Berbagai kekhawatiran muncul di benak perempuan, termasuk kemungkinan adanya tindak kriminal atau pelecehan seksual yang bisa terjadi. Fenomena crosshijabers tengah menjadi sorotan, bahkan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. 

Crosshijaber merujuk pada pria yang gemar berpenampilan layaknya perempuan. Umumnya, mereka tampil dengan hijab, lengkap dengan cadar yang menutupi sebagian wajah. Istilah crosshijaber sendiri diambil dari sebutan crossdressing.

Nama terakhir merupakan istilah yang digunakan untuk gaya berdandan atau tampilan secara spesifik pada busana yang tidak sesuai dengan jenis kelamin bawaan sejak lahir. Crossdressing bisa dilakukan oleh pria yang berdandan seperti perempuan atau bahkan sebaliknya. 

Crosshijaber ini mengaku tidak memiliki penyimpangan seksual. Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial. Kaum hawa pun khawatir dengan adanya crosshijaber. Lantaran, para crosshijaber berani masuk ke ruang-ruang privasi perempuan.

Mengikuti crossdressing adalah hak setiap orang. Namun, jika hal tersebut membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terganggu keamanannya, maka sudah selayaknya hak tersebut dievaluasi.

Terlebih dalam kasus lelaki yang menjalani crosshijaber masuk ke masjid di wilayah khusus perempuan. Itu jelas melanggar hukum. Sebab, meski ia berpenampilan perempuan, dia adalah lelaki dan seharusnya ada di wilayah lelaki. 

Para lelaki pelaku crosshijaber ini adalah lelaki tulen yang tertarik pada perempuan tulen, maka jika mereka sengaja ada di wilayah perempuan jelas ini kekeliruan yang disengaja. Para perempuan yang ke masjid dan duduk di wilayah perempuan sering kali membuka hijab mereka untuk memberi kesempatan rambut bernapas. Coba bayangkan jika ternyata ada lelaki berpakaian perempuan di area itu?

Menanggapi fenomena crosshijaber tersebut, Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap hal itu suatu tindakan yang diharamkan dalam ajaran Islam. Kebiasaan mengenakan pakaian yang identik dengan lawan jenis sebenarnya bukan hal baru. Entah sudah dari berapa ribu tahun lalu budaya mengenal kebiasaan tersebut. 

Di Jawa, terdapat budaya kesenian ludruk yang diperankan oleh pria tetapi sebagai wanita. Para pemeran wanita pasti melakukan cross-dressing atau berpakaian dan berperilaku wanita. Fenomena serupa juga bisa ditemukan di banyak budaya lain. Misalnya, di India, Thailand, Meksiko, Jepang, dan lainnya.

Selain identik dengan seni pertunjukan, rupanya crossdressing juga sering dilekatkan dengan komunitas gay atau homoseksual. Kita mungkin sedikit asing dengan Drag Queen, yaitu seni pertunjukan yang dilakukan oleh lelaki dengan menyerupai perempuan baik dalam hal kostum hingga make up wajah, yang semuanya ditujukan untuk hiburan semata. 

Nah, para artis Drag Queen ini biasanya tampil dalam kabaret, hiburan malam, drag peagants, hingga gay pride parades.

Para crosshijaber tersebut bahkan memiliki komunitas di sejumlah media sosial seperti Facebook dan Instagram. Bahkan, mereka seolah ingin mengukuhkan keberadaannya dengan membuat tanda tagar crosshijaber meski kini banyak unggahan yang dihapus.

Dari sejumlah tangkapan layar Instastory, terpampang wajah pria yang mengenakan gamis, hijab panjang, dan ada yang memakai cadar. Diungkapkan bahwa beberapa dari crosshijaber tersebut bahkan berani masuk ke tempat yang dilarang bagi pria seperti tempat wudu, area tempat salat wanita di masjid, bahkan toilet.

Berpakaian merupakan hak setiap orang. Tapi, fenomena crosshijaber ini meresahkan. Upaya paling sederhana dan bijak dilakukan apabila kita mencurigai seseorang sebagai crosshijaber yaitu dengan mengajaknya bicara. 

Secantik apa pun seseorang di balik cadarnya, suaranya tidak akan berbohong. Setidaknya, dengan mengenali suaranya, kita bisa mengenali identitasnya. Dan, jika kita menemui mereka di masjid, sebaiknya kita langsung meminta mereka untuk meninggalkan area khusus perempuan.

Setelah dilakukan penelitian, ternyata para pelaku crosshijaber juga memiliki gangguan yang disebut dengan transvestisme. Transvestisme merupakan salah bentuk gangguan perilaku seksual parafilia atau ketertarikan seksual pada hal yang tidak biasa atau tabu. 

Terdapat dua faktor yang menyebabkan seseorang mengalami transvestisme, yaitu faktor psikologi dan neurobiologis. Secara psikologis, hal ini dapat disebabkan kecemasan untuk menghilangkan stres, dipicu pengalaman masa lalu seperti kekerasan seksual, atau berbarengan dengan gangguan parafilia lainnya seperti ekshibisionis. Sedangkan neurobiologis berhubungan dengan hormon yang dimiliki oleh seseorang.

Hingga kini, masih belum diketahui secara pasti mengapa seseorang bisa mengalami kondisi ini. Umumnya, kesukaan untuk melakukan crossdressing sudah ada sejak pengidapnya masih anak-anak atau remaja. 

Sebagian besar dari pengidap transvestisme mulanya hanya mencoba-coba, tetapi pada akhirnya menemukan kepuasan saat melakukan cross-dressing. Semakin dewasa, kebiasaan itu masih terus dilakukan, bahkan seakan menjadi keharusan. Uniknya, sebagian besar orang yang melakukan crossdressing tidak menyadari dan tidak mengetahui kenapa rasa senang itu bisa muncul.

Jika bertemu dengan orang dengan perilaku transvestisisme, disarankan agar tidak panik karena bisa saja orang yang mengenakan pakaian layaknya wanita atau pria tersebut memiliki niat jahat yang bisa membahayakan. Segera pergi dari lokasi pelan-pelan dan langsung lapor pada yang berwajib. Karena kita tidak pernah tahu apa motif mereka. 

Bisa saja mereka punya niat kriminal, kalau kita panik teriak-teriak dia bisa kalap yang tadinya cuma mau ambil dompet bisa saja membacok. Berhati-hati dengan lingkungan sekitar sangat perlu diterapkan. Kenali Orangnya jangan menghakimi.