TikTok yang juga dikenal sebagai Douyin (Hanzi: 抖音短视频; Pinyin: uyīn duǎnshìpín; artinya “video pendek vibrato”) seperti yang dikutip dalam situs Wikipedia.org adalah sebuah “jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang diluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yiming, pendiri Toutiao. Aplikasi tersebut membolehkan para pemakai untuk membuat video musik pendek mereka sendiri.” 

Kepopuleran TikTok sempat menimbulkan kontra di Indonesia dan akhirnya diblokir pada tanggal 3 Juli 2018 dengan  laporan mencapai 2.853 laporan dan laporan tersebut terkait banyak sekali konten negatif yang tidak sesuai untuk anak-anak. Namun pemblokiran tersebut hanya berlangsung seminggu dan dibuka kembali pada tanggal 10 Juli 2018. 

Setelah dibuka kembali, kepopuleran TikTok semakin melesat naik dan penggunanya semakin banyak termasuk di Indonesia apalagi penulis pun tidak jarang menemukan bahwa platform ini banyak digandrungi oleh orang-orang dari berbagai kalangan dari anak-anak, orang muda hingga orang tua dan para selebritis tanah air juga mengggunakan platform ini.

Namun akhir-akhir ini, penulis beranggapan bahwa kepopuleran TikTok terutama di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh fitur-fitur yang menarik dari aplikasi tersebut melainkan juga karena aplikasi ini menjadi semacam hiburan bagi mereka yang merasa bosan di rumah saja karena masa pandemi ini. 

Namun beberapa pengalaman penulis juga menunjukkan bahwa penggunaan TikTok tidak hanya menjadi semacam hiburan saja melainkan juga menjadi semacam lapangan bisnis, edukasi, dan promosi-promosi lainnya. Sehingga penulis tertarik dengan apa yang ada di balik aplikasi ini: mengapa aplikasi ini dibuat? Apa tujuan dari dibuatnya aplikasi ini? Apakah aplikasi ini hanya sekadari untuk hiburan atau aplikasi ini justru memiliki tujuan lain yang akan mempengaruhi kehidupan manusia di masa mendatang terutama di Indonesia?

Maka dari itu, melalui paper ini penulis hendak merefleksikan secara filosofis fenomena maraknya aplikasi TikTok di Indonesia melalui pendekatan teori Fenomenologi dengan harapan mampu menjawab rasa penasaran penulis terhadap apa yang ada dibalik fenomena tersebut tanpa didasari oleh pengaruh dari anggapan-anggapan pihak-pihak lain.


Dalam situs berita daring kompas.com, fenomena maraknya TikTok saat ini menjadi berbeda dengan satu setengah tahun lalu di mana TikTok masih dianggap sebagai aplikasi “pinggiran”. Aplikasi buatan China ini pernah diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada pertengahan 2018 dengan alasan bahwa TikTok dinilai negatif untuk anak. 

Seperti yang dilansir pula oleh situs ini, Dirjen Aptika Kominfo, Samuel Pangarepan mengatakan bahwa aplikasi ini memuat sejumlah pelanggaran konten yang terdiri dari pornografi, asusila, pelecehan agama, dan pelanggaran lainnya. Keputusan ini pula didasari oleh laporan yang diterima dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta masyarakat.

Pemblokiran TikTok dimulai pada tanggal 3 Juli 2018 dan mulai dibuka kembali pada tanggal 10 Juli 2018; pemblokiran hanya terhitung seminggu dari hari diblokirnya aplikasi ini. Demi mendapatkan informasi yang cukup terkait perkembangan TikTok setelah aplikasi tersebut dibuka kembali, kompas.com melalui KompasTekno menghubungi Angga Anugrah Putra selaku Head of User and Content Operation, TikTok di Indonesia. 

Beliau mengatakan bahwa sudah dua tahun lebih TikTok berada di Indonesia dan masyarakat Indonesia menikmati untuk berkreasi melalui TikTok. Sekalipun demikian, situs berita daring ini melansir bahwa yang bersangkutan enggan membeberkan jumlah presentase pengguna TikTok di Indonesia saat ini.

Selain itu, menurut Didit Putra Erlangga, Sosial Manager Kompas Media Nusantara seperti yang dilansir dalam situs berita daring yang sama menyatakan bahwa alasan pengguna TikTok bertambah karena ada beberapa fenomena yang menunjukkan bahwa aplikasi ini juga digunakan oleh para tokoh kenamaan, seperti Gisella Anastasia, Dian Sastrowardoyo, hingga Sandiaga Uno.

Aplikasi TikTok ini juga telah memperkenalkan fitur TikTok for Bussiness bagi perusahaan untuk memperkenalkan produk mereka. Seperti yang dilansir dari situs berita daring ini, direktur Sales Leader TikTok Indonesia, Pandhu Wiguna mengatakan: “brand memiliki kesempatan untuk mengubah pemasaran tradisional dan berinteraksi dengan pengguna masa kini dengan mendorong mereka untuk membuat video TikTok, bukannya sekadar melihat atau menonton iklan.” Di Indonesia, TikTok sedang menguji coba platform Creator Marketplace, yang bisa mempertemukan merk degan creator konten untuk berkolaboras dalam kampanye berbayar dan menggaet pelanggan baru.

Selain platform bisnis, pengguna TikTok kembali naik 20% atau sekitar 2 miliar dikarenakan konten edukasi dengan tagar #samasamabelajar dalam 29 hari seperti yang tertera dalam situs katadata.co.id

Angga Anugerah Putra selaku Head of Content and User Operations TikTok Indonesia juga membenarkan hal tersebut dengan mengatakan: “mengutip salah satu riset, pengguna kami naik 20%, kurang lebih (di Indonesia) seperti itu. Uniknya, jenis konten yang mengalami kenaikan selama pandemi itu adalah konten edukasi.” 

Selama masa PSBB, banyak konten kreator yang membuat konten dari rumah melalui tagar #samasamadirumah. Angga juga menambahkan bahwa TikTok sendiri menjadi salah satu alternatif bahwa kita tidak sendirian di rumah karena semua orang juga di rumah dan berkreativitas di rumah apalagi beberapa konten komedi menjadi hiburan para pengguna selama masa pandemi. Selain itu, TikTok memungkinkan pengguna untuk membuat video lipsing mulai dari 3 hingga 15 detik dan bisa juga melakukan pengulangan video selama 3 hingga 60 detik.


Edmund Husserl adalah pendasar aliran filsafat Fenomenologi. Ia hidup sekitar tahun 1859 sampai 1938. Edmund Husserl adalah seorang filsuf Jerman yang pernah mengajar filsafat di Halle, Gottingen, dan Freiburg. pemikirannya tentang fenomenologi menjadi sangat terkenal dan pengaruhnya sangat besar sehingga beberapa filsuf, salah satunya Heidegger merasa bahwa filsafat mereka berlandaskan pada pemikiran Husserl. Kendati demikian, Husserl tetap menyangkal dengan tegas apabila buah-buah pemikiran filsuf-filsuf yang beranggapan sama seperti Heidegger itu merupakan penerus dari pemikiran-pemikirannya.

Dalam mengembangkan filsafat fenomenologi ini, Husserl berangkat dari filsafat ilmu karena ia juga seorang ahli matematika. Fenomenologi ini bersumber dari pembedaan yang dlakukan oleh Immanuel Kant antara noumenal (alam yang sesungguhnya) dan phenomenal (yang tampak/terlihat) dan phenomenology of spirit dari Hegel. 

Keprihatinannya dilatarbelakangi oleh anggapannya bahwa landasan pemikiran filsafati sangat penting dalam menjawab setiap persoalan teoretis demi mencapai kebenaran. Ia merasa bahwa harus suatu metode yang benar-benar ilmiah sehingga bagi Husserl, metode yang benar-benar ilmiah ialah dengan membuat suatu fenomena mampu menampakkan diri sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa campur tangan lain.

Metode yang dikemukakan oleh Husserl tersebut menegaskan bahwa perhatian haruslah terpusat pada fenomena itu tanpa praduga apa pun. Sehingga Fenomenologi sendiri dapat dikatakan sebagai filsafat yang secara eksplisit menekankan pentingnya meneliti pengalaman langsung (lived experience) di mana Husserl bertujuan untuk meneliti pengalaman manusia secara ketat dan ilmiah untuk dipahami keasliannya. 

Muncul pula slogan dari Husserl, yakni Zu den Sachen selbst ( terarah kepada benda itu sendiri) di mana keterarahan ke suatu benda adalah ketika benda itu yang mengungkapkan hakikat dirinya sendiri. Namun dalam perkembangan metode ini, Husserl menyadari betapa sulit benda-benda tersebut mengungkapkan dirinya sendiri secara hakiki. Hal tersebut dikarenakan dalam hubungan kesadaran, fenomena atau objek tidak mampu untuk menyatakan hakikat dirinya sendiri.

Kesulitan Husserl yang kemudian menjadi penemuannya tersebut diungkapkan dalam karya-karyanya yang pertama, yakni dari penelitian tentang logika hingga Meditasi-meditasi gaya Descartes disampaikan dengan baik oleh K. Bertens:

Kesadaran tidak ditentukan oleh persepsi, artinya oleh kehadiran kesadaran sendiri pada benda-benda, melainkan oleh distansi (jarak) dan absensinya. Distansi dan absensi ini adalah daya untuk mengungkapkan makna, untuk menyatakan maksud....kalau begitu, persepsinya hanya merupakan suatu contoh terprivilegi mengenai pemenuhan oleh intuisi. Dengan demikian, kesadaran adalah intensional dengan dua cara: pertama, karena adanya makna, dan kedua, karena pemenuhan intuitif. Pendeknya, dalam karya-karya yang pertama itu, kesadaran adalah sekaligus tuturan (parole) dan persepsi.”

Melalui hal tersebut, dapat dikatakan bahwa hakikat fenomena sebenarnya terletak di balik fenomena tersebut sehingga pengamatan untuk mencapai yang dibalik yang nampak tidak cukup hanya dengan pengamatan pertama (first look) melainkan diperlukan pengamatan kedua (second look) atau disebut juga sebagai pengamatan intuitif

Husserl berharap bahwa melalui pengamatan ini akan sanggup membuat fenomena tersebut menampakkan hakikat dirinya secara murni sehingga ia menyatakan bahwa pengamatan ini harus melewati tiga tahap reduksi atau penyaringan yang kemudian disebut sebagai penyaringan fenomenologis. Tiga tahap ini terdiri dari reduksi fenomenologis, reduksi eidetis, dan reduksi transendental.

Reduksi fenomenologis berperan untuk menyisihkan atau menyaring pengalaman pengamatan pertama pada eksistensi fenomena, namun hal tersebut bukan berarti menolak pengalaman inderawi melainkan hanya disisihkan dari segala prasangka, praanggapan, dan prateori, entah dari keyakinan tradisional, maupun keyakinan agamis. Fenomena itu diamati dalam hubungannya dengan kesadaran tanpa melakukan refleksi terhadap fakta-fakta yang ditemukan lewat pengamatan.

Reduksi eidetis berasal dari eidos (hakikat) di mana pada tahap ini dijelaskan bahwa segala yang dianggap sebagai hakikat fenomena yang diamati harus disaring untuk menemukan hakikat yang sesungguhnya dari fenomena tersebut sehingga perhatian pengamat harus menuju pada sisi yang fundamental dan hal yang paling hakiki dari fenomena tersebut, sebab menurut Husserl, reduksi ini berupaya untuk menemukan hakikat (eidos) tersebut.

Reduksi transendental berupaya untuk menyisihkan dan menyaring semua hubungan fenomena satu dengan fenomena lainnya karena setiap fenomena tentu memiliki hubungan dengan fenomena lainnya. Sehingga dalam reduksi ini pengamat diajak untuk menyisihkan hal-hal yang berkaitan dengan kesadaran empiris untuk menemukan kesadaran murni tidak lagi didasarkan pada hubungan dengan fenomena lainnya sehingga bersifat transendental.


TikTok menjadi aplikasi yang digandrungi oleh berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga dewasa, orang muda hingga orang tua, orang awam hingga selebritis. Aplikasi musik asal Tiongkok yang diluncurkan oleh Zhang Yiming, pendiri Toutiao benar-benar menyita perhatian masyarakat dunia tidak ketinggalan masyarakat Indonesia juga. Penggunaan TikTok tidak hanya menjadi bentuk dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat saat ini melainkan juga menjadi suatu hiburan bagi masyarakat terutama pada masa pandemi sekarang ini.

Namun jika kita melihat kembali perkembangan aplikasi TikTok dari awal perilisannya di Indonesia hingga sekarang, aplikasi ini sudah diterima oleh masyarakat di Indonesia. Namun sampai saat ini, tidak sedikit penulis menemukan anggapan-anggapan yang terkesan negatif terhadap aplikasi besutan negara Tiongkok ini entah dari surat kabar, media massa, hingga secara lisan. 

Apalagi dengan keputusan kominfo beberapa tahun lalu dengan memblokir aplikasi ini yang juga menjadi buah bibir di masyarakat, kemudian kemunculan artis-artis TikTok yang menjadi satu fenomena yang hendak menjelaskan bahwa masyarakat saat ini lebih nyaman dalam menunjukkan eksistensinya di dunia digital/dunia maya, dan kepopuleran TikTok yang mulai mengalahkan aplikasi-aplikasi pendahulu menjadi topik bagi pemasaran global. 

Jika demikian, apakah pembuatan aplikasi ini hanya sekadar untuk hiburan, atau demi pemasaran atau ada hal lain dibalik tujuan dari aplikasi tersebut?

Jika semua prasangka, praduga, anggapan terhadap kemunculan dan perkembangan TikTok di Indonesia direduksi (reduksi fenomenologis), tentu tujuan dari pembuatan TikTok tidak lain dan tidak bukan ialah dilihat kembali dari kegunaan dan kelebihan dari aplikasi ini yaitu membolehkan para penggunanya untuk membuat video musik pendek mereka sendiri. 

Jika demikian, dapat dikatakan bahwa kemunculan TikTok sendiri pertama-tema bertujuan sebagai lahan kreativitas di mana para penggunanya mampu membuat video musik pendek sesuai dengan kreativitas para pengguna dengan fitur-fitur yang telah disediakan oleh aplikasi tersebut serta hendak menunjukkan kiprah negara Tiongkok dalam pemasaran global dengan TikTok sebagai produk pemasarannya.

Jika merenungkan kembali pendapat Husserl mengenai perjalanan menuju hakikat fenomena yang sesungguhnya, pengamatan pertama (first look) terhadap fenomena maraknya TikTok di Indonesia ialah tidak sedikit munculnya anggapan negatif terhadap aplikasi tersebut dampak yang ditimbulkan ialah pemblokiran yang dilakukan dua tahun yang lalu. 

Selain itu, anggapan positif terhadap TikTok sebagai aplikasi hiburan yang membawa kesenangan di masa pandemi juga termasuk dalam pengamatan pertama terkait dengan situasi saat ini, yaitu pandemi virus corona. Lantas apa yang hendak disampaikan dalam pengamatan intuitif  terkait maraknya TikTok di Indonesia?

Jika fenomenologi ialah mengarah pada benda itu sendiri (Zu den Sachen selbst), maka dapat dikatakan bahwa nomena dari maraknya TikTok di Indonesia merupakan salah satu bagian dari target pemasaran global oleh Tiongkok. 

Penulis berpendapat bahwa pasar Tiongkok tidak hanya melihat tujuan dari pembuatan aplikasi berbasis video musik tersebut melainkan juga menyusun strategi pemasaran dengan meninjau situasi masyarakat saat ini di mana tidak sedikit dari mereka yang lebih puas apabila mampu menunjukkan eksistensi mereka melalui dunia maya. 

Sehingga mereka berani meluncurkan aplikasi tersebut dengan dalil aplikasi tersebut mengembangkan kreativitas para penggunanya dan keuntungan pemasaran mereka semakin meningkat ketika dunia memasuki masa pandemi sampai saat ini.

Penulis kemudian menyadari bahwa TikTok sendiri bisa disebut sebagai salah satu fenomena perkembangan IT dalam dunia modern saat ini sedangkan fenomena maraknya penggunaan TikTok terkhusus di Indonesia sendiri juga merupakan dampak dari fenomena perkembangan IT tersebut. 

Jika didalami secara lebih lanjut dalam reduksi eidetis dan reduksi transendental, maka dapat dikatakan bahwa aplikasi ini tidak memuat, tidak menyediakan konten-konten negatif seperti yang dilansir oleh berita daring tersebut melainkan hal tersebut merupakan konsekuensi dari para pengguna aplikasi itu di mana kemunculan konten-konten tersebut adalah dari para konten kreator saat itu. 

Tetapi bukan berarti bahwa keputusan dua tahun lalu adalah keliru melainkan sebagai bentuk kebijakan pemerintah dalam menindak para pembuat konten negatif. Dan hal inilah yang hendak disampaikan oleh Husserl dalam kegelisahannya, yakni bahwa nomena (kesadaran) tidak hanya berdasarkan pada persepsi saja melainkan juga perlu makna yang sesungguhnya.


Pada akhirnya fenomena maraknya TikTok di Indonesia merupakan salah satu dari fenomena perkembangan Teknologi Informasi di dunia modern saat ini. Kepopuleran TikTok sendiri juga tidak hanya dipengaruhi oleh fitur-fitur yang disediakan melainkan juga dipengaruhi oleh situasi global saat ini, yaitu pandemi. 

Kenyataannya aplikasi ini adalah hanya sebuah produk pemasaran global yang ditawarkan oleh Tiongkok. Selain itu, anggapan yang muncul menyatakan bahwa aplikasi ini menjadi semacam hiburan bagi masyarakat dalam menghadapi situasi penuh tekanan psikologis selama masa pandemi, namun hal dibalik aplikasi ini tidak lain dan tidak bukan ialah aplikasi video musik pendek dengan durasi 15 sampai 60 detik.

Maka dari itu, penulis pun menyadari dan berpendapat bahwa anggapan-anggapan negatif terkait TikTok setidaknya jangan ditujukan kepada aplikasi maupun kepada mereka yang menjaga perkembangannya. Sebab nyatanya aplikasi ini hanya menyediakan fitur-fitur pembuat video musik dan bukan penyedia konten-konten negatif.  

Hal yang kemudian dapat penulis pelajari dari fenomena maraknya TikTok di Indonesia ini lebih-lebih kembali pada bagaimana sikap manusia dalam menerima arus globalisasi di dunia modern ini di mana berpikir kritis, logis, dan sistematis tentu akan membantu setiap orang agar mampu menyikapi perkembangan dunia dengan lebih bijak.