Ketakutan akan ketidaktahuan merupakan pangkal dari kesesatan berpikir dan kebodohan yang kadang dipelihara, kemudian menimbulkan perilaku konservatif, agresif, bahkan reaksioner terhadap apa yang berseberangan dan asing baginya.

Salah satu kutipan dalam buku Bumi Manusia, tetralogi pulau buruh karya Pramoedya Ananta Toer, "Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, kau harus percaya akan berhasil dan berhasillah kau, anggap semua pelajaran mudah. Jangan takut pada pelajaran apa pun karena ketakutan itu sendiri kebodohan, awal yang akan membodohkan semua."

Jikalau masyarakat kita dewasa ini diberi sebuah pertanyaan tentang, "apa itu ideologi kiri?", mungkin sebagian besar akan menjawab, "pemikiran kiri adalah pemikran berbahaya, PKI, komunis, ateis, anti-tuhan, dan tentu saja marxisme." Semua stigmatisasi seperti ini sering kali kita jumpai dalam kehidupan sosial negeri ini. 

Tak heran jika semua feomena keburukan dalam kehidupan sosial bernegara saat ini selalu didalangkan pada PKI maupun komunis yang telah lama mati, walaupun sebenarnya sama sekali tidak relevan. Ideologi dengan logo palu aritnya itu mempunyai citra yang berbahaya bak hantu tak bertuhan, anti-agama, kejam, sadis, demi mencapai tujuannya.

Jelas hal ini merupakan sebuah cacat berpikir yang berkelanjutan dari generasi ke generasi hingga melahirkan apa yang disebut "Fobia Kiri". Pengetahuan tentang pemikiran kiri direduksi oleh pemenang dalam sejarah, adagium seperti, "Sejarah Ditulis oleh Pemenang" menemui relevansinya.

Istilah "kiri" sebenarnya bermula dari era Revolusi Prancis, bermula pada tempat duduk legislatif pada saat itu, kaum republik yang menentang kemapanan, Status Quo, disebut sebagai Kelompok Kiri karena mereka duduk di sisi kiri dari dewan legislatif. Berbeda dengan kelompok yang duduk di sebelah kanan yang mendukung Penguasa atau Status Quo.

Dalam buku karangan Listiyono Santoso. dkk, Epistemologi Kiri, menjelaskan tentang pengertian pemikiran kiri, yang merupakan pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa melawan, mengkritik, dan memang terkadang "nakal" untuk menghancurkan segala Establishment atau kemapanan, terutama kemapanan kekuasaan otoriter dan kapitalisme modern.

Gerakan Kiri sendiri merupakan gerakan intelektual bersama dengan golongan akar rumput yang kaya akan pemikiran dan teori-teori sosial menuntut kebebasan, kesetaraan, dan keadilan sosial dalam sebuah perubahan tatanan masyarakat yang lebih baik. Kiri dalam artian sempit bukan hanya Sosialisme maupun Komunisme,  tetapi banyak varian atau spektrum yang bisa digolongkan dalam gerakan atau pemikiran kiri.

Istilah Kiri di Indonesia sering kali memang kerap menjadi sebuah stigma di kalangan masyarakat pasca-tragedi 1965, yang mengubah semua struktur dan pandangan masyarakat atas ideologi-ideologi kiri.

Menurut saya, Fobia Kiri merupakan ketakutan berlebihan yang mengakibatkan sebuah penyakit sosial dengan cacat berpikir dalam kondisi kronis yang menggerogoti akal pikiran manusia terhadap pandangan Epistemologi Kiri. Khususnya di Indonesia sejak tahun 1965 hingga zaman Milenial seperti sekarang. 

Tentu saja faktor pemicunya adalah peristiwa G30S yang biasanya diikuti dengan akronim PKI, titik balik sejarah bangsa dibarengi dengan pergantian kekuasaan dari Era Soekarno ke Era Soeharto atau yang dikenal dengan Orde Baru.

Orde baru menciptakan stigma pada pandangan yang berbau kiri hingga melahirkan sebuah penyakit fobia kiri, tentu dengan tujuan politis juga sebagai alat untuk melegitimasi segala tindakan represif atau pembungkaman terhadap mereka yang berseberangan dalam pandangan politik.

Mereka yang berbeda akan dicap sebagai Komunis yang anti terhadap Pancasila, artinya darahnya secara legal dapat ditumpahkan. Sebagaimana penggambaran seorang komunis di era Orde Baru yang dipukul rata, digeneralisasi sedemikian rupa sehingga selalu identik dengan hal-hal negatif.

Sejarah rekaan Orde Baru menghapuskan peran gerakan kiri dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Dengan menjadikan komunisme sebagai dalang utama peristiwa G30S 1965, dan musuh bersama sejak saat itu. 

Narasi pereduksian sejarah oleh Orde Baru yang diajarkan di sekolah selama bertahun-tahun dari generasi ke generasi mengenai gerakan kiri atau komunisme menimbulkan persepsi tentang sekelompok orang-orang bejat, tak berperikemanusiaan, anti-Tuhan, anti-agama, gemar melakukan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Dan hampir tak pernah ada pembahasan mengenai peran penting tokoh-tokoh kiri dalam pelajaran sejarah di sekolah.

Ketakutan telah membuat orang-orang mengesampingkan akal kritis, takut pada hal-hal yang ia sendiri tidak pahami dan tidak diketahuinya, hanya berbekal dari sejarah kelam G30S yang menurut klaim Orde Baru dengan dalang utamanya PKI, tahun 1965. 

Sesungguhnya tragedi kelam ini mempunyai banyak sudut pandan yang dapat dikaji. Bukan hanya versi Orde Barunya Soeharto yang abstrak, tetapi banyak varian sejarah yang bisa kita jadikan tolok ukur, seperti versi Bennedict Andeson ataupun John Roosa dalam bukunya Dalih Pembunuhan Massal.

Hegemoni Orde Baru dimulai dengan dominasi militerisme tahun 1965, ekonomi-politik, hingga sampai pada kebudayaan melalui berbagai propaganda. Distorsi hingga monopoli kebenaran telah mengakar kuat dalam kesadaran masyarakat. Kesadaran mayarakat saat ini hanya bisa dikembalikan dengan membaca ulang sejarah, menumbuhkah sikap skeptis dan kritis.

Jika bicara soal logika pemberontakan sebagai dalih akan ketakutan terhadap sebuah paham, sejarah mencatat Kartosuwirjo pun pernah melakukan pemberontakan terhadap negara dengan DI/TII dan peristiwa itu pun berlumuran darah hingga memakan korban banyak. 

Tetapi apakah adil bila kita mengeneralisasi, memukul rata orang-orang Islam, beserta Partai politik yang berlandaskan ajaran Islam sama seperti dalam peristiwa G30S? Ataukah yang sekarang lagi populer tentang kelakuan ISIS yang penuh dengan kekerasan itu bisa mewakili citra umat Islam secara keseluruhan? 

Tentu saja tidak semudah dan sesederhana itu. 

Satu hal yang pasti, semua kejadian ini merupakan alasan atau faktor "Politik" perebutkan kekuasaan. Marxisme yang dilarang melalui TAP MPRS No. XXV/1966, dan dalam perkembangannya saat ini melalui RKUHP dalam pasal 188, Marxisme hanya boleh dipelajari sebagai ilmu pengetahuan yang berarti sengatnya, yaitu "Praxis" lagi-lagi ditumpukan.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan oleh mereka yang nasionalis maupun agamis, tetapi juga mereka kaum kiri yang memegang peranan krusial bagi kemerdekaan Indonesia. Negara ini dibangun dari berbagai ide tokoh-tokoh bangsa, di antaranya juga tokoh-tokoh yang berideologi kiri.

Apakah pemikir-pemikir ideologi kiri ini meninggalkan agamanya dan menjadi seorang ateis? Jawabannya tergantung pada nilai subjektif atau individu masing-masing. 

Tokoh bangsa seperti Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hata, Sutan Sjahrir, hingga Haji Mohammad Misbach, mereka semua mempelajari Marxisme tapi tidak sampai meninggalkan agamanya dan menjadi seorang ateis yang anti-tuhan. Mereka tetap teguh pada iman kepercayaan agamanya masing-masing, bahkan menggabungkan keduanya antara teori Marxisme dengan ajaran agama seperti yang dilakukan Haji Misbach.

Bukan hanya dalam negeri, bahkan tokoh-tokoh luar negeri Pemikir Islam yang dicap kiri oleh zaman seperti Mohammad Arkoun dengan rekonstruksi terhadap Alquran denganmenggunakan nalar kritis, juga mengkritik tradisi ortodoks yang didominasi oleh Logosentrisme, Objektivisme, serta Positivisme. Hasan Hanafi seorang tokoh Islam yang mempelopori teori Orientalisme dan menggagas Kiri Islam. Juga ada Asghar Ali Enginer dengan Teologi Pembebasan sebagai inti dari pemikirannya.

Fenomena fobia kiri merupakan ketakutan yang dilandasi dari ketidaktahuan, selalu berdampak pada pemberangusan dan razia-razia buku dicap kiri, sebuah tindakan bodoh yang mengakibatkan kemerosotan intelektual, merazia buku seperti ciri khas fasisme. Di tengah situasi dengan tingkat literasi negeri ini makin merosot, urutan 60 dari 62 negara, razia buku malah makin gencar dilakukan, baik dari Aparat negara maupun LSM afiliasinya.

Tak heran jika fobia kiri makin subur di negeri ini karena keterbatasan bacaan yang menyebabkan minimnya pemahaman masyarakat atas terminologi kiri. 

Ada sebuah anekdot dari buku karangan Dandhi Dwi Laksono, yaitu "Indonesia For Sale", dalam sebuah wawancaranya di tahun 2001, saat mewawancarai Sekjen Anti-Komunis, kelompok yang gencar-gencarnya merazia buku-buku yang dianggap berlabel "kiri" di sebuah talkshow, di radio Jakarta.

"Aku bertanya, apakah Anda sudah baca buku Das Kapital?" (Das Kapital merupakan buku Mahakarya Karl Marx, 1967). Lalu spontan dijawab, "Buku seperti Das Kaptal juga akan kami sikat. Buku itu mengajari orang-orang menjadi kapitalis."

Ini merupakan sebuah contoh fobia kiri. Bukankah sangat memalukan dan menggelikkan ketika mendengar jawaban dari seorang Sekjen Anti-Komunis, Das Kapital sejatinya merupakan sebuah kritik ekonomi politik tentang proses produksi kapitalis secara menyeluruh? Sebuah fakta bahwa apa yang mereka takutkan adalah apa yang sama sekali mereka tidak mengerti dan tidak mereka ketahui.

Sebaik-baiknya cara melawan sebuah konsep dengan menyusun sebuah konsep tantangan atau kritikan, pikiran harusnya dilawan dengan pikiran, hingga melahirkan sebuah loncatan pemikiran yang lebih tinggi, pengetahuan baru yang lebih maju dalam sebuah proses dialektika, bukan dengan kebencian buta melalui narasi-narasi palsu. 

Mungkin kita bisa melihat rohaniawan seperti Frans Magnis Suseno yang melawan dengan cara mengetahui. Ia mengkritik Marxisme dengan cara mengetahuinya. Tapi sialnya malah buku-bukunya yang bergambar atau bersampul wajah Marx-lah yang kerap dirazia oleh oknum-oknum.

Ketakutan adalah sikap dasar dalam manusia yang tak terelakkan ketika dihadapkan dengan hal asing yang penuh dengan stigma. Membaca dan mempelajari buku-buku kiri merupakan salah satu ketakutan di negeri ini, mengingat sejarah yang didistorsi sedemikian rupa untuk menguntungkan sebuah rezim.

Teringat waktu pertama kali membaca dan mempelajari Marxisme, ada sebuah ketakutan dalam benak kepala berasal dari pandangan Common sense, pandangan secara umum yang tercipta dalam perkembangan masyarakatBahwa Marxisme ataupun Komunisme adalah ajaran anti-tuhan atau ateis dan lain-lain.

Pada waktu itu, saya bersumpah akan berhenti dan akan membakar buku-buku Marxis yang saya miliki apabila memang ada teori Marx yang menyarankan kita agar menjadi seorang ateis dan anti terhadap ajaran agama. Marxisme sejatinya merupakan teori ilmiah yang relevan dengan perkemangan sejarah, realitas objektif maupun subjektif dalam hubungan-hubungan produksi saling berkontradiksi hingga tercipta sebuah loncatan sejarah Aufhebung melahirkan masyarakat tanpa kelas yang hidup dalam kesetaraan dan kedamaian hidup.

Tidak ada lagi segregasi antara kaum proletariat sebagai material subjektif historis dan kaum borujasi sebagai pemilik modal semua lebur menjadi satu itulah yang disebut "Komunisme". Hingga hari ini buku-buku kiri itu masih ada di rak buku saya bahkan makin bertambah dan Alhamdulillah saya masih beriman terhadap agama kepercayaan saya.

Intinya adalah, terjebak dalam pemikiran sempit mengerdilkan nalar kritis hingga takut pada sebuah simbol-simbol maupun pemikiran-pemikiran yang dianggap tabu, penuh dengan stigmatisasi. Ketakutan hanyalah akibat dari ketidaktahuan kemudian berakhir dengan kesesatan berpikir dan kebodohan yang kadang dipelihara, hingga menimbulkan perilaku konservatif, agresif, bahkan reaksioner terhadap apa yang berseberangan dan asing baginya.