Iklim, menjadi perbincangan seksi di berbagai kalangan. Mulai dari kalangan atas sampai rakyat bawah yang merasakan dampaknya. Jika beberapa tahun terakhir kita mulai merasakan suhu yang tidak stabil, hujan yang kadang naik kadang kering kerontang.

Itulah beberapa peristiwa akibat perubahan iklim. Banyak faktor yang menyebabkan perubahan iklim, antara lain pembakaran di untuk bahan bakar fosil, industrialisasi, pembangunan perkotaan yang pesat dan sektor pertanian yang menyumbang CO2 ke lapisan ozon.

Disamping itu, pohon sebagai pensekuestrasi karbon banyak ditebang tanpa diimbangi penanaman  yang sejajar. Begitu manusia sudah mulai terusik dengan ketidaknyamanan bumi, isu tentang perubahan iklim bermuncula.

Banyak diadakan kajian, seminar, diskusi mitigasi dan banyak aksi yang lain di hotel-hotel. Tapi, bagaimana keseimbangan mitigasi bisa terjadi juga di kalangan bawah?

Tulisan ini akan berfokus pada level mitigasi di tingkat urban dengan aktor utama adalah masyarakat menengah ke bawah.

Berbicara mengenai masyarakat urban, tidak tertinggal membahas tentang Kota. Kota sebagai tempat mendulang hidup, segala mobilitas dikerjakan untuk menambah pendapatan. Alih-alih ingin mendapatkan UMR yang besar, banyak masyarakat desa yang selama ini mengalami gelapnya mencari nafkah antusias datang ke kota dengan keterampilan sederhana yang dimilikinya.

Berbekal sifat kompetitif yang belum terasah, kepadatan kota merupakan akibat dari urbanisasi tersebut. Tidak dapat dipungkiri, bertambahnya penduduk maka akan bertambah konsumsi dalam Kota. Konsumsi makanan, energi, kendaraan untuk mobilitas dan bangunan untuk tinggal.

Besarnya konsumsi tersebut berbanding lurus dengan polusi dan residu yang dihasilkan. Diprediksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia akan berpindah ke kota sebesar 65%.

Betapa banyak transportasi energi dan bahan baku hidup yang berpindah dari desa ke kota. Ambil satu contoh yang paling besar aktivitasnya adalah penggunaan kendaraan pribadi di Kota, sehingga menyebabkan permintaan bahan bakar meningkat, karenanya perusahaan berlabel merah biru akan terus mengeruk kilang minyak sebagai sumber energi.

Jika ditelisik mendalam, penggunaan kendaraan pribadi di kota besar, masyarakat menjadi aktor utama penyumbang CO2.

Banyak kebijakan pemerintah yang diterapkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, seperti penyediaan transportasi umum, peraturan 3 in 1 dan pembatasan jam jalan.

Tetapi, masih banyak alasan masyarakat enggan menggunakan karena transportasi umum kurang nyaman, aman, bersih dan mahal.

Karena hal itulah, banyak program diskusi bermunculan untuk mencari solusi mengatasi permasalahan tersebut. Tingkat internasional dan nasional telah menjamur dilaksanakan sebagai bahan evaluasi dan rekomendasi kebijakan pemerintah.

Tetapi, program tersebut hanya diikuti oleh kalangan atas dan belum tersampaikan di masyarakat umum. Gap dari persoalaan ini adalah pemerataan informasi mengenai mitigasi perubahan iklim.

Pemerataan informasi pada kalangan masyarakat dapat dilakukan dengan campaign yang menargetkan banyak lapisan. Tidak perlu berlibet pada kebijakan dan birokrasi yang rumit, langkah sederhana bisa dilakukan oleh masyarakat. 

Tetapi, karena kasus ini belum menyentuh masyarakat, maka masyarakat enggan atau kurang peduli. Penyadaran pada masyarakat dimulai dari penyadaran pribadi untuk hidup sederhana.

Sederhana bukan berarti menerima keadaan dan bodoh, tetapi membuat tingkat kepuasan di level cukup dan meninggalkan nafsu dunia.  

Lalu, apa yang bisa dilakukan secara sederhana? Misalnya, jika setiap hari masyarakat mengonsumsi air botol, mulai beralih membawa botol sendiri.

Mengoptimalkan pemberian organ kaki untuk berjalan, dan ketika sudah tidak mampu, bisa menggunakan transportasi umum. Hal sederhana itulah yang bisa mengurangi risiko bencana iklim karena ulah manusia.