“Jika perempuan itu memperlihatkan, aura, fisik dan tubuh ke-elokanya. Maka segala kecantikan itu, —dirampas oleh kekuasaan dan kepentingan laki-laki”.

–Bunk Ham

Dalam feminisme Ama La Yazid. Tidak ada yang bisa menyalahi qudrat. Itu yang saya maksud. Karena itu sifatnya “Quantum, dan Menetap”. Semuanya itu berjalan sesuai kehendak dan hukum alam.

Cuman, yang patut kita permasalahkan disini adalah ketika perempuan itu merubah konstruksi fisik dan bak tubuhnya. Dengan tujuan supaya perempuan diperlihatakan sama dengan laki-laki. Maka itu saya sebut sebagai antek “TRANSJENDER”. Dan itu masuk dalam kategori LGBT. Bukan “FEMINISME”.

Sebab, feminisme itu bagi kita adalah reaksi sikap dan tindakan keperempuanan yang hidup di dalam penjajahan, dan penindasan oleh laki-laki. Untuk kemudian harus diperlakukan setara dengan perempuan. Baik secara fisik maupun biologis. Itu poin pertama.

Kedua, saya ingin menegaskan begini; bahwa LGBT itu adalah efektifitas tubuh dan kondisi sensifitas perempuan dan laki-laki yang merangsang terhadap obyektivitas materi.

Artinya jika perempuan bereaksi terhadap laki-laki. Karena ingin memenuhi hasrat biologisnya. Maka laki-laki itu akan memenuhinya. Dan begitu–pun laki-laki. Jika ingin memuaskan alibi-Nya. Maka perempuan-lah yang harus memenuhinya.

Dalam “Fakta” pandangan itu dipakai oleh feminisme sebagai bentuk “Patriarki dan Hirarki”, antara kaum perempuan dan laki-laki. Yang di bawah daripada tekanan kemerdekaan, kebebasan dan kemanusiaan.

Sebab selama hidup, dan pergulatan masa perempuan. Laki-laki itu di anggap busuk dan kotor. Karena proses penciptaan berasal dari lumpuran busuk dan tanah liat.

Di bandingkan dengan kaum perempuan itu lebih suci dan bersih. Karena proses produksi dan evolusi-Nya terbentuk dari tulang. Yang dimana dalam tulang itu terdapat kalsium, protein, vitamin dan zat besi.

Pertanyaan saya kemudian, jika perempuan itu dianggap lebih suci—fitrah daripada laki-laki. Kenapa di dalam Kitab Jeremy bahwa perempuan ditaklut sebagai penganut dosa asal? Dan kenapa tidak harus laki-laki yang menjadi penganut dosa pewaris? Sebab dia yang lebih kotor daripada wanita.

Kenapa?

Karena bagi kita, secara exsplisit bahwa laki-laki itu menguasai fisik dan derajat kewanitaan. Maka bagi Islam di perbolehkan laki-laki itu menjadi pemimpin bagi kaum perempuan.

Lalu, apakah boleh dalam feminisme di pimpin oleh laki-laki. Tidak boleh!! Kenapa tidak harus perempuan?

Bagi saya; Jika perempuan itu mampu memperlakukan kesetaraan dan keadilan yang sama terhadap laki-laki. Tidak ada yang tidak mungkin di “Kosmis” ini. Semunya itu berdasarkan kehendak alam dan hukum kudrat.

Kan—, tidak ada yang bisa mengikat kebebasan dan kemerdekaan—hak prerogatif keperempuanan. Kecuali qudrat dan hukum alam yang berlaku.

Dalam agama juga ditegaskan bahwa perempuan itu harus dilindungi, dihormati, diyalani, dipayungi, dan dimerdekakan hak-hak-Nya oleh laki-laki. Baik dalam hal ekonomi, politik, pendidikan, lingkungan, maupun agama.

***

Dan ketiga, saya ingin mengatakan begini; bahwa agama itu terdapat pada konsesus akidah dan hukum alam. —Dan itu sifatnya subjektifitas. Dia terpaku pada hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Berbeda dengan hukum alam. Itu relativitas terhadap kondisi dan situasi lingkungan.

Di jamam kita mislanya. Sudah masuk revolusi IT/ artificial intelligence (AT). Semuanya manusia bergerak sesuai dengan evolusi dan kondisi kosmis Bumi.

Antara perempuan, laki-laki dan alam itu bergantung pada hukum dan kudrat yang sama. Mereka sejajar, mereka setara dan mereka semuanya sama. Dan itu saya katakan sebagai “The High of Feminism”.

Kalau; Ama La Yazid mengistilahkan lagi feminisme itu sebagai wilayah “Konstruksi fisik”. Maka secara konsesus —Feminisme itu jelas-jelas menyalahi qudrat.

Sebab jika kalau seorang perempuan merubah bak tubuh dan kondisi fisiknya seperti laki-laki. Itu jelas sebagai produktifitas Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender. Atau yang kerap dan dominan kita apik itu adalah LGBT. Berbeda lagi dengan soal femisnisme.

Karena sejauh pemahaman kita, feminisme itu adalah hak prerogatif keperempuanan yang ingin diperlakukan setara, bebas dan sama dengan laki-laki. Dengan maksud untuk “Membebaskan Dan Memerdekakan” kaum perempuan itu dari segala penindasan dan perbudakan laki-laki. Baik dalam soal perampasan ekonomi, pendidikan, politik maupun agama, dan hingga perasaan. Seperti yang saya sajikan tadi.

***

Maka Kenapa saya mengatakan bahwa wanita itu lebih banyak hidup dalam dunia “Realita” daripada dunia “Imajinasi”?

Karena bagi mereka feminisme itu; lebih baik menelanjangi kenyataan daripada menghidupkan perasaan  (Moral Force). Sebab kadar dan kententuan agama berada di wilayah konsesus akidah dan qudrat. Bukan takdir.

Kalau kita memakai istilah feminisme berada di konsesus akidah, misalnya. Maka seluruh hak prerogatif keperempuanan itu tidak bisa di rampas oleh laki-laki. Karena itu melekat dan mengikat pada tensi keyakinan.

Dan Pertanyaan saya; apakah perempuan bisa menentukan dan menetapkan nasib sendiri tanpa ketergantungan dari laki-laki?

Jawaban saya; bisa!!. Sebab ”The High of feminism” itu adalah produktifitas laki-laki. Jadi menurut hemat saya. Tidak ada yang salah dengan kaum perempuan.