3 tahun lalu · 18669 view · 4 min baca menit baca · Politik women.jpg
Foto: Wikipedia

Feminisme dan Solidaritas Maskulin

Beberapa minggu lalu, saat seluruh dunia mengawali tahun baru dengan pesta, champagne dan musik, di Cologne, Jerman, ratusan perempuan malah mengantri di kantor polisi untuk melaporkan kasus yang sama: korban pelecehan seksual.

Peristiwa itu ternyata terjadi di beberapa kota Jerman lainnya: Berlin, Hamburg, Frankfurt, dan Stuttgart. Kesaksian para korban mengungkapkan penjelasan yang mirip, yakni aktor pelakunya adalah para pria dari Timur-Tengah dan Afrika Utara atau yang umumnya dikenal sebagai “orang Islam”.

Cara mereka melakukan pelecehan mirip dengan modus yang biasa terjadi di beberapa negara Timur-Tengah, yakni “taharrush gamea” atau pelecehan secara kolektif. Cara kerjanya, ratusan pria melingkari seorang korban, lalu setelah selesai, mereka berpencar untuk mengambil korban lain, dan begitu seterusnya.

Pada malam itu, ada 827 wanita melaporkan diri ke kantor polisi. Yang tak berani melaporkan juga cukup banyak jumlahnya.

Saya menyebut perilaku para pria agresif itu “solidaritas maskulin,” yakni kesetiakawanan kaum laki-laki untuk menaklukkan lawan jenisnya, yakni kaum perempuan. Solidaritas maskulin tak hanya menjustifikasi perilaku yang tidak benar, mensahkan hal yang tidak wajar, dan membiasakan hal yang seharusnya mengkhawatirkan, tapi juga bisa menciptakan hal yang lebih buruk lagi, seperti menciptakan situasi di mana korban menjadi merasa bersalah.

Simaklah pernyataan Sami Abu-Yusuf, tokoh agama dan Imam di Cologne, sesaat setelah terjadi peristiwa pelecehan massal itu. Menurutnya “Mereka [para perempuan] itu seenaknya berjalan tanpa busana yang layak dan mereka juga memakai parfum. Karena itu, apa yang menimpa mereka, wajar terjadi. Mereka yang mencari masalah.”

#TepokJidatSeribuKaliSambilElusDada (jangan-jangan bagian “ElusDada” ini disalahpahami pula oleh sang Imam).

Kejanggalan dalam peraturan beragama sangat mendukung solidaritas maskulin. Di banyak negara Islam, korban pemerkosaan diwajibkan mempunyai saksi mata sebanyak empat orang dan semuanya harus laki-laki. Jika korban tidak mempunyai saksi yang sah, maka dia akan dipersalahkan dan hukuman akan menantinya.


Bukan pertama kali saya dengar pemikiran seperti itu. Saya kira, banyak orang yang punya pandangan semacam itu. Tetapi, banyak tidak musti berarti benar.

Yang saya sayangkan adalah absennya para feminis. Hanya sedikit kaum perempuan yang mengangkat suara mereka dalam kasus pelecehan massal itu. Hal menjengkelkan justru diperlihatkan oleh Henriette Reker, Walikota Cologne, yang juga seorang perempuan. Dia memberikan komentar sangat politis yang membuat banyak orang marah.

Elisabeth Badinter, seorang feminist dan filsuf Perancis kontemporer, menyayangkan fenomena Neo-Feminist yang kerap lebih mendahulukan pentingnya menjadi politically correct ketimbang mengambil sikap yang secara moral benar.

Peristiwa yang terjadi di Cologne melibatkan banyak elemen rumit: kelompok etnik tertentu, imigran peminta suaka dan juga agama. Unsur-unsur ini membuat politikus dan orang Jerman pada umumnya merasa gamang dan bersikap hati-hati untuk berkomentar. Mereka khawatir dianggap rasis atau --lebih parah lagi-- Islamofobis.

Leitmotiv feminisme adalah menjaga dan membela hak-hak perempuan. Mengapa ada feminisme? Karena masih ada ketidakadilan terhadap perempuan. Menjadi feminis bukanlah hal yang mudah, karena kita masih tinggal dalam lingkungan patriarkal.

Mempunyai pemimpin perempuan di satu negara atau satu perusahaan tidak serta-merta memberi jaminan bahwa nilai-nilai feminisme akan dijunjung tinggi. Seorang feminis bukanlah wanita yang ingin mempunyai semua yang dimiliki oleh pria. Tetapi, feminis adalah perempuan yang mencari keseimbangan dan keadilan.

Feminisme seringkali ditakutkan oleh laki-laki karena gagasan ini memberikan kebebasan kepada perempuan untuk bisa protes, berpikir, berpakaian, dan bertindak sendiri tanpa harus mendapatkan validasi dari laki-laki.

Pertanyaan saya, apakah mungkin kejadian di Cologne itu merupakan awal dari cara-cara baru melumpuhkan peradaban Eropa, khususnya jika kita melihat bagaimana perempuan Eropa yang menjadi korban?

Dalam bukunya, Hymen and Headscarves, Mona Eltahawy menerangkan posisi perempuan dalam struktur budaya Timur-Tengah. Menurut wartawan dan juga aktivis Mesir itu, hak-hak kaum perempuan ditentukan oleh permerintah dan parlemen yang komposisinya --bukan sulap bukan sihir-- 100% laki-laki.

Eltahawy juga menjelaskan, solidaritas maskulin sangat mendarah daging dalam tubuh kaum laki-laki Arab. Begitu kentalnya sehingga kaum perempuan pun merasa harus ikut solider. Ada semacam peraturan tak tertulis yang mengharuskan perempuan selalu tunduk pada laki-laki.

Mona Eltahawy sendiri adalah salah satu korban pelecehan seksual di Tahrir Square, ketika perayaan Revolusi Mesir terjadi. Dia menjadi korban “taharrush gamae”. Ketika Eltahawy ke rumah sakit, para suster menghimbaunya agar jangan lapor ke polisi, karena bukan saja akan sia-sia, tapi hal itu juga bisa merusak image Mesir yang sedang disorot dunia.

Melupakan diri sendiri demi kebaikan laki-laki dan kepentingan bangsa. Kelihatannya bersahaja sekali. Heroik malah! Tetapi, jelas, heroisme semacam ini keliru.

Mengapa banyak perempuan ingin melihat perempuan lain sengsara demi dan atas nama kultur atau tradisi? Mengapa seorang ibu tega membawa anak perempuannya untuk disunat seperti terjadi di Somalia? Atau mengapa seorang ibu membiarkan anaknya yang belum remaja dinikahi oleh pria 40-50 tahunan seperti yang terjadi di Yaman? Atau juga mengapa para ibu benci dengan perempuan yang memilih bersalin dengan cara C-Section?

Solidaritas feminin bukan berarti satu orang sengsara maka semuanya harus ikut sengsara. Tujuan feminisme adalah kemajuan dan keadilan untuk kehidupan perempuan, siapapun dan di manapun mereka berada.


Perdana mentri Kanada, Justin Trudeau, baru-baru ini menegaskan bahwa dirinya adalah seorang feminis dan mendidik dua anak laki-lakinya tentang respek pada perempuan.

Pendidikan memang kunci dari semua kesalahpahaman. Peristiwa di Cologne sudah semestinya memberi pelajaran dan sekaligus tantangan kepada negara soal perlunya pengetahuan tentang kehidupan sosial di negara yang berkultur beda.

Simone de Beauvoir mengingatkan kita untuk selalu waspada, karena krisis politik, ekonomik, atau agama, bisa menjadi alasan atas hilangnya hak-hak perempuan.

“La femme est l’avenir de l’homme.”

Artikel Terkait