Pengaruh era transformasi globalisasi 4.0 yang terus dikembangkan saat ini dampaknya mulai terasa, banyak teknologi yang memfasilitasi dan mempermudah hidup seperti smartphone canggih yang di dalamnya terinstall aplikasi aplikasi yang menyediakan kebutuhan sehari-hari seperti online shop dan ojol yang membuat para remaja saat ini mengalami fenomena kurang gerak.

Contoh canggihnya teknologi tersebut, sekarang ini para remaja terutama para generasi Z dalam membeli barang atau makanan cukup mengklik dalam aplikasi maka barang atau makanan tersebut akan diantar ke rumah, tanpa susah payah keluar rumah.

Tak hanya mudah dan praktis dalam pembeliannya, namun terkadang membeli secara online juga lebih efisien dalam ekonomi karena karena banyaknya diskon atau voucher yang disediakan aplikasi-aplikasi pemesanan tersebut. Walaupun terkadang juga malah lebih boros karena terdapat tambahan ongkos kirimnya.

Namun walaupun terkadang lebih murah atau terkadang lebih boros mereka tetap menggunakan aplikasi ini karena  sudah menjadi kebiasaan yang telah tertanam mendarah daging sehingga mereka selalu melakukannya hampir setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Dampak posistif Kemajuan teknologi adalah kehidupan menjadi lebih mudah karena semua menggunakan internet sehingga sewaktu-waktu ada barang yang di butuhkan, barang tersebut dapat dibeli karena bisa diakses kapan pun dan darimana pun selama ada internet, tanpa membuang banyak waktu dan tenaga.

Namun disisi yang lain, perubahan dan perkembangan teknologi juga membawa dampak negatif yaitu ancaman kesehatan yang berupa gangguan fisik karena kurang bergerak dan gangguan secara psikis karena kurangnya bersosialisasi. Dan dampak yang lainnya adalah tumbuhnya budaya hidup individualis dan meningkatnya gaya hidup yang konsumtif.

Dan dampak negatif tersebut menjadi tantangan serius bagi remaja sebagai generasi muda bangsa yang akan melanjutkan tongkat estafet bagi generasi sebelumnya dalam melanjutkan perjuangan dan keberlangsungan negara Indonesia ini.

Menurut WHO, yang disebut remaja adalah mereka yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 sampai 24 tahun.  Atau secara agama anak-anak dapat disebut remaja ketika mereka mengalami akil baligh  yaitu saat laki-laki mengalami mimpi basah dan perempuan mengalami menstruasi.

Masa remaja adalah masa di mana tingginya rasa keingintauan dan besarnya rasa penasaran, pada masa ini para remaja sedang ada dalam proses pencarian jati diri mereka, yang membuat mereka memiliki rasa semangat yang tinggi serta tak suka terikat dengan suatu peraturan. 

Hal itu wajar karena mereka memasuki fase baru di mana mereka meninggalkan masa kesenangan bermain menuju masa yang lebih serius dalam menentukan tujuan hidup mereka.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 telah membawa dampak yang besar bagi remaja terutama generasi Z. Karena pada masa tersebut terdapat aturan pemerintah seperti PSBB dan PPKM yang membuat mobilitas masyarakat dibatasi. 

Karena aktivitas yang dibatasi akhirnya masyarakat melakukan segala aktivitasnya seperti belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Karena itulah banyak remaja yang kurang gerak karena mereka tidak banyak melakukan aktivitas di luar rumah, jadi setelah mereka belajar daring di rumah mereka biasanya langsung tiduran, bermalas-malasan dan jarang berolahraga.

Karena banyaknya watu luang, banyak remaja dan generasi Z yang menghabiskan waktu mereka dengan rebahan atau duduk berjam-jam sambil bermain handphone seperti main game, chatting, scroll media sosial dan sebagainya. Yang tanpa mereka sadari hal ini berdampak pada kondisi fisik mereka yang menurun atau yang akhir-akhir ini disebut remaja jompo.

Sekarang ini banyak remaja yang menyebut diri mereka sendiri sebagai remaja jompo. Alasan remaja tersebut menyebut dirinya jompo adalah karena mereka merasa mudah sekali merasakan malas, renta atau lemah. 

Para remaja ini merasakan bahwa dalam beberapa waktu ke belakang ini mereka berubah menjadi orang yang sering merasa pegal-pegal, capek, letih, nyeri dan sebagainya. Padahal mereka baru melakukan aktivitas fisik dalam kurun waktu sebentar saja.

Saat merasakan hal itu, beberapa remaja membuat tweet di twitter atau membuat vt di tiktok yang menceritakan apa yang mereka rasakan sebagai remaja jompo tersebut. Namun kocaknya ternyata banyak sekali remaja yang komen ikut mencurahkan isi hatinya mengenai kondisi anehnya dan mengaku mereka juga bernasib sama serta  merasakan hal serupa. Dari sinilah viral fenomena baru yaitu remaja jompo.

Lantas apa sebenarnya yang menjadi penyebab fenomena remaja jompo? Berikut ini beberapa penjelasannya :

1. Kurang lakukan aktivitas fisik atau berolahraga

Faktor yang dapat menyebabkan remaja cepat lelah dan pegal, salah satunya kurang beraktivitas fisik atau berolahraga. Penelitian dari University of Georgia mengungkap bahwa berolahraga ringan dapat meningkatkan energi hingga 20 persen dan menurunkan tingkat kelelahan tubuh hingga 65 persen.

2. Posisi duduk yang salah atau tidak sempurna

Posisi duduk yang salah juga dapat membuat remaja mudah sakit dan pegal, atau bisa juga dikarenakan durasi duduk yang lama tanpa diselingi peregangan. Umumnya terjadi pada area punggung dan pinggang.

3. Tekanan darah rendah

Tekanan darah rendah atau hipotensi ortostatik bisa menyebabkan gejala lemas dan pusing. Kondisi saat tekanan darah rendah pun berada di bawah nilai 90/60 mmHg dari tekanan darah normal orang dewasa di sekitar 120/80 mmHg. 

Ketika orang berbaring, darah akan berkumpul di kaki. Ketika orang berdiri darah belum sempurna dialirkan ke jantung. Sehingga otak kurang dapat aliran darah, sehingga muncul gejala lemas dan pusing.

4. Mengalami Stress

Stress juga bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan remaja mudah merasa lelah serta sakit. Remaja sering kali mengalami stres akibat masalah kehidupan sosial, seperti hubungan kerja, pertemanan, persoalan akademis, dan situasi pandemi Covid-19.