Kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba dari tahun-ketahun tidak berkurang, melainkan semakin meningkat. Hal ini tampak jelas melalui data statistik yang ditunjukkan oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ada 40.253 kasus penyalahgunaan narkoba, dan angka tersebut merupakan angka yang teringgi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Selain itu Badan Narkotika Nasional mengungkapkan, hingga November 2015 jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,9 juta jiwa. Angka tersebut meningkat dari sekitar 4,2 juta jiwa pada Juni 2015.

Fenomena ini menjadi sorotan khusus bagi negara kita, bahwasanya kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba agaknya sudah menjadi suatu hal yang biasa untuk dilakukan tanpa lagi memikirkan resiko yang terjadi kedepannya apabila melakukan hal tersebut.

Tindakan pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini, yakni dengan mengeksekusi anggota terpidana mati kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba, agaknya tepat apabila yang pemerintah harapkan adalah kasus ini dapat semakin berkurang bahkan berhenti dari pemberitaan.

Dengan adanya eksekusi mati, pemerintah mungkin memiliki tujuan agar sikap tersebut dapat diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia khususnya, melalui berbagai pemberitaan dan media yang beredar. Dengan demikian masyarakat menjadi sadar, takut, jera dan berusaha untuk tidak mencoba melakukannya.

Beberapa waktu yang lalu kita juga sempat mengikuti berita terkait eksekusi terhadap 14 terpidana mati, yang pada tahun-tahun sebelumnya juga telah terjadi. Melihat fenomena yang terjadi, kita kemudian dapat berpikir apakah harus dengan eksekusi mati agar dapat mengurangi atau bahkan menghentikan kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba ini? 

Apakah tindakan eksekusi mati ini merupakan suatu cara yang efektif untuk menangani permasalahan ini? Namun dapat menjadi pertanyaan kembali, apabila memang demikian tujuan yang diharapkan, apakah harus dengan eksekusi mati? Apakah memang tidak ada cara lain selain eksekusi mati? Atau hukuman mati dapat dijadikan sebagai hukuman alternatif saja?

Hukuman Mati

Hukuman mati merupakan hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan sebagai bentuk hukuman yang dikenakan pada seorang sebagai akibat dari perbuatannya, yang dinilai menghancurkan negara. Adapun berbagai macam metode yang diterapkan di dalam proses hukuman mati, diantaranya :

  • Hukuman pancung: Hukuman yang dilakukan dengan cara memotong kepala.
  • Hukuman rajam: Hukuman yang dilakukan dengan cara dilempari batu hingga mati.
  • Hukuman sengatan listrik: Hukuman yang dilakukan dengan cara duduk di sebuah kursi kemudian dialiri listrik bertegangan tinggi.
  • Hukuman gantung: Hukuman yang dilakukan dengan cara digantung.
  • Hukuman suntik mati: Hukuman yang dilakukan dengan cara disuntik obat yang dapat membunuh.
  • Hukuman tembak: Hukuman yang dilakukan dengan cara menembak seseorang tepat pada bagian jantung.

Berbagi metode tersebut memang pernah diterapkan, tetapi yang paling sering kita dengar ialah hukuman tembak bagi para narapidana.

Hukuman mati seringkali bahkan sampai saat ini masih dianggap oleh sebagian orang sebagai hukuman yang dapat menyelesaikan persoalan dan mampu menyadarkan masyarakat lainnya agar tidak melakukan tindak kejahatan yang dapat menghancurkan negara. Pada kenyataannya tindak kejahatan masih tetap saja ada, potensi-potensi untuk menghancurkan negara juga masih ada sedangkan sudah banyak manusia yang telah kita bunuh dengan eksekusi mati. 

Apakah dengan demikian bukannya kita malah menambah persoalan dan bukan menyelesaikan persoalan? Kita berusaha untuk menyelesaikan persoalan, tetapi cara yang kita lakukan malah membuat persoalan baru. Hukuman mati memang pada dasarnya diberikan kepada mereka yang melakukan tindak kejahatan pada taraf yang melampaui batas normal. Tetapi apakah sepenuhnya mereka itu bersalah sebagai kesatuan pribadi manusia?

Sebelum diputuskan adanya revisi Undang-undang tentang hukuman mati, Indonesia menjadi salah satu negara yang menerapkan hukuman mati sebagai sangsi bagi pelaku kejahatan yang berpotensi menghancurkan negara. Selama ini seperti yang kita ketahui, di negara kita hukuman mati dikenakan bagi narapidana kasus pembunuhan, kasus kejahatan narkotika dan terorisme.

Secara khusus dalam tindak kejahatan narkotika, sebagaian besar narapidana memang bukan merupakan warga negara Indonesia, mereka adalah warga negara asing yang berusaha membunuh masyarakat Indonesia.

Tindakan kejahatan narkotika ini memang di satu sisi membuat hati kita geram, sebab para pelaku kejahatan sebagain besar bukan dari negara kita. Oleh karena itu mengapa mereka perlu dikasihani, hal ini sama saja seperti tindakan melecehkan martabat negara.

Kini melalui berbagai macam pertimbangan, diperbaharuilah Undang-undang mengenai hukuman mati, di mana hukuman mati di negara kita hanya digunakan sebagai hukuman alternatif saja. Tentu hal ini memunculkan perdebatan di berbagai kalangan masyarakat juga pemerintah, tetapi tentu ada aspek positif yang ingin diraih dalam hal ini. 

Pribadi Manusia

Manusia dianggap sebagai makhluk ciptaan yang sempurna. Anggapan ini menunjukkan bahwa manusia memilki kekhasan tertentu dibandingkan dengan makhluk ciptaan yang lainnya. Ada banyak aspek yang terdapat dalam diri manusia dan hal itulah membuat manusia menjadi sangat khas. Aspek-aspek di dalam diri manusia dari hari ke hari semakin membentuk manusia menjadi pribadi yang utuh.

Di dalam diri manusia terdapat sisi personalitas dan subjektivitas yang membuat manusia menjadi khusus dan khas. Personalitas dan subjektivitas yang terdapat di dalam diri manusia semakin mengarahkan manusia menjadi pribadi yang bebas, otonom dan integral yang berakar dari kodratnya sebagai makhluk yang memiliki akal budi. 

Personalitas Manusia

Manusia sebagai satu kesatuan pribadi dibedakan dengan pribadi-pribadi yang lainnya (binatang, tumbuhan dan benda mati lainnya). Pembedaan yang sangat fundamental ini di dasarkan pada adanya aspek-aspek kesadaran di dalam diri manusia, di mana manusia melalui kesadaran tersebut mampu untuk merefleksikan keberadaan dirinya, mempertimbangakan suatu hal serta memutuskan aneka macam pilihan-pilihan yang ada. 

Melalui kesadaran itu pula manusia dapat mengendalikan dan mengontrol dirinya sekaligus menyadari kontrolnya tersebut. Berdasarkan kesadaran itu pula manusia dapat disebut sebagai pribadi (person atau persona) yang jelas membedakan dirinya dengan makhluk hidup lainnya serta benda mati.

Persona beasal dari bahasa Latin yang berarti pribadi. Konteks yang melatarbelakangi munculnya kata persona ini bersal dari zaman Yunani-Romawi kuno di mana seorang persona menampilkan watak yang merepresentasikan topeng yang dikenakannya. 

Setiap persona memiliki keunikannya masing-masing. Keunikan ini menunjukkan sisi kepribadian personalitas manusia. Sisi personalitas manusia ditunjukkan melalui keberadaannya sebagai pribadi yang tetap, tidak berubah dan menjadi dasar bagi setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia. Manusia pada hakikatnya adalah tetap, sebab ia adalah pribadi yang menjadi dasar yang tetap dari segala perubahan dan tindakannya.

Personalitas manusia pada dasarnya berbicara soal kesatuan subjek sebagai pribadi yang memiliki karakteristik dan kekhasan yang membuatnya menjadi pribadi yang bebas dan  otonom. Personalitas menunjukkan sisi pribadi manusia sebagai makhluk yang memiliki akal budi, jiwa dan roh.

Kesatuan antara badan, jiwa dan roh inilah yang membuat manusia menjadi pribadi yang sungguh-sungguh utuh atau integral. Kesatuan inilah yang juga membentuk manusia sebagai pribadi yang dapat melampaui keterbatasan fisik dirinya.

Dalam sejarah pemikiran filsafat, personalitas juga menjadi bahan kajian yang dipikirkan terus menerus sepanjang waktu. Pada masa pemikiran Yunani-Romawi kuno konsep personalitas masih belum dilihat secara jelas, namun yang dimunculkan ialah bahwa pribadi bukan hanya sekedar kesatuan substansi, melainkan menyatakan subsatansi tersebut bukan hanya sekedar “ada”, tetapi juga hadir dalam dirinya sendiri.

Lebih dalam lagi kita memahami sisi personalitas manusia melalui pemikiran beberapa tokoh-tokoh filsafat abad pertengahan, modern sampai kontemporer seperti Thomas Aquinas, Rene Descartes, Martin Buber dan Gabriel Marcel. Menurut Thomas Aquinas manusia adalah substansi subsistens, di mana pribadi itu mengadakan dirinya sendiri. 

Kehadiran diri pribadi ditentukan oleh dirinya sendiri dan berasal dari dalam dirinya sendiri, tidak tergantung atau ditentukan dari luar dirinya, setiap pribadi itu otonom dan bebas. Menurut Rene Descartes, realitas pribadi manusia dikatakan otentik apabila manusia sadar akan dirinya sendiri. Melalui kegiatan berpikir Cogito ergo sum dan berkesadaran membuat pribadi manusia menjadi berpikir, meragukan dan memiliki kesadaran diri. 

Martin Buber berpendapat bahwa dimensi personalitas manusia ditempatkan pada dimensi relasional. Setiap orang pasti berelasi dan berkomunikasi serta memperlakukan satu sama lain dengan sikao yang respek dan pemahaman yang dalam terhadap subjektivitasnya. Menurut Gabriel Marcel pribadi manusia bukanlah suatu objek kajian ilmiah. 

Pribadi manusia adalah misteri, di mana karena misteri itulah pendekatan yang digunakan untuk memahami pribadi manusia ialah dengan pendekatan relektif dan metafisis. Itulah berbagai pandangan dari para tokoh filsafat mengenai dimensi personalitas manusia di dalam rentetan sejarah pemikiran filsafat.

Dalam diri manusia kita dapat melihat adanya pembedaan yang cukup signifikan, meskipun dalam kenyataannya hal itu berada dalam kesatuan sebagai pribadi manusia. Adanya pribadi dari “Aku” dan kepribadian menunjukkan keutuhan diri manusia.

Pribadi dari “Aku” merupakan sebuah konsep yang menyatakan tentang suatu subjek substansial yang merupakan struktur dasar fundamental dari pribadi manusia, sedangkan kepribadian lebih menyatakan tentang perkembangan karakter seseorang yang diraih melalui suatu proses pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus dalam rentang waktu kehidupannya.

Berangkat dari pandangan-pandangan mengenai pribadi manusia, kita perlu mempertanyakan kembali mengapa manusia dicipta sebagai makhluk yang memiliki kedudukan yang lebih istimewa daripada yang lainnya. Apa keistimewaan yang dimiliki oleh manusia? Manusia memiliki keistimewaan tertentu, di mana ia adalah pribadi atau individu yang utuh dan tak terbagi. 

Hal ini ditunjukkan melalui adanya sisi personalitas yang terdapat di dalam diri manusia. personalitas manusia memiliki sifat yang bebas dan otonom di dalam dirinya. Personalitas yang menunjuk pada otonomi manusia menempatkan manusia sebagai tuan atas dirinya. Kesadaran menjadi penciri yang khas bagi manusia sebab hal itu memampukan manusia untuk menghadirkan dirinya sendiri serta mencoba untuk mengenali dirinya melalui refleksi.

Personalitas di dalam diri manusia juga menempatkan “cara berada” manusia di dalam suatu keterbukaan dan keterarahan. Manusia memiliki sifat di mana ia mampu terbuka kepada sesuatu yang transenden dan terarah kepada kesempurnaan. Keterbukaan dan keterarahan ini memampukan manusia untuk membangun komunikasi yang dekat dengan pengalaman-pengalaman dalam hidupnya, dengan sesamanya dan dengan Tuhan. 

Sifat inilah yang membantu manusia untuk dapat mengatasi dirinya serta keterbatasan fisik yang dimilikinya. Dari sinilah akhirnya kita dapat mengetahui bahwa personalitas dapat membentuk empat kemampuan eksistensi manusia, di antaranya : Otonomi atau kebebasan diri sebagai pribadi, kesadaran diri, komunikasi dan transendensi diri.

Analisis Kritis

Hukuman mati yang diterapkan di Indonesia agaknya menjadi perguncingan di berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintahan dari waktu ke waktu. Di satu sisi hukuman mati menjadi pilihan yang tepat untuk menindak tegas para pelaku kejahatan dan berusaha menyadarkan masyarakat yang lainnya agar tidak melakukan tindak kejahatan tersebut.

Yang menopang argumen ini adalah bahwa para pelaku tindak kejahatan, khususnya kejahatan narkotika di Indonesia sebagian besar dipelopori oleh warga negara asing, dengan demikian dapat di gambarkan bahwa hal ini berusaha untuk merusak dan memecah belah negara kita.

Di sisi lain hukuman mati merupakan proses hukum yang tidak bermoral. Betapa mudahnya kita mematikan kehidupan manusia tanpa adanya pertimbangan lain yang dapat diterima, sekalipun orang benar-benar bersalah. Pelaku tindak kejahatan bila dilihat dari sisi personalitas sebagai satu keutuhan manusia tidaklah sepenuhnya dipenuhi oleh kejahatan. Manusia sebagai satu kesatuan yang utuh, otonom dan bebas terdiri dari badan, jiwa dan roh. Apakah dari situlah kemudian kita dapat menyimpulkan bahwa pelaku tindak kejahatan khususnya kejahatan narkotika sepenuhnya bersalah?

Dari sinilah kebijakan hukuman mati itu dinilai mereduksi sisi personalitas manusia. Banyak dari kalangan masyarakat seperti relawan HAM sungguh berusaha memperjuangkan bahwa hukuman mati hendaknya dihapuskan saja.

Dalam memutuskan segala sesuatu kita perlu mempertimbangkan banyak aspek, tidak boleh kita hanya melihat dari satu sudut pandang saja dan kemudian itu dijadikan penilaian bagi keseluruhan pribadi seseorang. Lantas, bagaimana cara kita untuk mengatasi persoalan ini? Bagaimana cara kita agar tidak ada lagi para pelaku kejahatan narkotika?

Langkah pemerintah Indonesia untuk memikirkan persoalan perlu kita dukung bersama. Pemerintah berusaha merivisi Undang-undang tentang hukuman mati dengan mengubahnya menjadi hukuman relatif. Memang wacana ini sudah memunculkan banyak sekali perdebatan di sana-sini, tetapi hendaknya kita sebagai bagian dari masyarakat tidak perlu banyak berkomentar terlebih dahulu, mari kita dukung pemerintah dalam mewujudkan hal ini sebagai suatu awal usaha yang baik.

Melalui usaha ini pemerintah telah berjuang untuk melihat sisi personalitas manusia, tidak lagi melihat manusia sebagai pribadi yang tidak berdaaya “sekali bersalah tetaplah salah”. Pemerintah dalam hal ini menyadari bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya, oleh karena itulah pemerintah membentuk sebuah tim independen yang berperan untuk menilai apakah seorang terpidana hukuman mati layak atau tidak ke hukuman penjara atau tidak. 

Tim independen melaksankan kinerjanya sesuai dengan peraturan pemerintah, bahkan dalam prosesnya pengalihan hukuman tersebut akan melibatkan publik. Seorang narapidana yang divonis hukuman mati akan dipantau oleh tim independen di bawah Kementrian Hukum dan HAM, jika terpidan mati dinilai bertobat, maka hukuman mati dapat ditangguhkan dan diganti dengan hukuman penjara pada masa tertentu.

Mari kita mencoba menlisik lebih dalam ke dalam sistem hukum di Indonesia. Apakah kemudian dengan meniadakan hukuman mati dan dialihkan pada hukuman penjara dengan masa tertentu akan dapat menyelesaikan persoalan yang rumit ini? Penulis merasa bahwa hal itu tidak juga dapat menyelesaikan persoalan ini, tentu para pelaku tindak kejahatan narkotika akan tetap ada. Penulis menghargai usaha pemerintah yang mencoba menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang khas dan kita tidak bisa mereduksi sisi personalitas manusia hanya dari satu sudut pandang saja.

Kehidupan di dalam penjaralah yang kemudian menjadi rujukan di mana pembenahan itu harus dilakukan. Penulis melihat bahwa kehidupan di penjara pun dinilai tidak manusiawi sama sekali, di mana para tahanan diperlakukan seperti hewan bukan lagi sebagai manusia dengan kekhasannya.

Betapa pentingnya pendidikan yang harus diusahakan di lembaga permasyarakatan agar sungguh-sungguh dapat membuat para narapidana itu bertobat dan kembali pada jalan yang benar. Adanya wadah pelatihan kerja, bimbingan kepribadian dan spiritualitas perlu ditingkatkan lagi agar pada masa penahanan tersebut sungguh-sungguh mengahasilkan buah yang berlimpah.

Adanya anggapan bahwa dengan ditiadakan hukuman mati akan membuat penjara menjadi penuh dan bagaimana bisa mengelolanya? Adanya pajak yang diperoleh dari masyarakat merupakan bentuk partisipasi dari masyarakat sendiri agar tercipta negara yang aman dan sejahtera.

Di sini diharapkan bahwa pemerintah memanfaatkan hasil dari pajak tersebut sebaik-baiknya, tidak di korupsi tetapi digunakan untuk memajukan pendidikan di dalam lembaga permasyarakatan agar dapat menciptakan lembaga permasyarakatan yang dapat menyadarkan para narapidana agar dapat bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Kesimpulan

Dalam mengambil sebuah keputusan, penting bagi kita untuk mempertimbangakan terlebih dahulu berbagai macam aspek yang terdapat di dalamnya. Kita tidak berkuasa untuk memutuskan sutu hal melihat dari satu sudut pandang saja.

Dalam kasus hukuman mati, kita juga perlu melihat pribadi manusia sebagai satu kesatuan dan tidak melihat dari unsur kesalahannya saja. Manusia memiliki sisi personalitas yang membuat dirinya menjadi khas dan berbeda dengan makhluk hidup lainnya.

Sama halnya dengan manusia, bahwa kita perlu memakai kesadaran, ratio dan sikap reflektif kita dalam memutuskan segala sesuatu. Dengan demikian kita akan semakin menghargai diri kita serta sesama kita sebagai pribadi yang utuh, otonom dan bebas. Tentu banyak sekali cara agar kita dapat menacapai kesempurnaan sebagai manusia yang utuh dan tentu itu menjadi perjuangan yang diahadapi dari hari ke hari.

Penghargaan kita terhadap sisi personalitas manusia menjadi keutamaan yang perlu kita bangun mulai saat ini agar nantinya tercipta pribadi-oribadi yang saling mengahargai satu sama lain.