Jakarta, Hari Jum,at (28/5/2021) saya mengikuti vaksinasi ke-1 yang dijadwalkan oleh pihak kampus swasta yang berada di Tangerang Selatan. Di gedung Stikes lantai 8, bersama rekan dosen dan keluarganya juga yang ikut partisipasi vaksinasi.

Sesuai dengan himbaun dan kebijakan dari Rektor dan ketua yayasan untuk ikut vaksinasi. Selain program Pemerintah, pihak manajemen kampus melakukan vaksinasi untuk mempersiapkan menghadapi pembelajaran tatap muka, itupun jika kondisi Covid-19 sudah mulai menurun.

Sebelum di vaksin saya sempat telepon teman juga, kebetulan satu profesi sebagai dosen. "Bercerita tentang kondisi orang lain yang sudah di vaksin baik mendengar dari kerabat atau saudara" maupun melihat dari berita, yang sempat membuat masyarakat ketakutan untuk di vaksin".
***
Sebenarnya tidak terjadi apa-apa dan tidak terjadi masalah yang signifikan, sesuai yang terdapat dalam berita atau informasi di media sosial tersebut. Walaupun ada itu sebagian kecil yang mengalami dampak negatif.

Pesan dari tenaga kesehatan waktu di vaksin ke-1 "masyarakat harus jujur dengan penyakit bawaan, harus benar-benar rilek dan santai, tidak mengidap penyakit darah tinggi, dan catatan lainnya usia dibatasi, kondisi ibu hamil, dan lainnya". Ini sebelum melaksanakan vaksin, harus memperhatikan pesan dari tenaga kesehatan tersebut. 
***
Hal Ini menjadi doktrin kepada masyarakat bahwa vaksin tidak berbahaya namun memang ada efek samping yang membuat badan terasa lemas dan pegal, itu juga tergantung kondisi kesehatan sebelum pelaksanaan vaksin.

Lalu, selanjutnya bersama rekan Dosen tetap semangat dan optimis, bahwa vaksin tidak terjadi apa-apa serta tetap harus diikuti karena ini bagian kewajiban untuk persiapan pembelajaran tatap muka dengan mempertimbangkan situasi Covid-19.

Memang sih, harus membangun sugesti bahwa pikiran tetap positif, karena pada dasarnya jika pikiran positif semua kegiatan akan mengikuti hal yang baik dan hasilnya tentu akan memuaskan bagi diri kita semua.

Kemudian hari Kamis (24/6/2021), mengikuti jadwal vaksin ke-2 di tempat yang sama. Di gedung Stikes lantai 8. Kebetulan dari tempat kerja menuju lokasi dalam kondisi macet, setelah di cek tensi oleh tenaga kesehatan "tensi saya sedikit tinggi". 
***
Kenapa demikian, mungkin faktor yang disebabkan perjalanan menuju lokasi sekitar satu jam dengan menggunakan kendaraan roda 4. Setelah 3 kali dilakukan cek tensi alhamdulillh tensi sedikit menurun serta diizinkan untuk mengikuti vaksinasi. 

Efek Vaksinasi Pertama :

Pada saat observasi administrasi serta identifikasi pertanyaan tentang diri saya, semua berjalan dengan seperti biasanya tidak ada keluhan baik kondisi fisik, kesehatan, tensi normal, dan pertanyaan dari tenaga vaksinasi normal-normal saja.
***
Setelah menunggu antrian sekitar 10 menit, lalu saya di panggil oleh tenaga kesehatan "di lakukan pengecekan tensi, ditanya riwayat penyakit, kondisi kesehatan saat ini, dan divaksinasi menggunakan sinovac. Saat vaksinasi sangat tidak terasa menggunakan jarum suntik, saya tanya kepada tenaga kesehatan, kok…jarum suntiknya tidak terasa ya bu.
***
Lalu dijawab kembali tanaga kesehatan, memang begitu sih pak kalau vaksin pertama, tidak terasa menggunakan jarum suntik…ohh gitu bu, baik terima kasih atas informasinya. Walaupun sebenarnya jarum suntiknya ada namun kecil.

Setelah tiba di rumah, pada esok harinya bahu terasa pegal dan sakit di bagian bahu sebelah kiri selama dua hari. Namun semua aktivitas masih bisa dilaksanakan, tidak menganggu apa yang menjadi kegiagan rutininas baik bekerja WFH (Work From Home), WFO (Work From Office) maupun WFS (Work From Site atau area).

Efek Vaksinasi Kedua :

Vaksinasi kedua diawal sudah mengalami kondisi tensi agak tinggi. Sebab vaksinasinya berangkat dari tempat kerja, sehingga terkesan terburu-buru untuk mengikuti vaksinasi tersebut. Vaksinasi kedua tidak begitu ramai, sehingga antri tidak terlalu lama dan cepat selesai.

Tiga kali dilakukan pengecekan tensi oleh tenaga kesehatan masih dalam keadaan tensi tinggi, namun yang ketiga sudah sedikit menurun dibandingkan tensi yang pertama dan yang kedua. Hal tersebut menjadi syarat utama untuk melaksanakan vaksin diluar itu ada penyakit bawaan dari setiap individu.
***
Setelah divaksin baru terasa sakit jarum suntik menusuk ke bagian bahu kiri. Selama proses menunggu dua jam kondisi berjalan baik-baik saja dan tidak ada kendala, karena waktu itu sedang berbincang dengan rekan dosen di sekitar Pamulang.

Kemudian setibanya di rumah badan terasa lemas dan langsung tidur dari jam 14.00 wib sampai dengan jam 17.00 wib. Tidur terasa pules karena kondisi pada lemas dan sudah mulai terasa pegal. Ba,dah magrib saya langsung tidur karena badan semakin lemas dan bawaannya ingin tidur saja, istri juga kaget.
***
Esok harinya, bangun pagi sedikit kesiangan karena kondisi badan lemas dan lesunya semakin meningkat. Lalu istri bercerita bahwa benar adanya setelah vaksinasi kedua, badan terasa demam dan meriang karena "kondisi tentangga mengalami hal yang sama pasca vaksinasi kedua".
***
Lanjut siang harinya, saya memgambil selimut karena badan terasa mengigil dingin dan semakin lemas. "Istri" pergi ke supermarket untuk membelikan vitamin dan obat. Setelag minum obat sore harinya kondisi badan kembali pulih namun belum 100 %, masih sedikit lemas dan bawaannya ingin tidur.

Siapapun yang akan di vaksinasi agar mempersiapkan vitamin, sebagai cadangan untuk kekuatan kesehatan "tidak perlu takut divaksinasi" mari proteksk diri dengan protokol kesehatan dan tetap di vaksinasi.

Penulis : Noto Susanto