Idealitas dalam belajar agama saat ini lagi terombang-ambing akibat meluasnya jangkauan media sosial. Banyak umat muslim kebingungan kepada siapa mereka akan berguru karena banyak penceramah mengatakan syiarnya yang paling benar. Akibatnya, mereka sering salah masuk ruang di mana mereka mendapatkan doktrin radikalisme.

Kata Habib Husein dalam buku Tuhan Ada di Hatimu, orang yang merasa paling benar sudah ada sejak zaman Rasulullah. Mereka adalah golongan Khawarij. Ciri-ciri mereka adalah suka mengafirkan, bahkan kepada sesama muslim itu sendiri. Kata Bung Karno, mereka itu ‘Muslim Sontoloyo’.

Idealnya, dalam belajar agama sudah tertulis dalam kitab Alala atau kitab Ta’lim Muta’alim. Namun, realitas di masyarakat, ideal tersebut hilang dan membuat mereka mengimani satu kebenaran (taklid). Sebenarnya, ideal belajar agama itu seperti apa?

Netizen media sosial sekarang ini dikagetkan dengan tersebarnya video ustaz milenial Evie Efendi. Bagaimana tidak, ustaz tersebut mengajarkan Alquran dengan bacaan yang masih kacau, baik dari tajwid maupun makharijul hurufnya. Namun, tetap saja banyak orang yang masih mengikutinya.

Fenomena ini menjadi PR besar bagi kalangan santri yang sudah lama belajar di pesantren. Ini adalah bukti bagaimana otoritas keagamaan bergeser pada ustaz-ustaz milenial yang digandrungi komunitas pemuda-pemudi hijrah.

Dalam kitab Alala, dijelaskan syarat-syarat mendapatkan ilmu (agama), di antaranya: kecerdasan, ambisi, tabah (kuat), biaya, petunjuk guru, waktu yang lama (long life education). Mereka yang sudah paham dengan syarat-syarat di atas biasanya lebih memilih untuk berguru dengan kiai atau ustaz yang mumpuni dalam bidang agama seperti halnya di pesantren.

Belajar dengan waktu yang lama tidak menjadikan mereka mudah menghakimi sesuatu sebelum belajar lebih banyak lagi dengan petunjuk guru-guru mereka. Tidak sedikit ulama terdahulu menghabiskan biaya sampai hanya tertinggal pakaian yang dikenakannya saja demi memperoleh ilmu meskipun hanya satu hadis. Tidak hanya kecerdasan dan ambisi saja, mereka harus kuat menghadapi tantangan demi tantangan selama proses belajar.

Seperti contoh kisah muhaddist dari Damaskus, Hisyam bin Ammar as-Sulami ad-Dimasyqi yang tertera di kitab Tahzibul Kamal. Beliau disuruh ayahnya untuk haji ke Makkah dan belajar kepada Imam Malik dengan bermodalkan rumah yang telah dijual sebesar 20 dinar.

Sampai kepada Imam Malik, beliau tidak mendapatkan ilmu, melainkan dipukul sampai menangis. Imam Malik bertanya mengapa menangis. Beliau menceritakan perihal rumah yang dijual untuk bisa belajar kepada Imam Malik. Setelah mendengar hal tersebut, Imam Malik memberikan 17 hadis dan menyuruhnya untuk mencatat.

Contoh muhaddist di atas adalah bentuk pengorbanan yang seharusnya dilakukan jika ingin menjadi ulama yang layak didengar oleh banyak orang. Tetapi, otoritas keagamaan sekarang beralih kepada siapa yang memiliki pengikut paling banyak di media sosial. Hal ini ditunjukkan dengan adanya klaim bahwa siapa yang mempunyai pengikut terbanyak lebih banyak diterima oleh masyarakat.

Tidak dapat dimungkiri bahwa adanya pengakuan seperti ini terjadi pergeseran tata cara belajar agama. Pada dasarnya, media sosial dibuat untuk bersenang-senang saja. Tapi, sebagian dari mereka menggunakan untuk membagikan beberapa informasi penting.

Dengan melihat pasar media sosial, para pemegang otoritas agama berlomba-lomba menggunakan untuk syiar dakwah yang menyenangkan. Media sosial lahir untuk memudahkan tersebarnya jangkauan informasi. Saking banyaknya, informasi yang penting terkadang tertutup oleh informasi yang menguras waktu dengan sia-sia.

Seringnya, akun yang banyak didengar oleh netizen adalah orang-orang dari gerakan Salafi. Mereka yang semangat menyiarkan ‘Kembali kepada Alquran dan Sunah’. Ada yang salah dengan pemaknaan ‘’kembali’. Mereka mencoba mengembalikan budaya Arab yang dulu ke masa sekarang.

Yang terjadi, mereka hanya fokus bagaimana memperbaiki yang tampak daripada yang tidak tampak (hati). Kata Habib Husein, seharusnya tidak kembali, melainkan berangkat dari Alquran dan Sunah. Memahami Alquran dan Sunah lalu dibawa ke ruang dan zaman sekarang.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari dalam kitab Adab al-Alim wa al-Mutaalim, menyebutkan ada 4 pelajaran yang wajib dipelajari; ilmu Tauhid, mengetahui sifat-sifat Allah, ilmu Fikih, dan ilmu Tasawuf.

Yang terjadi, Gerakan Salafi seringnya mengedepankan ilmu Fikih daripada membahas asma Allah yang Maha Sempurna. Akibatnya, sikap merasa paling benar sudah tertanam dan tertular kepada para pembaca yang ingin mempelajari ilmu agama Islam. 

Padahal, pendapat fikih pun terdapat perbedaan antara satu mahzab dengan mahzab yang lain. Maka, yang perlu ditekankan adalah Islam yang moderat, toleran, dan berkeadilan.

Media syiar islam yang moderat sudah banyak bermunculan, seperti Islami.co, Alif.id, Gusdurian.net, dll. Mereka menyampaikan dengan rujukan kitab yang jelas. Mereka tidak hanya terjun di bidang tulisan, namun aktif menyiarkan lewat video, penggalan quote, atau sekadar menyapa warganet di media sosial dengan bahasa yang dapat diterima banyak kalangan. Media mereka tidak kaku dan penyampaiannya lebih mudah dicerna.

Ada juga platform yang digagas oleh Pusat Studi qur’an (PSQ), namanya Cariustadz.id. Platform tersebut ditujukan bagi mereka yang ingin belajar agama melalui media sosial. Ustaz yang mengajar juga punya kompetensi, ramah, dan moderat. Di link tersebut juga disambungkan dengan akun media ustaz atau ustazah tersebut agar murid dapat mengetahui lebih dekat dengan mereka.