Industri musik di indonesia, belakangan ini, selalu renyah untuk diperbincangkan. Bukan karena sensasi, tetapi deretan prestasi dari dalam maupun luar negeri yang sudah selayaknya diberi apresiasi karena telah membuka lebar  senyum ibu pertiwi di tengah merajalelanya pandemi. 

Salah satunya, sebut saja Weird jenius dengan karyanya yang begitu fenomenal, Lathi, yang telah ditonton lebih dari seratus juta pasang mata di seluruh belahan dunia.

Lagu tersebut juga telah dimuat ulang oleh banyak pegiat musik lainnya – baik dalam dan luar negeri  - dalam bentuk cover, remix dan arrangement baru yang lebih inovatif dan menghibur. 

Tak tanggung-tanggung, pelbagai musikus dan seniman mancanegara juga ikut andil dalam melambungkan jempol dan apresiasi yang luar biasa untuk sebuah masterpiece yang maha dahsyat.

Seperti yang kita sadari, musikalitas di Indonesia sedang dalam periode perkembangan yang begitu progresif serta masif. Diakui atau tidak, pelbagai karya musik baru telah lahir dari rahim para musikus kreatif tanah air. 

Weird Jenius hanyalah satu dari deretan contoh musikus indonesia yang karyanya telah ke pasar music dunia.

Seiring dengan tumbuh-kembangnya popularitas seni musik di Indonesia, beragam aliran musik pun semakin dibudidayakan oleh para pelaku maupun penikmatnya: mulai dari pop, rock, jazz, klasik hingga yang paling beraroma nusantara, dangdut. 

Belakangan, dunia permusikan di Indonesia juga dimarakkan salah satu aliran yang tak kalah populer dari aliran musik lainnya yaitu musik indie.

Belakangan ini, musik Indie telah menjelma menjadi kuda hitam bagi aliran musik lainnya yang telah lebih dahulu berkiprah di nusantara. Kehadirannya seolah mengancam eksistensi para pegiat musik tanah air yang tak sepaham dengan aliran tersebut. 

Bagaimana tidak, kaum milennial dan generasi Y yang tengah mendominasi populasi penduduk Indonesia sebagian besar menganut aliran musik ini.

Tetapi, penting untuk dipahami bahwa indie sejatinya bukanlah sebuah aliran musik. Asal muasal kata indie itu sendiri berakar dari bahasa inggris yaitu independent yang berarti bebas, merdeka, mandiri, berdiri sendiri serta tidak terikat apapun atau berada di bawah naungan siapapun. 

Dalam proses kreatifnya, para musisi indie melakukan proses perekaman hingga perilisan sebuah single maupun album secara mandiri tanpa campur tangan dari label rekaman besar manapun.

Metode pemasarannya pun terbilang adaptif dengan memanfaatkan pelbagai platform media sosial yang tentunya sudah menjadi bagian yang sangat fundamental bagi kehidupan generasi milennial saat ini. 

Cara tersebut tentu akan memungkinkan para musisi untuk mengekspresikan karya mereka dengan lebih bebas serta radius peminat yang lebih luas.

Beberpa pegiat musik indie masa kini yang namanya sudah tak asing di telinga kita ialah Fiersa Besari dengan Kerabat kerjanya, Feast, Payung Teduh, Four twnty, Efek Rumah Kaca, Stars and Rabbit dan banyak lainnya. 

Bertambahnya musisi indie yang terlahir mengindikasikan semakin banyaknya penkmat musik tersebut di tanah air.

Lirik lagu dari musik ini - oleh musisinya -  juga dikemas lebih frontal, ekspresif dan puitis. Mereka cenderung mengedepankan penggunaan diksi yang elegan namun kritis sehingga terdengar menarik oleh pendengarnya. Kata-kata yang mungkin selalu dikaitkan dengan musik indie ini antara lain: kopi, senja, hujan, dan semesta.

Hal inilah yang juga menjadi pembeda antara musik indie dengan musik major label (perusahaan yang mengelola rekaman dan penjualannya, termasuk promosi dan perlindungan hak cipta). 

Musisi yang difasilitasi major label menciptakan lagu sesuai keinginan pasar. Sementara musisi indie menciptakan lagu sesuai keinginan hati. Masalah pasar mengikuti, itu urusan nanti.

Sebagai bagian dari penikmat musik yang selalu menghargai karya para musisi, tentu bukanlah hal yang bijak untuk mendikotomikan selera lagu yang berdasar pada musisi dengan airan itu atau musisi dengan aliran ini. 

Baik major maupun indie keduanya sama-sama memiliki kapasitas penikmat masing-masing. Berbeda bukan berarti tidak menghargai.

Analoginya, kita melihat indie label dan major label seperti sebuah tawaran tempat tinggal – apakah kita ingin tinggal di petakan kos sendirian tetapi segalanya serba mandiri atau di sebuah rumah besar di bawah asuhan orang tua dengan fasilitas yang berada. 

Ya, begitulah. Jalur indie memiliki kesan mandiri sedangkan major label sebaliknya. kedua jalur tersebut tentu kontras tetapi memiliki tujuan yang sama.

Faktanya, beberapa label memang mampu menjadi penentu kesuksesan sebuah band atau musisi karena nama label tersebut yang sudah melambung mengudara. 

Kendati demikian, banyak juga dari musisi indie yang mampu menggebrak permusikan nasional. Meraka acapkali menyihir pendengar lewat materi lagu yang mereka ciptakan.

Ketika seorang musisi berada di jalur indie, nasib dan perjalanan karir bermusik dipetakan oleh mereka sendiri. Karena umumnya, management yang ada di jalur ini tidak memiliki aturan tertentu. Alhasil setiap musisi memiliki visi misi yang jelas serta rencana apa yang akan dilakukan ke depannya.

Sedangkan major label memiliki aturan, teknik promosi hingga jalan mana yang mesti dipilih oleh musisi tersebut semuanya bernaung di bawah tangan management. Pengaturan sudah disepakati sejak awal tanda tangan kontrak. 

Jadi, segala kebijakan tentu juga harus dituruti oleh para musisi yang berada di jalur ini.

Indie maupun major memiliki perbedaan yang sejatinya tidak terlalu signifikan tetapi secara karya memang sedikit timpang. Terkait keuntungan, jika ditakar pada era sekarang dan bagaimana kedua aliran ini berevolusi, maka bisa dikatakan bahwa major dan indie sudah seimbang. 

Adapun perihal teknik promosi hingga segala hal yang digunakan dalam memasarkan karya maka semuanya akan kembali lagi kepada musisi atau band itu sendiri.

Jadi, seyogyanya, major dan indie hanyalah alat untuk menjembatani para musisi dalam berkarya. Tugas kita, sebagai penikmat dan pendengar, cukup mengkonsumsi lalu mengapresiasi. 

Setiap musisi tentu berhak memilih jalur berbeda. Indie atau major hanyalah alat untuk mengemas karya. Karena pada akhirnya karya merekalah yang berbicara.