3 bulan lalu · 954 view · 4 menit baca · Gaya Hidup 35121_97374.jpg
@habibthink 26-Desember-2018 on Twitter.com

Felix Siauw, GoPro5 Yang Mati Syahid Dan Teori Nasakh-Mansukh

Mengambil Pelajaran dan Mengkritisi Felix Siauw

"Sebaik-baik selfie adalah introspeksi diri". (Felix Siauw)

Ungkapan itu terdigitalkan di laman berita tribbunnews.com sejak 2015 silam. Felix saat itu telah mengeluarkan pernyataan bahwa "selfie merupakan gangguan jiwa yang berbahaya", kata dia bahwa pendapat itu bersumberkan dari penelitian-penelitian psikologi.

Namun sebenarnya tak bisa digeneralisir begitu saja, karena yang dimaksudkan adalah bahwa indikasi gangguan mental itu terjadi bukan pada orang yang 'doyan' selfie, melainkan orang yang suka dan keseringan selfie.

Apa yang disampaikan Felix tersebut memang hampir saja menjadi koheren, hanya kurang sedikit saja. Generalisir sebuah masalah memang kerap dilakukan orang yang kurang teliti. Saya pun mengakui pernah melakukannya. Mungkin pembaca juga pernah?

Ketelitian dalam menghukumi sebuah kasus, apalagi problematika keagamaan, dihargai murah oleh ustadz-ustadz baru dewasa ini. Berbeda jauh, bahwa para ulama sesungguhnya enggan mengakui diri sebagai mujtahid meski memiliki kematangan ilmu yang hampir setara dengan Imam-Imam ahli ijtihad jaman dahulu, yakni hafal Al-Qur'an dan banyak riwayat hadits sepaket dengan metodologi ilmiah mengupas sumber agama Islam tersebut.

Kembali ke bahasan utama.

Felix dengan segenap kelebihan dan kekurangannya tak pelak telah mendapat tempat di hati ribuan Muslim Indonesia. Pendapat-pendapatnya banyak diikuti kaula muda yang baru belajar Islam. Tidak ada yang salah dengan belajar agama.

Hanya saja menjadi menarik membicarakan dia, karena beberapa hari yang lalu, dia memosting hasil selfie dirinya di laman Facebook pribadinya.

Di foto selfie-nya yang dia unggah, ditambahkan pula caption : "Foto terakhir sebelum GoPro5 saya syahid di umbul ponggok, entah gimana seal-nya gagal menahan air yang masuk pas lagi foto di mata airnya @umbul_ponggok". Begitulah gerangan secuplikan kehidupan seorang Felix Siauw yang dipanggil ustadz.

Yang menarik dari unggahan tersebut adalah bahwa menurut Felix kamera GoPro5 miliknya telah syahid, mati syahid maksudnya. 

Apa itu mati syahid ? Apakah elektronik kalau rusak dan mati bisa dikatakan syahid?

Pengertian Syahid 

Untuk membahas istilah syahid perlu kita klasifikasi menjadi dua bahasan; secara bahasa dan secara syar'i. 

Secara bahasa syahid berasal dari kata syahida (شهد), yang artinya menyaksikan, karena orang yang mati secara syahid akan disaksikan oleh Allah dan Rasulullah sebagai ahli sorga. Itu secara bahasa. Sementara secara istilah syar'i yang disebut syahid adalah orang yang wafat di medan pertempuran karena membela kalimat Allah (bukan kalaimat tauhid), dan bukan membela kepentingan politik maupun hawa nafsu.

Syahid sendiri masih terklasifikasi menjadi tiga; 1) syahid dunia dan akhirat merujuk pada pengertian pokok seperti di atas; 2) syahid dunia saja, seperti orang berjuang dijalan Allah namun niatnya mencari materi duniawi; 3) syahid akhirat saja, seperti korban bencana atau orang yang mati tenggelam. Lihat di Hasyiyah Al-Baijuri ala Al-Fath Al-Qarib Al-Mujib.

Untuk terminologi syahid di atas tentunya berlaku bagi manusia sebagai obyek hukum Islam, sementara benda mati atau hewan tidak. Dengan kata lain, kamera GoPro5 Felix yang mati tenggelam di Umbul Ponggok itu tidak bisa dikatakan mati syahid secara syar'i. 

Meski demikian secara bahasa bisa dikatakan GoPronya Felix syahid, karena banyak yang menyaksikan bahwa kamera itu mati, berdasarkan keterangan Felix sendiri. Dan bisa dipastikan yang dimaksud Felix adalah syahid secara bahasa ini. Caption di medsos memang kerap dilebih-lebihkan. Untuk tujuan menghibur, itu tak jadi masalah.

Nasakh-Mansukh

Populer dengan sebutan 'revisi' dalam metodologi menggali hukum Islam, Nasakh-Mansukh menjadi salah satu teori fundamental dalam perkembangan ajaran Islam. Sejak masa awal ketika Al-Qur'an belum purna diturunkan, Nasakh-Mansukh sudah diwacanakan melalui Q.S Al-Baqarah:106. 

As-Suyuthi dalam Tafsir Al-Jalalain menafsirkan bahwa ayat ini turun orang-orang kafir mengejek Nabi Muhammad yang pernah memerintahkan barang sesuatu berupa ajaran agama kepada sahabatnya, namun dikemudian hari melarangnya. Orang kafir menganggap itu sebagai ke-plinplan-an. 

Kemudian diturunkanlah ayat tentang revisi ajaran itu Tujuan adanya revisi adalah untuk menaikkan tahapan dakwah terhadap masyarakat Arab pada waktu itu. 

Masyarakat diajak ke level yang lebih tinggi. Sebagai contoh, dahulu di masa awal Islam turun, minuman keras tidak langsung diharamkan. Melalui An-Nisa':43 Allah melarang sembahyang dalam keadaan mabuk.

Diceritakan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lainnya, dari sahabat Ali R.A, bahwa pernah suatu ketika Ali dan sahabat lain diundang oleh Abdurrahman bin Auf untuk makan-makan dan minum alkohol (khomr). Mereka pun berada di bawah pengaruh alkohol, teler. Lalu datanglah waktu sholat dan Ali dijadikan Imam sholat. 

Sial menimpa Ali ketika mengimami. Ali membaca surat Al-Kafirun yang ayat-ayatnya banyak kesamaan satu sama lain. Ali pun terpleset lidahnya "qul yaa ayyuhal kaafiruun (1) laa a'budu maa ta'buduun (2)" selanjutnya Ali salah ucap "wa nahnu na'budu maa ta'buduun" yang artinya "dan kami pun juga menyembah apa yang kalian (orang kafir) sembah". 

Setelah kejadian itu, turunlah perintah "janganlah kalian mendekati sholat dalam keadaan mabuk" (Q.S An-Nisa':43).

Memang seperti itu, dulu mabuk-mabukan dibolehkan, asalkan jangan mabuk ketika sholat. Bisa kacau bacaanya. Namun di kemudian hari, tatkala umat Islam sudah siap meninggalkan minuman keras, turunlah ayat yang mengharamkan khomr, yakni Al-Maidah:90.

Begitulah sekilas mengenai kesejarahan Nasakh-Mansukh, di mana konsep ajaran agama Islam bisa berubah menyesuaikan dengan manusianya. Hingga pada tahap berikutya, Nasakh-Mansukh diaplikasikan sebagai teori di mana jika ada ayat-ayat Al-Qur'an yang "terlihat bertentangan" satu sama lain maka ayat yang belakangan turun merevisi ayat yang dahulu turun.

Teori ini lalu dikembangkan lagi dalam aspek hukum Islam di mana perbedaan situasi-kondisi dan lingkungan dapat memengaruhi perubahan (nasakh) hukum. Dengan kata lain Islam sebenarnya tidak kaku seperti yang dibayangkan oleh kelompok garis keras.

Akhirnya, bahwa Felix Siauw pernah berpendapat bahwa selfie dapat menggiring seseorang kepada ujub, riya' dan takabbur sehingga, jika demikian, hukum melakukannya adalah haram dan orang yang selfie terkena gangguan kejiwaan, itu benar adanya. Lalu kemudian Felix mengunggah gambar selfie dirinya sendiri di laman Facebook miliknya. Maka dapat kita analisa perilaku Felix Siauw itu dengan kacamata Nasakh-Mansukh. Artinya, bahwa pendapat Felix yang lama tentang selfie, dinasakh (direvisi) oleh perilaku mengunggah foto selfie Felix dengan GoPro5nya itu.

Untuk saudara Felix, mari kita sama-sama introspeksi, karena itu adalah sebaik-baiknya selfie, yaa akhii. Maaf ya... Sekian Wassalaamu'alaikum.