Apakah kalian pernah mendengarkan kata “fomo” sebelumnya? Fomo berasal dari bahasa inggris yaitu (Fear of Missing Outmempunyai arti orang-orang takut ketinggalan atau kehilangan sesuatu seperti trend terbaru dan hal-hal yang lagi booming.

Remaja pada masa sekarang sering menggunakan social media mereka untuk mengunggah apa yang mereka suka, mulai dari gaya hidup, gaya bersosialisasi, dan gaya mereka dalam meng influence orang-orang.

Pada saat sekarang social media juga dapat dijadikan alat untuk berekspresi sesuai apa yang kita rasakan dan kita mau, karena social media bisa kita gunakan di mana saja.

Di sana kita dapat mengunggah apa yang menurut kita menarik dan bagus untuk di unggah, kita juga bisa mengunggah momen kebersamaan kita bersama orang orang tersayang dan banyak lagi.

Social media untuk saat ini sangat disukai dari berbagai kalangan mulai dari muda hingga tua, karena di sana mereka mendapatkan berbagai hal yang mereka sukai mulai dari hiburan hingga belajar melalui gadget.

Pengguna social media juga bisa mencapai miliaran orang dari berbagai macam negara yang ada didunia, karena banyaknya pengguna social media  dari berbagai macam manusia didunia.


Kita bisa melihat kebudayaan yang mereka angkat atau dijadikan konten di jejaring social media mereka pribadi dengan tujuan untuk mengenali budaya mereka kepada dunia.

Mereka biasanya mengunggah seperti adat istiadat, makanan atau kuliner khas negara mereka, dan tentang daily life mereka. Banyak orang yang tertarik dengan jejaring social media, karena di sini kita juga dapat mempunyai penghasilan.

Dengan menjadi influencer di social media kita bisa menghasilkan uangkebanyakan orang berlomba untuk menjadi seorang influencer atau yang biasa disebut sebagai selebgram atau selebtok.

Selebgram merupakan orang yang bisa dan dapat meng-influence di media sosial tau di aplikasi yang bernama instagram. Selain itu, ada juga istilah yang sering didengar yaitu selebtok. Selebtok merupakan orang yang dapat meng-influence di media sosial atau aplikasi yang bernama tiktok.  

Dengan mereka menjadi seorang influence mereka dapat menghasilkan uang dengan cara mereka meng-endorse  barang-barang  yang biasanya dijual oleh pedagang.  

Endorse merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dan memiliki  tujuan sebagai promosi barang atau produk dengan menggunakan orang lain (influence) untuk dapat mendukung produk atau jasa yang biasanya ditawarkan.

Dengan demikian biasanya mereka (influencer) sering ditawarkan berbagai produk atau jasa promosi yang biasa sesuai dengan apa yang mereka unggah di social media.

Jika mereka sering mengunggah tentang cara mereka berdandan menggunakan make-up, maka mereka biasanya akan mendapatkan endorse berupa make-up itu sendiri untuk mereka promosikan di akun miliki mereka pribadi.

Tidak hanya itu, ketika influence mempunyai hobi berolahraga biasanya mereka juga dapat barang endorse berupa peralatan olahraga atau peralatan kesehatan yang menunjang mereka untuk melakukan olahraga.

Dengan demikian para influence semakin hari semakin banyak, karena semua orang sekarang berlomba-lomba untuk menjadi seorang influencer. 

Mereka berpikir bahwa menjadi seorang influencer sangatlah enak, karena mereka berpikir bahwa mereka mendapatkan barang secara gratis, instan, dan mereka juga dibayar untuk promosikan barang tersebut.

Hal-hal tersebut membuat kebanyakan orang berkeinginan untuk menjadi seorang influencer dan hal yang terpentingnya lagi adalah menjadi influencer tidak memerlukan ijazah.

Kebanyakan orang susah mencari pekerjaan karena terhalang dengan yang namanya ijazah untuk melamar pekerjaan butuh minimal S1 untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dengan pendapatan yang mencukupi.

Pendapatan juga menjadikan salah satu alasan mereka untuk menjadi influence, karena seorang influence yang memiliki jumlah pengikut yang banyak di akun instagram atau tiktok biasanya sekali dia melakukan endorse bisa mencapai 3 hingga puluhan juta rupiah dalam sekali melakukan promosi di social media.

Hal ini yang menjadikan remaja-remaja pada masa sekarang menjadi fomo dengan namanya influence. Sebagian besar para influence biasanya mereka banyak yang mengunggah tentang hidup mereka yang enak dan easy access. 

Remaja zaman sekarang fomo dengan trend terbaru yang biasanya dikenali oleh influencer tersebut. Biasanya para influencer mempunyai cara berpakaian sendiri-sendiri dan menjadikan itu ciri khas mereka.

Cara berpakaian hingga daily life influence tersebut sebagian remaja banyak yang mengikutinya. Bahkan ada orang yang rela melakukan hal gila bahkan cenderung tidak masuk akal untuk menjadi seorang selebgram atau selebtok.

Hal gila yang tidak masuk akal yang dilakukan para remaja tersebut mempunyai tujuan untuk menjadi seorang influence, mereka melakukan segala cara supaya mereka bisa menjadi selebgram atau selebtok.

Bahkan di social media yang bernama tiktok banyak sekali dari mereka untuk mengumbar aurat supaya tiktok mereka bisa masuk fyp( for your page). Dengan mereka masuk di beranda orang-orang mereka dapat terkenal dan biasanya di undang ke acara televisi untuk dilakukan wawancara di sana.

Pekerjaan ini sangat berisiko apabila kalian melakukan kesalahan atau kalian melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan dunia social media kalian. Sebab, orang-orang akan menilai kalian sebagai orang yang membawa pengaruh buruk untuk lingkungan sehingga mereka banyak menghakimi kalian.

Maka dari menjadi influencer tidak seindah yang dikira, tetapi masih saja banyak remaja yang fomo dan sangat bersiteguh untuk menjadi seorang selebgram atau selebtok.

Banyak yang menjadi influencer hanya dalam hitungan bulan, karena apa yang membuat mereka trending itu sudah tidak sering digunakan karena pada hakikatnya sifat remaja banyak sekali yang fomo. Mereka akan mengikuti hal yang sedang booming lainnya.

Selebgram dan selebtok berbeda dengan artis, selebgram dan selebtok hanya mendapatkan uang dari mereka endorse dan collab dengan brand tertentu saja. Akan tetapi artis kebanyakan mereka dari kalangan yang sering muncul dilayar televisi.

Maka dari itu kurangi rasa fomo di diri kalian, karena kalian tidak akan ada habisnya dengan rasa fomo tersebut yang semakin lama semakin menjadi rasa fomo kalian terhadap sesuatu yang belum kalian ketahui atau rasakan sebelumnya.

"Bukan hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, tapi persepsi akan hal-hal dan peristiwa tersebut."- (Epictetus, hal. 95)