Beberapa saat yang lalu kita tengah dihebohkan suatu fenomena kata anjay yang pertama kali dibahas dalam kanal Youtube Lutfi Agizal dikarenakan kata tersebut mengandung makna umpatan yang diplesetkan menjadi bahasa gaul anak muda.

Kata anjay, anjir, atau anjrit merupakan kata plesetan dari kata “anjing” sebagai bentuk ungkapan keterkejutan, kekecewaan, kekesalan, dan lain sebagainya. 

Kata ini kemudian memiliki makna yang berbeda jika dipergunakan dengan maksud dan tujuan yang berbeda pula. Oleh sebab itu penting untuk kita tahu mengenai makna dari bahasa itu sendiri.

Bahasa merupakan bentuk verbal pada pikiran manusia yang digunakan sebagai sarana berkomunikasi. Dalam memahami bahasa sendiri kita juga harus mengerti makna yang disampaikan melalui bahasa tersebut. Penggunaan bahasa yang tepat akan semakin memperlancar proses komunikasi satu sama lain.

Komunikasi ini tentu memiliki batasan-batasan tertentu yang harus diperhatikan agar dalam proses interaksi dalam berjalan dengan baik. Maka dari itu kita harus mengerti language game-nya agar nantinya kita bisa menyampaikan maksud kita kepada yang lain.

Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus mengerti dulu apa itu language game. Language game pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh filsafat analitik yakni Ludwig Wittgenstein dalam karyanya yang berjudul Philosophical Investigation.

Language game yang dimaksud oleh Wittgenstein adalah sebuah proses alamiah bahasa natural sejak kanak-kanak, yang mana karenanya Wittgenstein menyebutnya sebagai bahasa primitif

Language game ini berkaitan dengan bahasa sehari-hari, dan setiap ragam bahasa memiliki language game tertentu. Bisa dibilang bahwa bahasa merupakan penampakan dari language game

Adanya sitilah ini dalam arti bahwa bahasa merupakan sebagian dari suatu kegiatan atau merupakan suatu bentuk kehidupan.

Language game sendiri merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat diprediksi karena hal tersebut bersifat spasio-temporal. Tidak ada suatu norma baku yang sifatnya mengikat dan absolut dalam setiap ragam penggunaan meskipun untuk ragam penggunaan yang sama.

Akan tetapi hal tersebut bukan berarti language game tidak memiliki karakter normatif, justru language game merujuk pada aturan tertentu dalam bahasa yang diacu oleh setiap pengguna bahasa yang berbeda.

Jadi diandaikan ada aturan main tersendiri dalam berbagai macam language game. Aturan main ini tidak dapat dicampuradukkan begitu saja satu dengan yang lain karena hanya akan menimbulkan kekacauan dalam berbahasa. 

Semisal aturan main dari bahasa santai tidak bisa diterapkan dalam bahasa formal pada suatu penulisan ilmiah.

Kembali pada kata anjay, sebelum kita bisa mengatakan kata tersebut maka kita harus mengerti dulu aturan mainnya. Kata ini pada dasarnya tidak memiliki arti resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan tetapi kata tersebut memiliki makna yang multitafsir dalam penggunaannya.

Penggunaan kata ini juga berpotensi sebagai bentuk kekerasan verbal. Menggunakan kata ini dalam media sosial juga bisa membuat seseorang mendapatkan hukuman pidana 4 tahun dan atau denda paling banyak 750 juta rupiah.

Kurang lebih penggunaannya sama seperti kata jancok a la orang Surabaya. Jika kata tersebut diucapkan dengan maksud dan tujuan yang baik dan kepada orang Surabaya sendiri maka kata tersebut memiliki makna keakraban atau sebagai simbol pertemanan.

Akan tetapi jika kata tersebut digunakan kepada orang-orang di luar Surabaya, kemungkinan besar akan memunculkan rasa tersinggung lawan bicara kita karena kata tersebut dianggap tidak pantas untuk dikatakan.

Masyarakat, terutama anak muda, harus memahami mengenai aturan main ini. jangan sampai menggunakan bahasa gaul atau bahasa sehari-hari sebagai bahasa formal. Setiap orang akan berbeda-beda dalam menangkap maksud yang ingin disampaikan dalam menggunakan kata ini.

Perlu disadari bahwa kata ini berasal dari kata “anjing”, jika kita menggunakan kata tersebut semata-mata karena gaul saja maka kita belum benar-benar memahami tentang aturan main dalam penggunaan bahasa.

Kata tersebut dimaknai juga tergantung dari cara penyampaiannya, ketika kita kesal atau marah maka kata tersebut memiliki makna sebagai suatu umpatan. Begitu pula jika kita sedang terkejut, senang, dan lain sebagainya.

Apalagi jika kata ini digunakan untuk berbicara kepada orang yang lebih tua. Tidak terlepas dari itu kita juga harus mengerti tata krama dalam berkomunikasi. Ada saatnya ketika kita harus menggunakan bahasa yang sopan terhadap orang yang lebih tua.

Sekalipun menggunakannya kepada teman sebaya, kita juga harus bisa mengerti waktu dan tempat yang tepat saat menggunakannya. Jangan sampai kita mengatakannya di luar konteks pembicaraan yang sekiranya tidak pantas untuk mengatakan hal tersebut.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa kita harus mengerti perbedaan antara bahasa formal dan bahasa biasa. Jika kita menganggap keduanya sama saja maka ada kemungkinan kita memasukkan kata anjay ini ke dalam bahasa formal yang sebenarnya tidak diperkenankan.


Daftar Pustaka

Kasih, Ayunda Pininta. 2020. Ucap kata “Anjay” Berpotensi Dipidana, Ini Kata Pakar Hukum Unair,

https://edukasi.kompas.com/read/2020/09/10/100336371/ucap-kata-anjay-berpotensi-dipidana-ini-kata-pakar-hukum-unair (Diakses pada 11 Januari 2021)