bernama Jeo Jin-seo, seorang remaja berumur 13 tahun. Jii Sun Woo diceritakan sudah mengetahui perselingkuhan ayahnya sendiri saat acara ulang tahunnya, bahkan mengetahui secara langsung ketika ayahnya telah melakukan tindak kekerasan terhadap ibunya.

Ingatlah, bahwasanya anak adalah korban utama dari sebuah perceraian. Ia akan mengalami trauma berkepanjangan sepanjang hidupnya.

Kelima, bersyukur terhadap apa pun yang sudah dimiliki.

Drama ini memperkenalkan Yeo Da Kyung sebagai sosok yang merebut hati Lee Tae Oh dari Jii Sun Woo atau istilahnya sang “pelakor”. Jujur saja, adegan-adegan yang melibatkan Yeo Da Kyung menurut saya selalu membuat gereget. Ia digambarkan sebagai wanita yang tidak tahu malu, egois, dan merasa tak berdosa. 

Tapi dalam realitasnya, saya sangat mengapresiasi Han So Hee yang menurut saya sangat berhasil dalam memerankan sosok Yeo Da Kyung dengan sangat baik.

Itulah mengapa kita diharuskan selalu bersyukur. Jangan pernah melupakan prinsip Tuhan. Bahwasanya segala yang kita miliki adalah pemberian yang terbaik dari Tuhan dan apa yang dimiliki oleh orang lain adalah versi terbaik bagi orang lain. Ingat, kebahagiaan bukan didapat dengan cara merebut milik orang lain.