Fazlur Rahman dilahirkan pada tanggal 21 September 1919 di Hazara (bagian benua India), letaknya di sebelah barat laut Pakistan. Pada tanggal 25 Juli di tahun 1988 beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Amerika Serikat yang sebelumya di rawat di rumah sakit Chicago. 

Mazhab yang dianut oleh keluarga Fazlur Rahman adalah mazhab Hanafi yang mana mazhab ini mempunyai warna rasionalitas yang tinggi dibandingkan dengan mazhab sunni yang lain.

Maulana Sahab al-Din merupakan ayah Fazlur Rahman yang dikenal sebagai seseorang yang sholeh dengan lulusan Deoband. Karena ayahnya mendidik Fazlur Rahman dengan sangat baik, pada saat usianya mencapai sepuluh tahun telah mampu menghafal al-Qur’an.  Dan dari ibunya di berikan bekal dalam pembelajaran tentang nilai-nilai kebenaran, cinta, kasih sayang dan kesetiaan. Sehingga dalam diri Fazlur Rahman di penuhi ajaran dari kedua orang tuanya.

Dalam pendidikan formalnya di tahun 1933 Fazlur Rahman menimba ilmu ke Lahore serta berada di sekolah modern. Fazlur Rahman mendapat gelar B.A pada keilmuan bahasa Arab setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Punjab. 

Kecintaannya terhadap ilmu beliau pun melanjutkan hingga ke jenjang S2 DAN S3, studi S2 beliau mengambil bidang studi dan tempat yang sama dengan gelar M.A. Sedangkan studi S3 berbeda dari tempat pendidikan sebelumnya yaitu di Universitas Oxford pada tahun 1946.

Perpindahan universitas yang dilakukan oleh Fazlur Rahman bukan tanpa alasan. Menurutnya kualitas pendidikan yang ada di India pada saat itu berada pada kualitas yang kurang baik. 

Sehingga Rahman membuat  untuk melakukan studi di Barat dengan keberanian diri karena mengandung risiko yang besar. Pasalnya ketika seorang Muslim mempelajari ilmu keislaman di Barat dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim.

Setelah kelulusan studinya di Universitas Oxford, Rahman tidak berpindah ke Pakistan melainkan bersinggah terlebih dahulu di Barat dengan menjalani profesi sebagai dosen Bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Inggris di tahun 1950 hingga 1958. Keberadaannya di Durham ini turut menjadi jejak dari karya pemikirannya, yaitu Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodocy. Akan tetapi karya ini terbit pada saat perpindahannya di McGill University Kanada.

Kembalinya Rahman di Pakistan pada tahun sekitar 1960 membawanya pada pengangkatan sebagai seorang staf senior untuk Pusat Lembaga Riset Islam. 

Dan juga diberi amanah agar menjadi bagian dari Dewan Penasihat Ideologi Islam yakni, sebuah lembaga pembuat kebijakan tertinggi di Pakistan, serta menjadi pelopor untuk menerbitkan Jurnal of Islamic Studies sebagai wadah terhadap pemikirannya yaitu, Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodocy. Akan tetapi karya ini terbit pada saat perpindahannya di McGill University Kanada.

Akan tetapi dengan pemikiran Rahman yang kritis dan berani terhadap studi Islam telah mengundang adanya perlawanan oleh ulama tradisional. Bahkan mereka meminta Rahman agar lengser dari posisi yang dipegangnya saat itu. 

Hal ini mereka lakukan karena Rahman dinilai pemikirannya teracuni oleh pemikiran Barat. Setelah menyetujui pelengseran jabatannya, beliau pun berpindah ke Barat dengan melamar pekerjaan sebagai pengajar di Universitas.

Fazlur Rahman  adalah sosok ilmuwan Muslim yang turut menjadi pioner khususnya dalam penggunaan pendekatan hermeneutika untuk membaca al-Qur’an secara kontekstual. Disisi lain, Fazlur Rahman juga dikenal dengan pendekatan historis-sosiologis dalam memahami hadis.

Menurut Rahman lahirnya hadis ditengarai sejak 680-700 M. Yang mana terdiri dari dua bagian yaitu, teks dan isnad. Ketika Nabi Muhammad masih hidup hadis menjadi topik utama oleh masyarakat dalam generasi Nabi. 

Akan tetapi setelah Rasulullah wafat perbincangan mengenai hadis menjadi hal yang rawan semenjak munculnya suatu generasi baru yang menanyakan tentang suatu hal yang berhubungan dengan Nabi.  

Berbicara mengenai hadis tentu tidak dapat dilepaskan dengan momentum terdahulu pada saat pengumpulan hadis yang terjadi ketikan Nabi wafat. Yang mana sebelum Nabi wafat, para sahabat sangat mudah dalam mencerna kandungan dari hadis. Hal ini disebabkan karena hadis adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi.  Serta ketika Nabi masih hidup, beliau sekaligus menjadi penjelas dan penafsir hadis.

Proses pengkodifikasian hadis berjalan hingga era Tabi’in pada abad ke 5 sampai abad ke 6. Memasuki abad ke 7 dan seterusnya terdapat berbagai pendekatan baru dalam memahami hadis yang berkembang secara cepat. Pada abad modern beragam pendekatan mencapai puncak antara lain; historis, sosiologis, antropologis, bahasa, dan lain sebagainya.

Hadis sebagai sumber kedua setelah al-Qur’an yang berfungsi sebagai tolak ukur terhadap baik-buruknya suatu perilaku. Pada tahap mengimplementasikan hadis yang dilakukan oleh  para Sahabat dan Tabi’in melahirkan berbagai penafsiran terhadap hadis.

Kegagalam pemahaman penulis era modern mengatakan bahwa sunnah bukan suatu praktik yang dilakukan oleh Nabi, akan tetapi praktik yang dilakukan oleh Sahabat yang disebabkan oleh keraguan terhadap arti sunnah. Disisi lain, juga disebabkan oelh anggapan tradisi atau sunnah berjalan dalam area informal dengan penyampian berbentuk non-verbal.

Ketidaksetujuan Rahman terhadap gagasan para orientalis terhadap Sunnah dan Hadis yang mengatakan bahwa sunnah merupakan hasil produk umat Islam pada awal abad. Rahman menanggapinya bahwa konsep yang ada pada sunnah telah ada dalam diri umat Muslim awal khususnya di zaman Nabi.

Pendapat Rahman berdasar pada pernyataan al-Qur’an yang berkata bahwa yang terdapat dalam diri Nabi Muhammad mengandung sebuah teladan yang baik dan layak untuk diikuti uswah hasanah. Secara tegas Rahman mengemukakan bahwa konsep sunnah Nabi adalah konsep yang shahih dan operatif semenjak masa awal Islam dan terus berhubungan sepanjang masa.

Menurut Rahman terdapat empat syarat dalam melakukan pendekatan secara historis-sosiologis. Pertama, seorang muhaddis mampu untuk memahami makna teks dari Nabi. Kedua, seorang muhaddis harus mampu memahami latar belakang sosio historisnya atau dengan asbabun al-wurud

Ketiga, melakukan pemahaman terhadap al-Qur’an untuk memahami hadis. Juga kriteria dalam memahami hadis terdapat dua aspek yaitu, al-Qur’an dan Sejarah. Keempat, dalam merumuskan hukum disertai prinsip moral sehingga menjadikan hukum tersebut dapat dilakukan sesuai latar sosiologis.

Pendefinisian sunnah perspektif Fazlur Rahman adalah sebagai suatu yang ideal untuk dijadikan tuntunan oleh para generasi muslim terdahulu yang merujuk pada perilaku Nabi yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman serta dalam penafsirannya bersifat kontinu dan progresif yang disesuaikan dengan keadaannya.

Pengertian tersebut telah menegaskan bahwa Sunnah adalah living tradition yang dilakukan dengan ijma’ dan ijtihad. Sehingga Sunnah menjadi sebuah tradisi berbentuk praktikal sedangkan hadis menjadi tradisi berbentuk verbal.

Daftar Rujukan:

Norfauzan, Moh. 2021. Genealogi Pendekatan Historis-Sosiologis Fazlur Rahman dalam Memahami Hadis. Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin. Vol. 1.

Rahman, Marita Lailia. 2015. Fazlur Rahman: Pemikiran Tentang Hadis dan Sunnah. Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman.  Vol, 26. No, 2.