Tiga tahun yang silam, nenek saya meninggal dunia empat bulan setelah ulang tahunnya yang ke-100. Beliau telah mengisi lembaran-lembaran kehidupannya dengan tinta emas yang tak lekang dimakan zaman.

Ia berasal dari keluarga yang terpandang di masanya, dan dalam nadinya mengalir darah Kesultanan Mataram nan biru. Jangan tanya saya bagaimana orang tuanya bisa menjadi pengikut Kristus. Mungkin hasil konspirasi Dr. Snouck Hurgronje dengan kaum Illuminati dari Planet Nibiru.

Ia berkeras berjalan kaki sendiri ke sekolah, karena takut dicap orang kaya yang sombong oleh teman-temannya. Belakangan saya baru tahu kalau ia pernah mengatai tetangganya yang sok ningrat dengan makian Jawa yang tidak pantas saya tuliskan di sini.

Setelah lulus sekolah menengah, ia menjadi pegawai bank dan bisa mengendarai mobil. Kedengaran wajar? Sekedar informasi: tahunnya adalah 1930. Jadi bisa dibayangkan betapa anehnya di masa kolonial ada perempuan Jawa, belum menikah, bekerja di bank dan mengendarai mobil. (Dengan transmisi manual, starter engkol dan karburator.)

Ia menikah dengan kakek saya tak lama kemudian. Dibutuhkan sepuluh anak, penjajahan Kekaisaran Jepang, Proklamasi, perang kemerdekaan, tiga perjanjian dan satu konferensi dengan Kerajaan Belanda sebelum akhirnya ia melahirkan ibu saya.

Meskipun setelah melahirkan anak ia tidak lagi meniti karier, bukan berarti ia tidak bekerja. Ia dengan giat membantu kakek saya yang menjadi sekretaris daerah. Ia ikut mengungsi dan membantu pejuang Republik. Kakek dan Nenek membangun tim yang luar biasa untuk mendidik anak-anak mereka dalam iman dan kasih.

Nenek menghabiskan masa tuanya dengan memasak, mengurus kakek yang sudah buta sampai akhir hayatnya, jalan-jalan bersama anak cucu dan membaca Alkitab. Walaupun memakai gigi palsu, nenek tidak pernah punya diet atau pantangan khusus dalam soal makan. Bisa saja ia makan gulai kambing, asal sayur dan buah selalu tersedia. Ia meninggal karena kesepian setelah teman mengobrolnya, ayah saya, lebih dahulu pulang ke pangkuan Sang Khalik.

Nenek saya – walaupun mungkin tidak pernah mengenal, mengucapkan, apalagi mengkampanyekan istilah itu – adalah seorang feminis. Setidaknya dalam pandangan saya. Saya tidak tahu apakah keputusannya berhenti bekerja dan melahirkan sebelas anak bisa menghapus segala perjuangannya selama seabad.

Ibu saya merombak segala mitos tentang anak perempuan bungsu. Ketika semua kakak perempuannya (yang menurut banyak meme belakangan ini dijamin paling sukses) memilih menjadi ibu rumah tangga, ia memilih perguruan tinggi. Padahal sebagai anak bungsu orang tuanya tidak punya harapan muluk-muluk, sampai-sampai ia hanya disekolahkan di sekolah non-unggulan.

Tetapi kemauan keras dan sifat memberontaknya membuahkan hasil: Ia diterima di fakultas kedokteran salah satu universitas elite di negeri ini. Ia sekarang menjadi doktor di sana. Ia tidak mau menjadi profesor karena jijik pada elite kampus yang melacurkan diri dengan politisi demi gelar tersebut.

Hasratnya ialah mengajar, dan ia memilih menghasilkan dokter-dokter muda yang layak digaji dua digit daripada mengklaim jutaan rupiah itu untuk dirinya sendiri dari belakang meja praktek.

Tentu saja ibu dan juga ayah tidak secuil pun mengabaikan pendidikan kami demi karier. Mereka tidak pernah – dan juga tidak pernah mendidik kami – menghamba pada uang. Keluarga kami berkecukupan, tetapi tidak mewah. Saya kadang-kadang merasa dilematis karena tinggal di lingkungan menengah ke bawah tapi kami punya sebuah mobil, sementara di sekolah saya dikelilingi anak orang kaya yang jumlah mobilnya sama dengan anggota keluarga kami.

Rasanya, dengan ukuran apa pun, ibu saya layak disebut seorang feminis.

Ibu merawat ayah yang harus berjuang melawan penyakit di usia senja sampai akhir hidupnya. Ayah saya orang yang unik, dengan darah seni yang diwariskan kepada anak-anaknya. Ia meninggalkan bisnis kontraktor demi menyalurkan impiannya mengajar anak-anak bangsa untuk bernyanyi, walaupun itu berarti penghasilan ayah juga menjadi lebih kecil dari ibu.

Tunggu dulu... Penghasilan ayah lebih kecil daripada ibu? Apakah berarti uang yang ayah setor pada ibu tidak cukup? Tetapi saya tidak pernah melihat ayah menyetor uang pada ibu, atau sebaliknya ibu menagih uang pada ayah. Kami juga tidak pernah dididik demikian.

Mereka mengajarkan kami untuk memakai uang seperlunya, dan bersenang-senang memang butuh uang, tetapi jangan sampai uang mengatur kesenangan kita. Tentu saja ayah ibu pernah bertengkar, tapi tidak pernah soal uang. Padahal, portofolio finansial antara keduanya sudah cukup menjadi alasan (atau dasar hukum?) bagi ibu untuk menggugat cerai ayah, karena ayah tidak cukup menafkahi ibu.

Mohon koreksi kalau saya salah, tetapi saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa suami yang menahan sebagian penghasilannya, atau bersikap kurang transparan dalam keuangan pribadi, dapat dianggap melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT/domestic violence) terhadap istrinya.

Jadi, kalau ibu saya tidak memberontak dan menggugat cerai ayah karena tidak menafkahi istrinya, berarti segala gelar akademis ibu bisa runtuh karena ia tidak sungguh bebas dari ayah saya? Tidak sepenuhnya dominan atas ayah saya? Bahwa perjuangan dan kerja kerasnya tidak cukup membuktikan bahwa ia adalah seorang feminis?

Istri saya menggantikan peran ayahnya yang meninggal sebelum kami bertemu. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Adik perempuannya ketika itu masih kuliah. Jadi saya bertemu, berkencan, pacaran dan akhirnya menikah dengan istri saya ketika ia sudah lebih berpengalaman sebagai kepala keluarga.

Memang gajinya lebih kecil dari gaji saya, tetapi ia tidak pernah menuntut saya menyerahkan gaji saya padanya. Kami sudah punya pos pengeluaran yang jelas: urusan mayor (rumah, mobil, listrik, sekolah anak)adalah urusan saya; urusan minor (jalan-jalan, makan-makan) adalah tanggung jawabnya.

Tidak ada pembagian jelas soal peran belanja: siapa yang sempat, dia yang belanja dan bayar. Kecuali dia kehabisan uang tunai di dompet, saya tidak pernah memberinya uang belanja.

Jadi, apakah saya suami yang buruk? Apakah saya menyiksa istri saya dengan tidak memberikan gaji saya? Terlebih, saya kalah pengalaman berkeluarga. Apakah dengan demikian hari-hari kebersamaan saya dengan putra saya adalah sia-sia?

Menggendongnya pertama kali, menidurkannya, mengganti popoknya, menyuapi MPASI perdana, mengajari berjalan, membacakan cerita, mengajari naik sepeda; semua itu tak berarti di hadapan perjuangan istri saya melahirkan dan menyusuinya?

Dan karena istri saya memutuskan tetap menjadi pendamping yang setia, maka ia berada dalam penindasan saya yang sebetulnya lebih payah dari dirinya? Yang hanya bisa menghamilinya saja?

Dan mengapa hal-hal demikian malah diributkan oleh banyak wanita kelas menengah atas yang sudah hidup mapan dan bahagia? Mengapa saya sering mendengar itu dari para sosialita? Mengapa mereka menyuarakan itu di media sosial berdampingan dengan foto-foto mereka di luar negeri?

Mengapa saya tidak pernah mendengar itu dari perempuan-perempuan yang harus bekerja keras membanting tulang demi menanggung beban keluarga? Perempuan-perempuan yang benar-benar berjuang karena hilangnya suami, baik secara fisik maupun tanggung jawab?

Mengapa mereka dengan bebas dan merdeka mengumbar betapa ngehek dan payahnya suami, tetapi di saat yang sama di depan umum mereka menindas perempuan lajang dan memaksanya menikah? Lebih lucu lagi, sudah mengutuk suami, mereka juga mengutuk lesbian yang jelas-jelas tidak akan bersuami.

Untuk apa mereka marah karena laki-laki memanfaatkan perempuan sebagai komoditas kekuasaan, kalau mereka turut bermain – dan menguasai – dalam perebutan komoditas itu? Bahkan mereka menjadi hakim atas perempuan lain menggunakan hukum yang dibuat laki-laki: Perhiasanmu bukan Bulgari, tasmu bukan Hermès, arlojimu bukan Patek Philippe, sepatumu bukan Manolo Blahnik, tubuhmu bukan biola Stradivarius.

Di mana mereka ketika banyak perempuan bukan hanya dijadikan komoditas kekuasaan, tetapi benar-benar diperdagangkan entah sebagai aset produksi atau alat pemuas selangkangan? Ternyata mereka sibuk mem-bully dan membela ikon media yang kebetulan perempuan. Di-bully habis jika dianggap amoral, dibela mati-matian ketika ada laki-laki yang terlibat.

Di mana mereka ketika gadis-gadis di bawah umur diperkosa sampai meregang nyawa? Tentu mereka ikut menyuarakan pandangan laki-laki yang menyalahkan pakaian mengumbar aurat yang dikenakan para gadis malang itu. Itu kalau mereka yang bicara, bukan laki-laki.

Di mana mereka ketika Ratu Atut, Artalyta Suryani, Neneng Sri Wahyuni, Andi Nurpati dan Angelina Sondakh mengenakan rompi oranye? Mereka malah dengan bangga membicarakan tas Hermès yang dibawa para pesakitan itu – dan cara mendapatkannya yang tidak halal – sebagai tanda kekuasaan wanita.

Di mana mereka ketika para srikandi kemanusiaan mempertaruhkan nyawa menyelamatkan perempuan-perempuan yang tertindas di sudut kelam dan lorong gelap kehidupan? Mereka berada di atas panggung, di bawah lampu sorot dan di depan mikrofon dunia nyata dan maya. Mereka berpura-pura mewakili perjuangan sesamanya yang diselimuti lumpur kesunyian, tapi tak rela paras halus mereka ternoda debu kesulitan.

Saya berandai-andai, di mana mereka ketika seorang perempuan memimpin misi ke planet Mars atau ke kuadran Delta di ujung Galaksi Bimasakti? Mungkin mereka masih berdebat mengapa pria berasal dari Mars dan wanita berasal dari Venus.

***

Saya ingin menutup dengan sebuah perumpamaan.

Kemarin saya menyaksikan pemandangan miris di minimarket. Dua gadis berhijab berceloteh begitu ramainya di sebelah saya tentang hiruk-pikuk cinta mereka. Seperti keluhan tentang kelakuan laki-laki di sekolah mereka, atau wanita yang menjadi pesaing mereka. Seharusnya cowok itu begini, aku kepingin dia begitu, cewek itu menikam dari belakang, dan seterusnya. Lalu mereka melenggang pergi meninggalkan sampah sisa makanan dan minuman di atas meja.

Kemudian datang gadis penjaga minimarket. Dengan diam ia membereskan sampah yang ditinggalkan kedua akhwat itu, termasuk remah-remah makanan dan bungkus plastik yang mereka jatuhkan di lantai.

Tempat sampah itu jaraknya hanya tiga meter dari tempat mereka duduk.

#LombaEsaiKemanusiaan