Akhir-akhir ini jagat media sosial seperti twitter dan instagram tampaknya sudah tidak asing dengan istilah penikmat senja dan peminum kopi. Istilah-istilah tersebut muncul di tweet, instastory atau berbagai postingan lainnya. Bahkan banyak pula akun yang menyematkan frase-frase tersebut di profilnya.

Foto matahari terbenam di pantai atau gunung, serta secangkir kopi kini banyak berseliweran di beranda media sosial. Tidak lupa dengan caption puitis yang menyertainya. Seakan semua itu telah menjadi tren.

Sudah dapat dipastikan bahwa di dalam playlist lagu mereka ada nama Fiersa Besari, Payung Tenduh, hingga Fourtwnty. Kemudian secara tidak langsung mereka terlabeli sebaga "anak indie".

Munculnya fenomena kopi-senja dan "anak indie" tersebut memang beriringan dengan semakin naik daunnya penyanyi atau band Indie. Tiga musisi yang telah disebutkan di atas adalah segelintir dari musisi indie dengan lagu-lagu bertema senja dan kopi. Sehingga banyak menjadi kiblatnya "anak indie".

Istilah anak Indie secara tidak langsung menjadi framework baru dalam kehidupan anak muda di era millenial. Dari mulai gaya hidup, kesukaan dalam bermusik, kebiasaan dalam tulisan, semuanya memiliki satu pola yang sama.

Kata indie kini telah bergeser makna menjadi gaya hidup. Padahal makna awal kata indie sangat jauh berbeda dengan yang identik digunakan hari ini. 

Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan kata indie?

Menulusuri Istilah kata Indie

Kata Indie sebenarnya berasal dari bahasa inggris, yaitu independent yang berarti bebas dan mandiri. Kata indie tidak merujuk pada gaya hidup atau pun aliran musik. Kata indie disematkan pada musisi yang memproduksi karyanya secara independen.

Dalam industri musik, musisi indie disebut sebagai pelawan arus utama dalam bermusik. Hal itu karena mereka melakukan rekaman dan perilisan karya mereka secara mandiri, tanpa dinaungi oleh label rekaman besar.

Keuntungannya, para musisi indie dapat lebih bebas dalam berkarya, tanpa terikat permintaan label rekaman. Kita dapat perhatikan jika para musisi indie lebih bebas dan ekspresif dalam karya-karyanya. 

Sebut saja Iksan Skuter, Jason Ranti atau Efek Rumah Kaca yang begitu tajam dan frontal dalam lirik-liriknya, terutama ketika ditujukan untuk mengkritisi sesuatu. Atau seperti Fiersa Besari, Fourtwnty, dan Dialog Dinihari yang begitu puitis dalam setiap karya yang dibawakannya. 

Dalam setiap karya-karyanya, para musisi indie akan lebih tulus dalam pembuatannya, karena mereka membuat karya sesuai dengan keinginan hati mereka. Berbeda dengan yang bernaung di bawah label yang harus mengikuti pasar, musisi indie justru membuat pasar mengikuti mereka.

Eksistensi Musisi Indie di Indonesia

Di awal perkembangannya pada tahun 1990an, musik indie di Indonesia dikenal dengan musik Underground dan membawakan genre musik metal atau rock. Pas Band, yang merupakan band Indie kala itu dapat menjual album sebanyak 5000 keping.

Seiring berkembangnya waktu, banyak musisi Indie dengan berbagai macam genre yang bermunculan. Mereka dapat diterima oleh para pendengar musik di Indonesia, bahkan dapat berprestasi di kancah nasional maupun internasional.

Efek Rumah Kaca, sebuah band indie asal Jakarta dapat meraih berbagai penghargaan di kancah nasional. Band yang berdiri sejak tahun 2001 tersebut dapat meraih penghargaan AMI Awards 2008, Rookie of The Years dari Majalah Rooling Stone, hingga menyabet penghargaan pada MTV Music Award 2008.

Begitu juga dengan Mocca, band indie yang berasal dari Bandung. Mereka juga dapat berprestasi. Album My Diari yang dirilis pada tahun 2003, dapat meraup penjualan hingga 300.000 kopi. Di tahun yang sama, videoclip mereka berjudul Me and My Boyfriend mendapat Best Video of The Year dari MTV Indonesia.

Tidak berhenti sampai di situ,  Mocca terus melebarkan sayapnya. Mocca dapat meraih pasar luar negri, mereka dapat menggelar konser di Singapura pada tahun 2005. Bahkan beberapa lagunya ada yang digunakan untuk soundtrack drama dan iklan di Korea.

Kemunculan Berbagai macam Genre dan Pasar Musisi Indie

Saat ini banyak bermunculan musisi indi dengan berbagai macam genre. Kebebasan dalam berkarya memungkinkan mereka dapat mengeksplorasi minatnya dalam bermusik

Dari mulai yang membawa musik keras seperti metal dan rock, hingga yang membawa musik santai seperti swing jazz dan folk, semuanya ada. Uniknya, mereka selalu punya pasarnya sendiri.

Meskipun para musisi indie jarang muncul di televisi, tetapi tidak menghambat mereka dalam memasarkan karya. Mereka memasarkan karyanya melalui orang-orang terdekat, dari panggung ke panggung, hingga mengikuti berbagai festival musik.

Apalagi saat ini sudah banyak platform musik online yang dapat digunakan untuk memasarkan karya. Dari mulai soundcloud, YouTube, joox hingga spotify, yang umum digunakan oleh orang-orang.

Musisi indie juga banyak mendapat panggung di kampus-kampus. Selain karena memang musiknya menyasar anak muda, budget untuk mendatangkan musisi indie pun lebih bersahabat dengan saku mahasiswa.

Munculnya fenomena kopi-senja dan "anak indie" yang dianut oleh anak muda saat ini turut menjadi bukti semakin eksisnya musisi indie. Meskipun yang dimaksud lebih merujuk kepada para penikmat musik folk, tetapi hal itu menunjukkan semakin diterimanya para musisi indie di masyarakat.