Baliho bermunculan di jalanan, pertanda pemilihan sebentar lagi tiba! Jurus per-baliho-an dan sejenisnya adalah senjata politik. Namun, etis kah di tengah pandemi? Kemanakah sense of crisis terhadap situasi pandemi ini?

Horee...sorak sorai para penyedia jasa percetakan, periklanan dan/atau pemasangan baliho. Rezeki dari Sang Maha Pemberi Rizki melalui partai dan politisi untuk UMKM yang bergerak dalam per-baliho-an.

Bak durian runtuh yang jatuh di tengah situasi pandemi COVID-19 dan PPKM yang diperpanjang tiap minggunya.

Saya jadi teringat tetangga-tetangga di kampung halaman yang memiliki usaha percetakan, sablon, kaos, spanduk, bahkan hingga baliho. Biasanya, bisnis ramai menjelang pemilihan, entah pilkada dan tentunya pilpres.

Saking, ramainya hingga kadang jam kerja pun ditambah, bahkan dulu tatkala awal-awal jumlah partai relatif banyak terjadi luapan pesanan.

Alih-alih Main Media Sosial, Pilih Baliho di Tepi Jalan

Nah, siapa yang menyangka di tengah PPKM Level 3-4 dan di era digital ini, ternyata para politikus di negeri ini masih memiliki kampanye dengan menggunakan media baliho yang dipasang di jalanan.

Terlebih di masa PPKM Level 3-4 dimana semestinya mobilitas penduduk atau lalu lintas di jalan relatif lebih sepi atau berkurang dari biasanya.

Jujur saya masih belum bisa memikirkan apa yang ada di benak mereka. Mengapa partai-partai berlomba memasang foto tokoh andalannya dengan baliho, umbul-umbul maupun bentuk lain sejenisnya?

Apakah ini adalah salah satu cara mereka membangkitkan dan memutar roda perekonomian UMKM di bidang percetakan dan periklanan?

Mampukah mereka bersaing dengan tokoh politik yang bergerilya melalui baliho digital di media sosial? Ataukah baliho di pinggir jalan adalah jalan ninja mereka untuk menggaet masa yang belum tentu melek digital?

Apakah pemasangan baliho dapat menjadi pertanda bahwa mereka kurang dikenal atau belum dikenal oleh publik?

Atau biar makin masuk ke dalam memori masyarakat, terutama yang lalu lalang dan mau gak mau mesti menatap baliho yang terpampang nyata?

Sejuta pertanyaan berasa menghantui kepala ini semenjak menyaksikan tingkah laku kreatif dan perlombaan pemasangan baliho terjadi. Bisa jadi baliho memiliki efek psikologis, dibenci namun malah semakin membekas di hati.

Walhasil, nantinya saat pemilihan terjadi jika tidak ada pilihan terbaik di antara yang terbaik, maka yang teringat di antara yang mudah teringat alias terekam di pikiran, jatuhlah tangan kita mencoblos wajah yang ada di baliho.

Polusi Visual dan Menambah Kerjaan Satpol PP

Baliho yang tidak beraturan dan dalam jarak yang kadang tak karuan dekatnya itu sebenarnya termasuk ke dalam polusi visual, estetika perkotaan terdisrupsi.

Menjelang perayaan kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia, telah hadir era penjajahan baru di zaman digital, selain hoaks dan misinformasi ternyata kita dijajah oleh polusi visual di pinggiran jalan.

Suasana damai dan hening di sejumlah wilayah yang diterapkan PPKM Level 3-4, tak lagi dapat dinikmati oleh sejumlah orang yang mesti bekerja di sektor kritikal dan esensial agak terganggu.

Estetika ruang di kanan kiri jalanan kota sebagai kawasan yang saat ini relatif sepi dari lalu lalang kendaraan, dibandingkan di hari normal sebelum pandemi, mulai diganggu oleh baliho, spanduk, dan sejenisnya yang dipasang sedemikian terstrukturnya.

Wah, jangan-jangan memang 2 sektor tersebutlah yang diincar oleh para inisiator atau pengggagas kampanye via baliho?

Mengingat kedua sektor tersebut kini menjadi kunci dalam penanganan pandemi COVID-19 dan pemulihan ekonomi? Kalau melihat dengan kacamata positif lainnya, bisa jadi ini adalah upaya pemberian ucapan terima kasih atas jasa kedua sektor tersebut yang tetap berjibaku di tengah perang melawan korona?

Terlepas dari sejumlah pertanyaan yang kembali menghantui saya tiap mencoba menelisik kebermanfaatan baliho dan kawan-kawannya. saya justru teringat semasa bertemu dan berbagi ilmu perpetaan dengan teman-teman Satpol PP Se-Jawa Tengah.

Tahun 2014 dan 2015, saya diundang berbagi cerita tentang pemanfaatan teknologi pemetaan. Selama 2 tahun berturut-turut tersebut, saya mengenalkan bagaimana teknologi pemetaan dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan informasi daerah rawan trantib berbasis data spasial.

Intinya, saat itu saya diminta untuk melihat dan membagikan cerita agar data yang dapat dikumpulkan untuk diolah dan dianalisis menjadi informasi, kemudian disajikan dalam bentuk peta.

Mereka minat belajar teknologi ini untuk mempermudah kinerja mereka agar lebih terarah, terutama jika kejadian yang harus ditangani lebih banyak ketimbang SDM yang tersedia.

Nah, salah satu data yang dikumpulkan di lapangan dengan menggunakan gawai berGPS melalui foto ber-geotag (mempunyai nilai koordinat) adalah foto baliho, spanduk, dan sejenisnya.

Wilayah berpolusi visual mereka tandai dengan gawai melalui foto tersebut dan disajikan dalam perangkat lunak pemetaan. Sehingga, mereka dapat memantau dan jika tiba masanya penertiban akan membagi timnya dengan lebih terarah.

Mereka akan bekerja untuk menertibkan, terutama untuk yang tidak ada izin, yang sudah habis masa pasangnya, hingga yang menyebabkan polusi visual. Biasanya, data yang dikumpulkan banyak di saat masa-masa kampanye pilkada maupun pilpres.

Mencermati kelahiran dan perlombaan baliho di masa pandemi ini, saya pun langsung terbayang teman-teman Satpol PP akan kembali beraksi pada waktunya.

Di tengah kesibukan mereka untuk turut memantau situasi pandemi COVID-19 dan penerapan PPKM Level 3-4 ini. Selain, bertugas mengawasi atau memantau tingkat kepatuhan warga terhadap protokol kesehatan dan peraturan PPKM, mereka kini mesti bersiap menghadapi per-baliho-an.

Lebih Baik Baliho untuk Kampanye Protokol Kesehatan atau Anak Yatim

Akankah lebih baik, jika gambar pada baliho, spanduk dan sejenisnya yang dipasang di tepi jalan diganti dengan kampanye protokol kesehatan. Bahkan, belakangan ini, muncul baliho maupun billboard "disewakan" untuk anak yatim.

Tentunya dengan infografis yang apik dan bahasa lokal maupun bahasa Indonesia yang muda dicerna publik. Pastinya diusahakan tanpa foto diri siapa pun, fokus ke pesan dan ajakan untuk mematuhi protokol kesehatan dan PPKM.

Jika masih menghendaki terpampangnya siapa yang berkontribusi terhadap baliho (yang dipromosikan dalam baliho), silahkan tuliskan nama terang yang dapat dilengkapi dengan gelar tentu lebih elegan.

Sehingga, yang tertanam di pikiran dan hati orang yang melintas dan menatap baliho tersebut akan tergerak dengan ikhlas untuk mendukung bapak/ibu yang terhormat kelak.

Saat menulis ini, saya jadi teringat buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Anak Semua Bangsa”, oleh karena itu izinkan saya petik dan menjadikan quote berikut sebagai penutup celoteh ini.

Maklum, saya masih perlu belajar dari para kaum terpelajar negeri ini tentang menyikapi permasalahan bangsa di tengah pandemi COVID-19 lewat per-baliho-an.

Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu. (Jean Marais, 55)