1 bulan lalu · 284 view · 3 min baca menit baca · Hiburan 41618_95289.jpg

Fenomena Pelakor atau Perebut Suami Orang

Pelakor? Sepertinya kata tersebut tidak asing lagi di telinga masyarakat milenial Indonesia terutama dalam media sosial. Tidak heran lagi kalau arti pelakor kini juga menjadi salah satu kata yang masuk ke dalam Google Tren. 

Lalu muncul rasa penasaran akan arti dari pelakor itu sendiri, seperti kepanjangan dari pelakor itu apa, maksud dan pengertian dari pelakor ini bagaimana sehingga banyak sekali orang-orang, khususnya pada kaum wanita yang sibuk membicarakan mengenai istilah pelakor ini. 

Kaum wanita yang aktif di media sosial antara lain Twitter, Instagram, Facebook dan sebagainya banyak membahas tentang pelakor sejak pertengahan 2017 yang lalu.

Berikut ini beberapa penjelasan singkat mengenai kata pelakor, pada zaman dahulu, memang dari sebagian besar para pria mempunyai lebih dari seorang istri bahkan dapat menikah berkali-kali. 

Namun, seiring berjalannya waktu kesetiaan mulai tumbuh hingga hal itu berubah menjadi suatu yang biasa. Kemudian belakangan ini muncul lagi suatu hal yang pernah ada di masa lalu yaitu adanya istri yang lebih dari satu. Para pelakor yang “terciduk” para istri sah atau istri pertama pasti akan viral di dunia maya karena istri sah mengungkapkan hal itu melalui curhatan. 

Banyak orang-orang di media sosial yang mengatakan, bahwa kepanjangan dari kata pelakor ini adalah Perebut Laki Orang. Jadi itulah singkatan dari kata pelakor. Siapa saja, para wanita yang merebut pasangan (pacar, tunangan, suami) orang lain bisa disebut dengan istilah pelakor.

Seperti yang disebutkan di atas, pelakor merupakan singkatan dari kata Perebut Laki Orang. Jadi, setiap wanita yang merebut pasangan orang lain bisa disebut sebagai pelakor. Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan dan mengganggap bahwa kata Pelakor ini merupakan kata sarkasme, atau kata sindiran yang berasal dari kata Pelac*r


Dengan demikian, para wanita yang kegatelan merebut pasangan (pacar, tunangan, suami) orang lain bisa disebut dengan pelac*r karena bagi sebagian orang, kata pelakor ini merupakan istilah yang digunakan untuk menghina si wanita tadi. Pada intinya seperti itulah, pelakor mirip dengan kata pelac*r. 

Cuma dalam penggunaanya di media sosial, kata ini mengalami sedikit perubahan. Sedikit disopankan menjadi demikian. Agar kata tersebut tidak terlihat vulgar dan kurang pantas saja di ucapkan oleh seorang wanita.

Curhatan itu lalu dibaca banyak orang hingga akhirnya booming atau viral di media sosial, setelah itu sang pelakor akan mendapat ribuan hujatan dari para netizen. Hujatan itu bukan tak beralasan, sesama kaum wanita tentunya akan mampu merasakan hal yang sama dengan para istri sah. 

Wanita memang lebih mementingkan perasaan ketimbang logikanya, sehingga kejadian itu bukan suatu yang mengherankan. Sejauh yang terekspos di media sosial, selingkuh seakan-akan hanya salah si pihak perempuan karena kegenitan atau menggoda suami orang. Padahal, faktanya nggak selalu demikian. 

Sempat terpikir kalau suami kita yang malah diam-diam mendekati dia? Seharusnya, yang selingkuh dan selingkuhannya punya porsi kesalahan yang sama. Bisa dibilang wanitanya kegenitan dan lelakinya masuk golongan tidak setia atau memang brengsek. Yang tak salah ya yang diselingkuhi.

Parahnya, ada saja orang yang malah menyalahkan istri sah, "Nggak bisa jagain suami." Bukankah ketika sudah berani meminang, meminta baik-baik anak perempuan dari sebuah keluarga untuk diperistri, maka sudah seharusnya suami juga bisa menjaga hatinya sendiri? 

Beberapa pria mengaku berselingkuh karena iseng saja, meskipun hubungan rumah tangga dengan pasangan berjalan baik dan memuaskan. Bukankah ini sebuah bukti kalau memang ada sebagian pria yang tak punya pondasi rasa setia? 


Jika dia punya kesetiaan, secantik apapun perempuan lain yang datang, maka mata, otak dan hatinya tak akan tergoda. Jika hanya satu orang yang tertarik dan tergoda, mana bisa disebut perselingkuhan?

'Kegiatan' ini akan dilakukan oleh dua orang secara sadar, termasuk laki-laki yang sudah berstatus sebagai seorang suami. Suami berperan aktif dalam sebuah perselingkuhan. Bukankah mereka selalu punya pilihan untuk menerima atau menolak saat si pelakor mendekat? 

Kalau seorang lelaki berselingkuh, itu adalah tindakan dalam otoritas pribadinya. Dia pelaku, bukan korban. Kesalahan dengan porsi yang sama ada padanya, bukan hanya pada diri pelakor saja. Bagi pria  atau wanita yang sedang terlibat dalam hubungan cinta yang cukup rumit ini, seyogyanya kita selalu mengingat bahwa kita semua lahir dari seorang ibu yang juga seorang wanita. 

Tidak selamanya cinta hadir untuk bersama. Kadang ia datang hanya untuk mengajarkan kita sesuatu. Untuk bijaksana  tidak memaksa memiliki tapi merelakan saat cinta itu tertambat pada dia yang tidak tepat.

Dalam suatu hubungan, saat pengendalian diri tak mampu dilakukan maka tak peduli laki-laki atau perempuan keduanya bisa jadi punya kans untuk terlibat dalam hubungan terlarang. Maka dari itu, antara suami maupun istri harus saling percaya satu sama lain dan menjaga hubungan pernikahan mereka hingga hari-hari terakhir.

Artikel Terkait